pool and reflection

153 5 0
                                        

Seungri duduk di pinggir kolam renang indoor mansion, menyentuhkan ujung jari-jarinya ke permukaan air yang tenang. Bayangannya terpantul samar di atas air, wajahnya terlihat lelah dan sedikit pucat, mencerminkan kekacauan di dalam hatinya. Napasnya yang tadi terengah-engah kini mulai stabil, tapi rasa frustasi yang memenuhi dadanya tidak ikut mereda. Dia baru saja melepaskan alat bantu pernapasan yang digunakan untuk mengatasi serangan tadi, namun tubuhnya masih terasa lemah, seolah-olah semua tenaga diserap habis oleh jantungnya yang rapuh.

Dengan tatapan kesal, dia menatap lebam merah di dadanya, sisa dari serangan yang tadi menyerangnya tanpa peringatan. "Kenapa kamu lemah begitu, huh?" Seungri berbicara sendiri, tangannya perlahan mengusap dadanya. "Kenapa kamu selalu bikin aku begini? Selalu lemah, selalu sakit."

Udara di sekitar kolam terasa sejuk, suara gemericik air kolam yang biasanya menenangkan kini terdengar asing dan jauh. Pandangannya kosong ke arah air di depannya, seolah sedang mencari jawaban di dalam riak-riak kecil yang terbentuk setiap kali jari-jarinya menyentuh permukaan air. "Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar di tengah keheningan ruangan.

Seungri menghela napas panjang, menekan punggung tangannya ke matanya, berusaha meredam emosi yang meluap. "Aku cuma pengen hidup normal. Kenapa itu susah banget?" Suaranya bergetar sedikit. "Apa salah kalau aku ingin ngerasain apa yang orang lain rasakan? Bebas, tanpa harus dihantui ketakutan setiap kali aku bergerak sedikit lebih cepat."

Namun, saat dia mengucapkan kata-kata itu, Seungri menyadari betapa tragisnya keadaannya. Bagaimana mungkin dia bisa melawan larangan Minho dan ayahnya jika setiap langkah yang dia ambil terasa seperti ancaman baru bagi nyawanya sendiri? Bahkan bernafas saja kadang menjadi tantangan, apalagi menjalani hidup yang penuh petualangan dan risiko. Semakin dia memikirkannya, semakin rasa kecewa dan marah pada tubuhnya sendiri menyelimuti dirinya.

"Kenapa hidupku harus begini?" Dia menatap kosong ke permukaan air, bayangannya bergoyang seiring dengan riak air yang terusik. Matahari di luar mulai tenggelam, cahayanya menyusup melalui jendela besar kolam renang, memberikan kilauan oranye keemasan yang memancar di atas permukaan air. Biasanya pemandangan itu menenangkan Seungri, tetapi kali ini, cahaya itu hanya membuatnya semakin sadar akan semua ketidakpastian di masa depannya.

"Apa memang tidak ada jalan keluar?" gumamnya pada dirinya sendiri, merasakan beban yang semakin menekan.

Dia terduduk di sana, tenggelam dalam pikirannya yang suram, tidak sadar bahwa langkah-langkah ringan sedang mendekatinya dari arah mansion.

.
.
.

Sementara itu, Minho baru saja tiba di mansion, dengan tubuh terasa lelah setelah seharian bekerja. Dia biasanya menghabiskan jam-jam panjang di kantor, mencoba mengelola urusan bisnis keluarga yang semakin kompleks. Namun, pikirannya tidak pernah sepenuhnya terlepas dari adiknya yang keras kepala, terutama sejak tadi pagi saat sarapan yang diwarnai ketegangan antara mereka.

Setelah menggantung jas kerjanya dan melepas dasi, Minho memutuskan untuk mengecek Seungri. Ada sesuatu yang selalu mengganggu pikirannya setiap kali dia harus meninggalkan adiknya yang rapuh. Ketika dia sampai di kamar Seungri, dia menemukan ruangan itu kosong.

“Eunji-ah,” panggil Minho, sedikit cemas. Perawat pribadi Seungri yang setia itu baru saja selesai membereskan peralatan medis di sisi tempat tidur. "Dimana Seungri?" Minho bertanya, nadanya tenang tapi tersirat kekhawatiran yang sulit disembunyikan.

