Di sebuah gudang tua yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota Seoul, suasana terasa suram dan menyeramkan. Gudang itu gelap, hanya diterangi oleh beberapa lampu gantung yang berkedip-kedip, memancarkan cahaya kuning yang redup. Udara dipenuhi bau debu dan karat, memberikan kesan tempat yang sudah lama tidak digunakan. Suara langkah kaki terdengar samar, semakin mendekat ke sudut ruangan tempat Seungri terikat di sebuah kursi kayu yang rapuh.
Seungri setengah sadar, tubuhnya lemas dan kepalanya terasa berat. Bekas memar terlihat di wajahnya yang pucat, dan napasnya tersengal. Kaki dan tangannya diikat erat dengan tali kasar, menyebabkan kulit sensitivenya lecet dan perih. Dia mencoba melawan rasa sakit dan kelelahan yang terus menggerogoti tubuhnya, namun kekuatannya semakin terkuras. Di depan Seungri, Jihoon berdiri dengan senyum sinis di wajahnya, memegang sebuah besi tipis yang dingin.
"Kau kelihatan lemah, Seungri," kata Jihoon dengan nada meremehkan, berjalan perlahan mendekat. "Bagaimana rasanya? Selalu dilindungi, selalu dimanja… dan sekarang kau sendirian." Dia mengangkat besi itu dan memukul ringan lutut Seungri, membuat Seungri meringis kesakitan.
Seungri mencoba menatap Jihoon, meski pandangannya kabur dan tubuhnya bergetar. "Apa... yang kau inginkan?" suaranya serak, nyaris tak terdengar. Dia berusaha menahan rasa sakit yang menyiksa setiap persendiannya.
"Apa yang aku inginkan?" Jihoon mengulanginya sambil tertawa kecil. "Aku ingin keluargamu merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin mereka kehilangan apa yang paling mereka cintai... sama seperti aku kehilangan segalanya karena mereka." Rasa kebencian tergambar jelas di matanya, dan dia memukul Seungri lagi, kali ini lebih keras di bagian tulang kering, membuat Seungri menjerit pelan.
"Ayahmu... Minho... mereka pikir mereka bisa menghancurkan hidupku begitu saja? Sekarang aku akan memastikan mereka merasakan rasa sakit itu," Jihoon mendekat dan menarik rambut Seungri dengan kasar, memaksa kepala Seungri mendongak untuk menatap matanya. "Dan kau... kau hanyalah pion kecil dalam permainan ini."
Seungri menggertakkan giginya, berusaha mengabaikan rasa nyeri yang semakin menusuk. "Mereka... tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja," ucapnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Minho... akan menemukanku... dan kau akan menyesal."
"Menyesal?" Jihoon menyeringai. "Kau masih tidak mengerti, bukan? Aku tidak peduli apa yang terjadi padaku. Yang penting adalah melihat keluargamu hancur, melihat mereka tidak berdaya saat kau perlahan mati di tangan mereka yang tidak bisa menyelamatkanmu." Dengan kata-kata itu, dia menekan ujung besi dingin ke leher Seungri, membuat kulitnya terasa terbakar meski besi itu sebenarnya dingin.
Seungri menutup mata erat-erat, menahan napas dan berusaha menahan rasa sakit. Tubuhnya terasa semakin lemah, dan kesadaran mulai memudar. Jihoon menyingkirkan besi itu, lalu menatap Seungri yang tampak hampir menyerah. "Bagus... kau terlihat hampir siap untuk menyerah. Mari kita lihat berapa lama lagi kau bisa bertahan."
Seungri yang terengah-engah dan mulai kehilangan kesadarannya lagi secara perlahan.
Di dalam gudang tua itu, Seungri tergolek lemah di kursi tempatnya diikat. Tubuhnya terkulai dengan kepala tertunduk, rambut putihnya yang kusut menutupi sebagian wajahnya yang lebam. Napasnya terengah-engah, terdengar pelan dan tidak beraturan. Setiap kali ia mencoba menghirup udara, nyeri di dadanya semakin menusuk, seakan ada sesuatu yang mencengkeram jantungnya erat-erat.
Jihoon berdiri di depannya, wajahnya penuh kebencian bercampur kepuasan saat melihat Seungri yang sudah nyaris tak berdaya. “Lihat kau sekarang, anak manja. Kau selalu hidup nyaman di bawah perlindungan keluargamu. Tapi sekarang, di sini, tidak ada yang bisa melindungimu.” Jihoon mengangkat seember air dingin dan menyiramkannya ke tubuh Seungri yang sudah lemas. Air itu terasa seperti ribuan jarum menusuk kulit, membuat Seungri tersentak dan sedikit siuman dari pingsannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rebellious
FanfictionStep into the world of the Lee family, where Seungri, the rebellious son with a heart condition, finds solace in art and freedom. Follow his journey as he balances family expectations with his own desires, leaving a trail of drama and breathtaking a...
