Pagi berikutnya, matahari baru saja mulai menyinari mansion keluarga Lee. Di dalam kamarnya, Seungri masih terlelap di tempat tidurnya, tubuhnya terselimuti dengan hangat. Wajahnya yang pucat mulai mendapatkan sedikit warna, meskipun masih terlihat bekas-bekas kelelahan.
Di luar kamarnya, Minho sudah bersiap untuk memulai harinya. Dia mengenakan setelan rapi seperti biasa, siap untuk berangkat ke kantor. Namun, sebelum pergi, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin hanya perasaan atau intuisi seorang kakak, tapi Minho memutuskan untuk memeriksa kamar Seungri terlebih dahulu.
Dia berjalan menyusuri lorong mansion yang luas, langkah kakinya pasti dan sedikit lebih cepat dari biasanya. Ketika tiba di depan pintu kamar Seungri, Minho berhenti sejenak. Dia mengetuk pintu dengan lembut, tetapi tidak ada jawaban. Minho memutar gagang pintu dan masuk ke dalam.
Minho mendapati Seungri masih tertidur di tempat tidurnya, terlihat sangat lelah. Rasa khawatir mulai mengusik hati Minho. Dia mendekati Seungri dan duduk di tepi tempat tidur, memandang adiknya dengan penuh perhatian.
"Seungri-ah, bangun," ujar Minho pelan. Namun, Seungri hanya menggumam pelan, masih terlalu lelah untuk bangun sepenuhnya.
Minho merasakan dahinya yang dingin dan mengernyit. "kau merasa sakit lagi?" tanyanya, tapi Seungri hanya menggeliat sedikit dan menarik selimutnya lebih erat.
Minho menghela napas, lalu merapikan rambut putih Seungri yang acak-acakan. "Aku akan bilang ke Appa dan Eomma kalau kau mungkin perlu istirahat lebih lama hari ini," katanya pelan. Meskipun dia cemas, Minho tahu bahwa memaksa Seungri bangun tidak akan membantu.
Setelah beberapa saat, Minho bangkit dan keluar dari kamar, memastikan pintu tertutup dengan pelan di belakangnya. Dia langsung menuju ke ruang makan di mana kedua orang tuanya, Byung Hun dan Min Jung, sedang menikmati sarapan.
"Seungri masih tidur?" tanya Min Jung begitu melihat putra sulungnya memasuki ruangan.
Minho mengangguk sambil duduk di kursinya. "Iya, he looks exhausted. Kurasa dia butuh lebih banyak waktu untuk istirahat hari ini."
Byung Hun meletakkan koran yang sedang dibacanya dan menatap Minho dengan serius. "Apa dia baik-baik saja? Apa dia menunjukkan tanda-tanda kambuh lagi?"
"Aku tidak yakin," jawab Minho, sedikit bimbang. "Tapi dia tampak sangat lelah, dan wajahnya agak pucat. Aku pikir lebih baik membiarkannya istirahat hari ini."
Min Jung tampak khawatir, tapi dia mencoba untuk tetap tenang. "Baiklah, kalau begitu kita biarkan dia beristirahat. Tapi pastikan ada yang memeriksa keadaannya secara berkala. Aku tidak ingin dia jatuh sakit lagi."
Minho mengangguk setuju. "Aku akan menyuruh Seungho atau pelayan lain untuk mengawasinya. Aku juga akan pulang lebih awal hari ini, just to make sure."
Mereka bertiga melanjutkan sarapan, tapi suasana hati mereka jelas terbebani oleh kekhawatiran tentang Seungri. Setelah sarapan selesai, Minho berangkat ke kantor, tapi pikiran tentang Seungri terus mengganggu pikirannya.
.
.
.
Seungri mulai terbangun perlahan. Kepalanya terasa sedikit berat, dan ada perasaan tidak nyaman di dadanya. Dia menggeliat, membuka matanya dengan pelan, berusaha mengingat apa yang terjadi malam sebelumnya.
Dia ingat pergi ke klub untuk bertemu dengan Jiyong, ingat bagaimana Jiyong begitu mabuk dan bagaimana dia sendiri merasa bingung dengan perasaan yang campur aduk. Lalu ingatan tentang ponsel Jiyong dan pesan yang dilihatnya kembali menghantam hatinya. Ada perasaan sesak yang tiba-tiba muncul, dan Seungri merasakan hatinya sakit secara harfiah.
Dengan enggan, Seungri meraih ponselnya yang tergeletak di samping tempat tidur. Ada beberapa pesan dari Jiyong yang menanyakan keadaannya dan meminta maaf karena meninggalkannya di klub. Ada juga pesan dari Seungho yang mengatakan bahwa dia sudah membawa Seungri pulang dengan selamat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rebellious
FanfictionStep into the world of the Lee family, where Seungri, the rebellious son with a heart condition, finds solace in art and freedom. Follow his journey as he balances family expectations with his own desires, leaving a trail of drama and breathtaking a...
