Step into the world of the Lee family, where Seungri, the rebellious son with a heart condition, finds solace in art and freedom. Follow his journey as he balances family expectations with his own desires, leaving a trail of drama and breathtaking a...
Sinar matahari pagi perlahan-lahan menembus jendela besar kamar, membangunkan sang pemilik yang tertidur pulas itu, rambut putihnya sedikit berantakan, masih ada rona merah di pipinya dari demam yang dia dapat malam lalu. Perlahan sang empunya kamar bangun, matanya dengan berat terbuka lalu setelah beberapa saat dia meraih ponselnya seperti biasa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa waktu kemudian, Jiyong datang ke mansion keluarga Lee. Seperti biasanya, para staf menyambutnya dengan sopan dan memandu dia untuk bertemu Minho terlebih dahulu. Setelah bertukar salam dan basa-basi, Minho langsung menatap Jiyong dengan ekspresi serius.
"Ehm, Jiyong, aku ingin tanya sesuatu," kata Minho.
"Ne, hyung?" jawab Jiyong, suaranya tenang, meski ada sedikit rasa penasaran di matanya.
"Apakah kau benar-benar serius dengan Seungri? Maksudku, apakah perasaanmu padanya tulus atau hanya sekedar main-main? Jika kau hanya ingin you know figure out and play around dan akhirnya meninggalkannya, aku tidak akan membiarkan itu terjadi," kata Minho dengan nada yang tegas, tetapi masih mengandung rasa khawatir sebagai kakak.
Jiyong mengambil napas dalam-dalam, kemudian menjawab, "Of course, hyung. He means a lot to me. Aku tidak hanya main-main dengan dia."
Minho menatapnya tajam, memastikan tidak ada keraguan dalam jawaban Jiyong. "Apakah kau yakin bisa menerima semua keterbatasannya? Maksudku, dia sering terlihat baik-baik saja, tetapi dia sering menyembunyikan apa yang sebenarnya dia rasakan. Dan, kau tahu kan, kondisinya itu... dia begitu mudah terluka."
Jiyong mengangguk mantap. "I do care for him, hyung. I really do. Aku tahu dia punya banyak keterbatasan, tapi itu tidak mengubah perasaanku. Aku ingin ada di sampingnya, untuk apapun yang dia hadapi."
Minho menghela napas panjang. Masih terngiang percakapan kemarin dengan orangtuanya tentang memberi Seungri ruang untuk berkembang, tetapi ia masih khawatir. "Fine," ujarnya akhirnya. "But if you dare to hurt him, aku tidak akan memaafkanmu, Jiyong."
Jiyong tersenyum tipis, sedikit lega meski masih ada ketegangan yang tersisa. "Aku mengerti, hyung."
Minho akhirnya memberikan izin dengan mengangguk. "Kau boleh temui Seungri, dia sedang di kamarnya," katanya sambil kembali ke kursi. Meski Minho merelakan adiknya, namun dalam hatinya, dia tahu akan selalu ada kekhawatiran yang membayang.