saving private victory

94 4 2
                                        

Di sudut ruangan yang gelap dan lembab itu, Seungri tergeletak lemas di lantai yang dingin. Tubuhnya penuh dengan luka memar dan lecet, napasnya lemah terdengar sangat payah. Jihoon, yang tampak puas dengan tindakan kejamnya, mengamati Seungri dengan tatapan penuh kebencian. Meskipun Seungri terlihat seperti sudah kehilangan kesadaran, jiwanya masih berjuang untuk tetap hidup.

Jihoon mendekati Seungri dengan langkah perlahan. "Apa rasanya, Lee Seungri? Merasakan rasa sakit yang tidak bisa kau sembunyikan dari keluargamu?" gumamnya dengan nada penuh sinisme, seraya menginjak bahu Seungri yang lemah. Seungri tidak bergerak, wajahnya pucat pasi, membuatnya terlihat seperti malaikat jatuh yang diperlakukan dengan kejam.

Saat Jihoon beranjak pergi, dia mendengar suara langkah-langkah dari jauh. "Well, looks like someone is coming for you," ujarnya dengan nada dingin.

.
.
.

Pintu itu terbuka dengan derit logam yang keras, dan jantung Minho seakan tenggelam saat melihat pemandangan di depannya. Seungri tergeletak di lantai dingin dan kotor, terlihat tak bernyawa, rambut putihnya berlumuran kotoran dan keringat. Pakaiannya compang-camping, memperlihatkan memar dan luka yang menghiasi kulit pucatnya. Itu adalah pemandangan yang begitu memilukan, pengingat menyakitkan tentang kerentanan yang selalu berusaha ia lindungi dari adiknya.

Berdiri santai di atas Seungri, seolah memiliki semua waktu di dunia, adalah Jihoon. Sebuah seringai menghiasi wajahnya, mata gelapnya dipenuhi dengan kepuasan jahat saat ia melihat ekspresi Minho dan Jiyong yang berubah dari keterkejutan menjadi kemarahan yang membara. Jihoon memberi salam dengan membungkuk, seolah-olah sedang menyambut teman lama. "Well, well. The cavalry has arrived," ia mengejek, suaranya sarat dengan sarkasme. "Took you long enough."

Rahang Minho mengeras, dan tinjunya menggenggam erat di samping tubuhnya. Kebencian yang membara mengalir melalui setiap pembuluh darah di tubuhnya. "You bastard," ia memuntahkan kata-kata itu, suaranya rendah dan penuh racun. "What the hell did you do to him?"

Jihoon memiringkan kepalanya ke samping, berpura-pura mempertimbangkan pertanyaan itu. "What did I do? Nothing he didn’t deserve," katanya dengan angkat bahu, nadanya seolah menganggap anak yang tergeletak di lantai itu tak ada artinya. “The Lee family always thought they were untouchable. Thought they could destroy me and get away with it.”

Minho melangkah maju, matanya berkilat dengan kemarahan. "You crossed a line you can never come back from," ia menggeram, suaranya bergetar menahan amarah yang hampir meledak. "I’ll make you regret ever laying a hand on him."

Jiyong, berdiri di samping Minho, merasakan kengerian mengalir dalam dirinya saat melihat tubuh Seungri yang tak bergerak. Jantungnya berdebar keras, campuran ketakutan dan kemarahan berkecamuk di dalam dirinya. Suaranya bergetar saat berkata, “You sick—if he’s hurt, I swear I’ll—”

Sebelum Jiyong bisa menyelesaikan kalimatnya, anak buah Jihoon muncul, bermunculan dari balik bayang-bayang seperti serigala yang siap menyerang. Kesunyian yang tegang menyelimuti udara, detik-detik terasa seperti abadi sebelum semuanya meledak menjadi kekacauan. Minho dan anak buah Jiyong menyerbu maju, bentrok dengan para preman Jihoon dalam pusaran teriakan dan pukulan. Denting logam dan erangan bercampur dalam gema gudang, memenuhi udara dengan suara pertempuran.

Jihoon tidak tinggal diam. Dia menerjang ke depan, mengincar Minho. Tetapi Minho siap, menghindar dan memberikan pukulan keras ke rahang Jihoon. Benturan itu membuat Jihoon terhuyung, tetapi dia segera pulih, tertawa melalui darah yang menetes dari bibirnya yang robek. “Is that the best you can do, Minho?” ejeknya. “I thought you would’ve learned to fight better by now.”

Kemarahan Minho semakin membara, dan dia maju dengan ganas, tinjunya melayang dengan kekuatan brutal. Setiap pukulan datang dengan bertahun-tahun kemarahan yang terpendam, ketakutan yang ia rasakan untuk adiknya memberinya kekuatan. "You don’t get to hurt my brother and just walk away," teriak Minho, suaranya serak. "You’ll pay for every bruise, every drop of blood!"

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang