disappointment

248 12 0
                                        

Keesokan paginya, suasana di rumah keluarga Lee terasa tegang. Langkah kaki terdengar di koridor panjang menuju kamar Seungri. Pintu kamar terbuka dengan pelan, memperlihatkan Lee Byung Hun dan Lee Min Jung masuk dengan wajah yang penuh kecemasan. Sejenak, mereka terdiam melihat putra bungsu mereka terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat, masih terhubung dengan beberapa alat medis yang dipasang di samping tempat tidur. Mesin-mesin itu berbunyi pelan, mencatat setiap detak jantungnya yang masih rentan.

"Oh God..." gumam Lee Min Jung, suaranya bergetar dengan campuran rasa takut dan khawatir. Dia berjalan cepat ke sisi tempat tidur Seungri, duduk di kursi yang sudah tersedia di sana. Tangannya yang gemetar dengan cepat mencapai dada Seungri, merasakan napas anaknya yang lemah namun stabil. "Apa lagi yang terjadi pada Seungri?" tanyanya dengan suara hampir terisak, menatap Eunji yang berdiri tak jauh dari mereka.

Eunji menundukkan kepala, merasa terbebani dengan kenyataan yang terus berulang. "Tuan dan Nyonya Lee, saya menemukan Seungri dalam kondisi seperti ini tadi malam. Dia tampaknya mengalami sesak napas yang parah. Ada beberapa memar di tubuhnya, terutama di dadanya. Saya sudah melakukan yang terbaik untuk menstabilkan kondisinya."

Sementara itu, Lee Byung Hun berdiri di dekat pintu, kedua tangannya dikepalkan kuat-kuat, mencoba menahan emosi yang mulai menggelegak di dalam dirinya. Dia tidak pernah tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini. Seungri, putra kesayangannya, terus-menerus terlibat dalam situasi berbahaya. Setiap kali, Seungri berhasil selamat, tetapi rasa frustasi dan kekhawatiran tak bisa dipungkiri terus menumpuk di dalam hatinya.

"Apa maksudmu dengan sesak napas?" tanya Byung Hun, suaranya datar namun dengan nada kemarahan yang tersembunyi. Matanya menatap tajam ke arah Eunji, menuntut penjelasan lebih lanjut. "Mengapa dia selalu dalam keadaan seperti ini? Apa yang salah kali ini?"

Lee Min Jung menoleh ke arah suaminya, seolah mencoba menenangkan situasi. "Byung Hun, jangan begitu..." bisiknya, meskipun dia sendiri juga tak bisa sepenuhnya menenangkan pikirannya yang penuh dengan rasa khawatir.

Seungri bergerak sedikit di tempat tidurnya, matanya perlahan membuka. Dia terlihat lemah, namun cukup sadar untuk merasakan kehadiran orang tuanya di ruangan itu. "Mom… Dad…" suaranya serak dan nyaris tidak terdengar. Dia mencoba tersenyum tipis, meskipun jelas terlihat betapa lelah dan sakit tubuhnya.

Lee Min Jung segera meraih tangan Seungri, menggenggamnya erat. "Oh, Seungri… kenapa kamu selalu begini? Kamu membuat kami begitu khawatir," katanya, air mata mulai menggenang di matanya. "Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Kamu keluar lagi, kan?"

Seungri menutup matanya sejenak, tidak ingin membicarakan apa yang terjadi. Dia tahu ini akan datang—pertanyaan-pertanyaan yang tak terhindarkan, tatapan penuh kecewa dan kekhawatiran dari orang tuanya. "I’m fine, Mom," gumamnya, mencoba terdengar lebih kuat dari kenyataannya. "Just… got into a little trouble. That’s all."

"Little trouble?" Byung Hun mendekat, akhirnya melepaskan kendali atas amarah yang telah ia tahan sejak tadi. "Seungri, kamu pikir ini hanya masalah kecil? Kamu bisa saja mati!" serunya dengan suara yang lebih keras dari yang dia niatkan. Mata Seungri terbuka lebar mendengar kata-kata ayahnya, dan dia menatap ayahnya dengan campuran rasa bersalah dan penolakan.

"Dad, I’m fine. Don’t make a big deal out of it," balas Seungri, suaranya terdengar lebih tajam dari yang diharapkan. Dia mencoba duduk, tetapi rasa sakit di dadanya membuatnya jatuh kembali ke tempat tidur, wajahnya meringis menahan nyeri. "Aku tahu apa yang aku lakukan…"

"Tahu apa?!" Lee Byung Hun menekan amarahnya. "Ini bukan tentang apa yang kamu lakukan, ini tentang keselamatanmu! Setiap kali kamu pergi, kamu pulang dalam keadaan seperti ini. Apa kamu ingin membuat kami gila, Seungri?"

Min Jung menepuk tangan suaminya, mencoba menghentikannya. "Byung Hun, tenanglah. Ini tidak membantu."

Tapi Byung Hun tetap terpaku pada Seungri. "Kami sudah memberikan segalanya untukmu. Semua yang kamu inginkan. Tapi setiap kali, kamu memilih jalan yang akan membahayakan dirimu sendiri! Apa yang sebenarnya kamu cari, Seungri? Apa kebebasan itu lebih penting daripada hidupmu?"

Seungri mendesah berat, kelelahan dengan diskusi yang sama berulang kali. "I just need some space… I can’t breathe here," katanya dengan suara lirih, tapi penuh ketegasan. "You keep treating me like a child. I’m not a child anymore."

Lee Min Jung menarik napas panjang, berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Kami tidak memperlakukanmu seperti anak kecil, Seungri. Kami hanya ingin memastikan kamu aman. Dengan kondisi jantungmu… kamu harus lebih berhati-hati."

"Aku tidak bisa hidup dalam ketakutan sepanjang waktu, Mom," Seungri menoleh padanya, nadanya lebih lembut tapi tetap berapi-api. "Aku ingin hidup. Bukan hanya bertahan."

Eunji, yang sedari tadi diam, merasa suasana semakin memanas. Dia mendekati Min Jung dan bicara pelan, "Tuan, Nyonya, saya sarankan agar Seungri beristirahat lebih dulu. Ini bisa memperburuk kondisinya kalau terus ditekan."

Lee Min Jung mengangguk, meski masih dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Baiklah," katanya lembut. "Kami akan pergi sekarang, Seungri. Tapi, tolong… cobalah jaga dirimu. Demi kami. Demi keluargamu. Kamu harus berjanji pada eomma, Seungri. Berjanjilah bahwa kamu akan berhenti melakukan hal-hal bodoh seperti ini."

Seungri merasa semakin bersalah melihat kedua orangtuanya seperti itu. "Aku akan mencoba, eomma appa. Aku janji," ucapnya dengan suara lirih.

Lee Byung Hun mengangguk, "Kami percaya padamu, Seungri. Tapi kamu harus mengubah perilakumu. Kami tidak bisa terus melihatmu seperti ini," katanya, masih berusaha meredam amarahnya.

Seungri hanya diam, menutup matanya, tidak ingin melanjutkan percakapan itu lagi. Suara pintu yang tertutup pelan menandai kepergian kedua orang tuanya, meninggalkan kamar yang sunyi, hanya diisi oleh bunyi lembut alat medis yang masih terhubung ke tubuhnya.

tbc.

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang