The days following Seungri's hospitalization were marked by a blend of love, concern, and moments of frustration as his family and friends rallied around him. Lee Byung Hun dan Lee Min Jung, setelah tiba dari Jepang, memutuskan untuk stay bersama putra bungsu mereka. Bahkan mereka menyewa suite di lantai atas rumah sakit, memungkinkan mereka untuk berada di dekat Seungri setiap saat. Meskipun pekerjaan mereka tak bisa sepenuhnya diabaikan, mereka sepakat untuk menyerahkan sebagian besar urusan bisnis pada Minho, yang dengan tanggung jawab besar, menangani segalanya tanpa keluhan.
Di sisi lain, Seungri tampak seperti anak kecil yang terbungkus dalam perhatian dan kasih sayang tak terbatas. Dia menjadi sangat manja, bahkan lebih dari biasanya. Kewaspadaan orang tuanya, ditambah dengan sikap protektif Minho dan perhatian konstan dari teman-temannya, membuat Seungri merasa seperti pusat alam semesta kecil mereka.
Salah satu hal yang paling dibenci Seungri dari masa-masa di rumah sakit ini adalah makanannya. Selera makannya yang sudah menurun makin membuatnya sulit menerima makanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar pilihannya. "Eomma, i can't eat this," keluhnya sambil mendorong nampan makan siangnya menjauh. "tidak enak."
Min Jung menghela napas, lalu dengan lembut mencoba membujuk putranya untuk setidaknya mencoba makan sedikit. "Seungri, sayang, kau perlu makan agar bisa cepat sembuh. Bagaimana kalau kita pesan sesuatu yang kau suka?"
Seungri memandang ibunya dengan harapan, tapi kemudian ekspresinya berubah menjadi cemberut. "Tapi, semua rasanya hambar di sini, bahkan kalau pesan dari luar."
"Eomma akan coba memasak sesuatu di suite dan membawanya ke sini, otte?" tawar Min Jung, berharap bisa memanjakan putranya dengan makanan rumahan.
Namun, Seungri hanya mengangguk pelan, masih tidak yakin bahwa dia akan benar-benar menikmati makanan apapun dalam kondisinya saat ini.
Makan bukan satu-satunya masalah. Seungri, yang semakin manja, juga mencoba menghindari minum obat setiap kali ada kesempatan. Dia mulai membuat alasan seperti "Aku tidak merasa sakit sekarang," atau "Mungkin nanti saja," setiap kali waktu minum obat tiba. Hal ini tidak lepas dari perhatian Dr. Kim, yang sejak awal telah mengawasi kondisi Seungri dengan ketat.
Suatu hari, saat Dr. Kim masuk untuk memastikan Seungri meminum obatnya, dia mendapati Seungri mencoba menunda-nunda lagi. "Seungri," kata Dr. Kim dengan nada tegas, "kau tahu bahwa ini tidak bisa ditawar-tawar. Kau perlu minum obatmu tepat waktu."
Seungri memasang wajah masam dan mencoba membalas dengan nada setengah bercanda, "Tapi, Dr. Kim, rasanya sangat pahit. Bagaimana kalau aku skip saja sekali ini?"
Dr. Kim menatap Seungri dengan serius, meski dia tahu anak ini hanya mencoba menghindari sesuatu yang tidak disukainya. "This isn't a game, Seungri. Obat ini penting untuk memastikan jantungmu tetap stabil. Aku tidak ingin melihatmu kembali ke kondisi yang lebih buruk."
Menyerah, Seungri akhirnya meminum obatnya, meski dengan ekspresi seolah-olah dia sedang dipaksa meminum racun. "Aku lebih suka jika kalian semua berhenti mengawasiku setiap saat," gumamnya setelahnya.
.
.
.
Di hari-hari berikutnya, Sehun dan Daesung datang hampir setiap hari, mencoba menghibur Seungri dengan segala cara yang bisa mereka pikirkan. Mereka membawa games, komik, dan bahkan mencoba menyelinapkan snacks favorit Seungri yang mereka tahu akan membuat Dr. Kim kesal.
"Serius, Ri, kau harus makan lebih banyak. Kau mulai kelihatan seperti hantu," ledek Daesung suatu hari saat dia menyodorkan paper bag berisi camilan ke tangan Seungri.
"Apa ini?" tanya Seungri, melihat isi paper bag itu.
"Snack favoritmu," jawab Sehun dengan senyum licik. "Aku tahu mereka tidak akan memberimu ini di sini, jadi aku dan Daesung menyelinapkannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rebellious
FanfictionStep into the world of the Lee family, where Seungri, the rebellious son with a heart condition, finds solace in art and freedom. Follow his journey as he balances family expectations with his own desires, leaving a trail of drama and breathtaking a...
