a week

133 5 0
                                        

Seungri selalu bangun di pagi hari dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ada kenyamanan dari rutinitas yang teratur—perawat pribadinya, Eunji, akan membawakan segelas air hangat dan memantau detak jantungnya sebelum dia mulai hari itu. Sinar matahari yang masuk melalui tirai kamar memberikan kehangatan, mengusir sisa-sisa mimpi buruk yang kadang-kadang menghantuinya. Di sisi lain, ada kekosongan yang sulit diabaikan, perasaan terpenjara di dalam mansion besar yang seharusnya menjadi rumah.

Hari ini tidak berbeda. Seungri duduk di tepi tempat tidurnya, memandang ke luar jendela, melihat halaman depan yang luas dan terawat rapi. Pohon-pohon besar yang rindang membentuk batas properti keluarga mereka, tapi bagi Seungri, mereka seperti tembok tinggi yang tidak bisa ia lewati.

Ketika dia menuruni tangga untuk sarapan, rumah itu terasa sunyi. Hanya ada staf yang berlalu-lalang, melakukan tugas mereka dengan diam. Tidak ada Sehun, tidak ada Daesung, dan tentu saja, tidak ada Minho yang terlalu sibuk dengan pekerjaan di perusahaan keluarga. Kehidupan mereka semua bergerak di luar sana, sementara dia terperangkap di sini.

Seungri menggerutu sambil menyendok bubur yang disiapkan untuknya. Dia tidak suka bubur, tapi itu adalah bagian dari "menu sehat" yang disiapkan atas perintah Minho. "Apa aku harus makan ini setiap hari? Apa aku tampak seperti seseorang yang butuh makanan bayi?" keluhnya dengan nada setengah bercanda kepada Eunji, yang hanya bisa tersenyum sambil menyuruhnya tetap makan.

"Kalau begitu, bagaimana kalau nanti Noona masak sesuatu yang kamu suka? Mungkin kimbap atau... tteokbokki?" tawar Eunji sambil mengangkat alis, berusaha menghiburnya.

Seungri melirik ke arahnya dengan tatapan penuh harapan. "Beneran? Aku mau itu," katanya, senyum kecil muncul di wajahnya. Tapi senyum itu segera memudar ketika dia melihat jadwal hari itu, yang tergeletak di meja samping tempat duduknya—serangkaian aktivitas di dalam rumah yang, meskipun bervariasi, tetap saja tidak memberi kebebasan yang diinginkannya.

Setelah sarapan, Seungri mencoba untuk mengisi waktu dengan video game, sesuatu yang biasa dia lakukan untuk melupakan rasa bosan. Dia memilih game balapan yang intens, di mana dia bisa berpura-pura mengendarai mobil sport mewah dengan kecepatan tinggi—sesuatu yang sangat dia dambakan di dunia nyata. Dalam permainan, dia bebas, tanpa batasan atau aturan yang membelenggunya. Tapi seperti biasa, setelah beberapa jam, kesenangan itu mulai memudar, dan dia mendapati dirinya kembali tenggelam dalam kenyataan yang jauh dari dunia game.

Ponselnya berbunyi, tanda ada pesan masuk. Itu dari Sehun dan Daesung di grup chat mereka.

Sehun: “Bro, kau harus ikut malam ini. Ada acara seru di rooftop bar baru di Gangnam! Best part? Free drinks all night!”

Daesung: “Ayolah, Seungri! Kau bisa keluar sebentar dari mansion yang seperti museum itu.”

Seungri menatap pesan itu dengan perasaan getir. Rasanya seperti undangan ke surga, tapi surga yang tidak bisa ia kunjungi. Dia mengetik balasan dengan cepat.

Seungri: “kau pikir aku bisa keluar bebas gitu saja? Even if I tried, Minho bakal nangkep aku sebelum aku sampai pintu depan.”

Sehun: “Tell Minho to chill. C’mon, bro, we miss you.”

Daesung: “Kalo tidak datang, aku dan Sehun akan menculikmu.”

Seungri tertawa kecil melihat ancaman bercanda itu, tapi hatinya tetap berat. Mereka tidak mengerti. Tentu saja mereka ingin dia keluar dan bersenang-senang, tapi Seungri tahu risikonya terlalu besar. Dia mengetik balasan dengan perasaan kesal yang bercampur frustrasi.

Seungri: “akan ku coba, tapi kau tau kan, aku terpenjara di sini.”

Dia menutup ponselnya dan membuang napas panjang. Rasanya berat, seolah-olah dinding-dinding mansion ini semakin mendekat, menekan, membatasi gerakannya. Dia berpikir sejenak untuk mencoba membujuk Minho, tapi bayangan kakaknya dengan ekspresi tegas langsung membuatnya mengurungkan niat itu.

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang