Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Dentingan sendok dan garpu memenuhi ruang makan di kediaman Gaffi berserta keluarga. Anak tunggal dari pasangan Arkana dan Serrin itu tengah menyantap sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.
Gaffi mempercepat aktivitas sarapannya karena tak punya banyak waktu. Pagi ini dia harus ke Kantor.
Sebelum ke Kantor, dia menyempatkan lari pagi di sekitar komplek. Itupun tidak lama karena diburu waktu. Biasa dia lari di sore hari, namun mengingat jadwal yang cukup padat membuat Gaffi lari pagi saja hari ini.
Sama seperti Gaffi, Arkana juga sibuk. Siang nanti dia harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Maka dari itu mereka selalu menyempatkan untuk sarapan atau makan bersama.
"Ayah dengar kamu punya teman perempuan, Gaf," celetuk Arkana membuat Gaffi menatap sang Ayah.
"Hanya teman, Yah," pertegas Gaffi agar Arkana tak salah paham.
Gaffi yakin Serrin ada cerita kepada Arkana soal Zehra. Padahal itu sudah lama, hampir 3 bulan yang lalu tapi kenapa Sang Ayah baru membahas sekarang?
Arkana meneguk minuman sebagai penutup sarapannya.
"Ayah baru dengar kamu punya teman perempuan selain sepupu kamu. Apa kamu menyukainya?" tanya Arkana lagi yang dimana hampir membuat Gaffi tersedak.
Lelaki itu berdehem sebelum menjawab. "Ayah pasti tau dari Bunda. Kejadiannya udah lama, Yah," elaknya.
"Ayah nggak tanya kejadiannya, Gaf. Ayah tanya kamu menyukainya atau tidak?" koreksi Arkana.
"Tidak masalah juga kalau kamu menyukainya, kan? Toh, Ayah cuma bertanya," lanjutnya.
"Bener, Bang. Nggak papa kalo kamu emang suka Zehra. Bunda seneng kok sama Zehra. Bunda yakin Ayah pasti juga seneng kalo dapat menantu kayak Zehra," ujar Serrin diakhir kekehan kecil.
Menantu apanya? Kenapa Serrin malah berpikir sejauh itu? Ini Zehra saja sudah muka banget lihat Gaffi, gimana bisa jadi suami-istri? Pikirnya.
"Bunda mikirnya jauh banget. Bunda juga tau dari mana Gaffi suka Zehra, hm?" balas Gaffi lembut disertai senyuman.
"Kalau suka juga nggak masalah, Gaf. Ayah bilang begini juga karena Ayah tau putra Ayah gimana kalo berhubungan dengan perempuan. Saran aja, kalo beneran suka itu diperjuangin lewat doa. Kali aja Zehra juga suka sama kamu," saran Arkana.
Mendengar itu Gaffi hanya dapat tersenyum kecut. "Iya, tapi itu dulu, Yah. Sekarang Zehra udah muak lihat Gaffi," batin lelaki berstelan kantor itu.