Eunji menoleh dengan senyum tipis, mencoba menenangkan. "Dia ada di kolam renang, Minho-ssi. Sepertinya dia merasa lebih baik setelah serangan tadi," jawabnya sambil melipat tangannya di depan perut.

Minho mengangguk. "Terima kasih," ucapnya singkat, sebelum bergegas menuju kolam renang.

Saat Minho mendekati area kolam renang, dia bisa mendengar suara langkah kakinya sendiri yang menggema di lantai marmer, menciptakan irama yang kontras dengan suasana tenang di dalam ruangan. Begitu dia sampai di sana, dia melihat Seungri duduk di pinggir kolam dengan kaki yang terjulur ke dalam air. Pandangannya kosong, tubuhnya terlihat lelah meskipun dari jauh Minho bisa merasakan keheningan yang penuh beban.

"Seungri," panggil Minho, suaranya lembut namun tegas, berusaha agar tidak mengejutkan adiknya.

Seungri menoleh pelan, sedikit kaget mendengar suara familiar itu. "Hyung?" Dia terkejut, tapi cepat menutupi kekagetannya dengan senyum tipis. "Tumben pulang cepat?"

Minho tidak langsung menjawab, malah memilih duduk di samping Seungri, membiarkan kakinya menggantung di atas air. Keduanya terdiam sejenak, menikmati keheningan yang sedikit canggung tapi juga menenangkan. "Apa yang kamu pikirkan?" Minho akhirnya membuka percakapan, suaranya lembut namun penuh perhatian.

Seungri menatap permukaan air yang tenang, bibirnya terkatup rapat. “Tidak ada apa-apa, hyung,” jawabnya, seperti biasa, mencoba menutupi perasaannya.

Minho menoleh dan menatap Seungri dengan sorot yang lebih serius. "Seungri, kita berdua tahu kalau aku tidak mudah percaya dengan jawaban itu," katanya sambil sedikit tersenyum, meski sorot matanya masih penuh perhatian. "Jika ada sesuatu yang mengganggu, kamu tahu kamu bisa cerita pada hyung, kan?"

Seungri mendesah pelan, tahu bahwa Minho tak akan berhenti begitu saja. "Aku cuma... frustasi, hyung," akhirnya dia mengakui, meski nadanya pelan. "Aku ingin hidup seperti orang ysng normal. tidak perlu khawatir soal semua ini," lanjutnya, tangannya menunjuk ke dadanya sendiri dengan ekspresi kesal. "Tapi aku tidak bisa, kan? Aku selalu begini. Lemah."

Minho mendengarkan dengan seksama, membiarkan adiknya meluapkan perasaannya. Dia lalu menarik napas panjang, mencoba memilih kata-kata yang tepat. "Seungri, tidak ada orang yang punya hidup sempurna. Semua orang punya sesuatu yang mereka anggap sebagai kelemahan, termasuk aku. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa hidup dengan caramu sendiri. Kamu hanya perlu lebih hati-hati. Dan itu bukan hal yang buruk."

Seungri menoleh, menatap Minho dengan sedikit keheranan. "Hyung, kamu selalu tahu gimana caranya bikin semua terdengar lebih mudah daripada yang sebenarnya."

Minho tertawa kecil, menepuk punggung Seungri dengan lembut. "Yeah, that's my special talent," ucapnya dengan nada bercanda. "Tapi serius, aku hanya tidak mau lihat kamu terluka lagi. Itu saja."

Keheningan kembali menyelimuti mereka, tapi kali ini tidak ada ketegangan di antara keduanya. Hanya kehangatan yang tak terucapkan, yang meskipun jarang, selalu ada di antara mereka.

Minho memandang ke arah air kolam yang tenang, lalu menoleh lagi ke Seungri. “Kamu tahu, kalau kamu merasa tidak puas dengan hidupmu sekarang, kita bisa cari cara buat semuanya lebih baik. Kamu tidak sendirian dalam hal ini.”

Seungri mengangguk pelan. "Iya, hyung. Aku mengerti."

Dan untuk pertama kalinya hari itu, dia merasa sedikit lebih ringan, meski beban di dadanya belum sepenuhnya hilang. Tapi setidaknya, dia tahu dia tidak harus menghadapinya sendirian.

tbc.

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang