ongoing cruelty

72 4 1
                                        

Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kecil menyinari ruangan sempit itu, menciptakan bayangan di lantai beton yang dingin. Seungri tergeletak lemah, tubuhnya terkulai di lantai. Nafasnya terdengar berat dan sesekali terputus, menandakan kelelahan yang teramat sangat. Tubuhnya terasa dingin, meskipun udara di dalam ruangan itu tidak terlalu dingin. Setiap ototnya terasa sakit, seolah seluruh tubuhnya telah dihantam berkali-kali.

Tiba-tiba, pintu berderit terbuka, dan Jihoon masuk bersama salah satu anak buahnya. Wajah Jihoon memperlihatkan seringai yang penuh kemenangan. Tanpa sepatah kata, anak buah Jihoon menuangkan seember air dingin ke tubuh Seungri. Seketika, Seungri tersentak dan terbangun, menggigil karena dinginnya air yang membasahi tubuhnya. Dia menarik nafas panjang, terkejut oleh sensasi dingin yang menyakitkan itu.

"Good morning, princess," suara Jihoon terdengar mengejek saat ia mendekat. "Kau sudah cukup istirahat?"

Seungri batuk beberapa kali, terengah-engah setelah terkejut oleh air dingin itu. Tubuhnya terasa lebih lemah dari sebelumnya, dan meskipun dia mencoba untuk duduk, kekuatannya seakan tidak ada lagi. “Jihoon... berhenti... ini tidak akan mengubah apapun...” suaranya serak dan nyaris seperti bisikan.

"Ah, selalu mencoba bicara masuk akal, ya?" Jihoon menggelengkan kepalanya dengan tatapan merendahkan. "Kau benar-benar tidak mengerti, Seungri. Ini bukan tentang mengubah sesuatu. Ini tentang membuat keluargamu merasakan penderitaan."

Jihoon kemudian mengambil sebatang kayu yang terletak di dekat dinding, mengangkatnya dengan santai sambil mendekati Seungri. Kayu itu tidak tajam, namun cukup keras untuk memberikan rasa sakit yang mendalam. "Kau lihat, keluargamu menganggap dirimu berharga, bukan? Tapi sekarang, lihat dirimu... tak berdaya. Lemah. Dimana kekuasaan ayahmu itu? hingga saat ini tidak ada sedikitpun tanda-tanda yang menyelamatkanmu."

Seungri menatap Jihoon dengan tatapan ketakutan yang ia coba sembunyikan, meskipun tubuhnya tak bisa menutupi rasa gentar yang mengalir. "Kau... kau pikir ini akan membuat mereka menyerah? Mereka akan... menghancurkanmu," katanya dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.

Jihoon tertawa kecil dan mengayunkan kayu itu, tidak terlalu kuat tapi cukup untuk membuat Seungri meringis kesakitan saat kayu itu menghantam bahunya. "Mungkin, tapi itu urusan nanti. Sekarang, aku ingin menikmati setiap detik di mana keluargamu tidak bisa berbuat apa-apa."

Sementara itu, di luar sana, Minho dan ayahnya bekerja tanpa henti, mengumpulkan segala informasi dan petunjuk yang bisa membawa mereka ke tempat Seungri ditahan. Setiap menit terasa seperti satu abad bagi mereka, dan wajah Minho tak bisa menyembunyikan ketegangan serta amarahnya. Telepon terus berbunyi, orang-orang datang dan pergi, memberikan laporan yang sedikit demi sedikit mengarahkan mereka ke lokasi Jihoon.

Kembali di ruangan gelap itu, Jihoon melemparkan kayu ke sudut ruangan, kemudian meraih bahu Seungri dan menariknya agar duduk tegak. "Lihat, kau bahkan tidak bisa bertahan sedikit pun. Kau terlalu terbiasa dilindungi oleh keluargamu." Jihoon memutar rahang Seungri kasar agar anak itu menatap langsung ke matanya. "Aku ingin mereka melihatmu seperti ini. Tidak berdaya."

Seungri hanya bisa menatap Jihoon dengan mata yang mulai memerah. Dia tahu keluarganya pasti sedang mencarinya, tapi seberapa lama lagi dia bisa bertahan? Jihoon tampak menikmati kekuasaannya atas dirinya, dan itu adalah hal yang paling membuat Seungri ngeri. "Mereka akan datang... dan ketika itu terjadi... kau tidak akan punya tempat untuk bersembunyi," bisiknya dengan suara yang semakin lemah.

Namun Jihoon hanya tersenyum kecil, melepaskan cengkeramannya dan berdiri. "Kita lihat saja, Ri. Kita lihat siapa yang lebih kuat di sini."

Saat Jihoon meninggalkan ruangan, anak buahnya yang masih berada di sana melangkah mendekati Seungri dengan ekspresi acuh tak acuh. Dia tampak lebih besar dan lebih berotot daripada Jihoon, dengan tatapan dingin yang tidak menyisakan sedikit pun rasa simpati. Dia menarik kursi dari sudut ruangan, menempatkannya tepat di depan Seungri, lalu duduk perlahan seolah sedang bersiap untuk memulai sesi “pendidikan” tersendiri.

“Sepertinya bosku sudah cukup berbaik hati memberimu jeda,” katanya dengan nada sinis. “Tapi, istirahatmu sudah cukup, anak manja.”

Seungri mengangkat kepalanya dengan susah payah, napasnya masih berat dan tubuhnya terasa lunglai. Matanya mencoba fokus pada pria di depannya, tapi pandangannya kabur dan kepalanya masih terasa pusing akibat serangan sebelumnya. “Apa… apa lagi yang kalian inginkan…?” katanya dengan suara serak.

Anak buah Jihoon tidak menjawab pertanyaan Seungri. Sebaliknya, dia bangkit dari kursinya dan mendekati Seungri yang masih tergeletak di lantai. Dengan kasar, dia menarik kerah baju Seungri, memaksanya berdiri dengan paksa. Seungri terhuyung-huyung, tubuhnya goyah karena lemah dan kesakitan. Pria itu kemudian mendorongnya ke arah dinding, sehingga punggung Seungri membentur keras permukaan dingin itu.

“Kau tahu, aku selalu penasaran bagaimana rasanya menjadi anak orang kaya. Selalu punya segalanya, tak pernah tahu apa itu kesulitan,” ujarnya sambil menekan tubuh Seungri ke dinding dengan lengannya yang besar. “Tapi lihat dirimu sekarang… tak ada yang tersisa dari kemewahan itu, kan?”

Seungri berusaha melawan tekanan di dadanya, mencoba mendapatkan udara. "Kau tak tahu... apa yang kau bicarakan..." jawabnya dengan nada lemah, sambil berusaha menarik napas.

Pria itu tertawa pelan, seolah-olah menikmati ketidakberdayaan Seungri. “Kau dan keluargamu selalu merasa begitu hebat. Sekarang, bagaimana rasanya tidak punya kendali? Bagaimana rasanya menjadi pihak yang lemah?” Dia kemudian menarik tubuh Seungri menjauh dari dinding hanya untuk menjatuhkannya lagi dengan dorongan kuat ke lantai.

Seungri terjatuh dengan keras, merasakan benturan tajam di tulang rusuknya. Dia terbatuk beberapa kali, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Tubuhnya mulai gemetar, bukan hanya karena ketakutan tapi juga rasa sakit yang semakin merambat ke seluruh tubuhnya.

“Bangun,” perintah pria itu dengan suara datar, nyaris seperti bosan. Ketika Seungri tidak langsung bergerak, dia menendang sisi tubuh Seungri dengan sekuat tenaga, membuat anak itu meringis kesakitan dan melipat tubuhnya. “Kau dengar aku? Aku bilang bangun.”

Dengan segala upaya, Seungri berusaha mendorong dirinya sendiri ke posisi duduk, meskipun seluruh tubuhnya terasa berat dan menyakitkan. Pandangannya kembali kabur, dan kepalanya berputar seolah-olah ruangan itu bergerak di sekelilingnya. Pria itu tidak memberikan waktu untuk pulih, dia meraih lengan Seungri dan menariknya hingga berdiri, hanya untuk kemudian memukul perut Seungri dengan keras.

Seungri melipat tubuhnya ke depan, rasa sakit yang mendalam terasa menusuk di bagian perutnya. Dia ingin berteriak, tapi suaranya seakan terkunci di tenggorokannya. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tetapi dia tidak ingin memberikan kepuasan kepada pria itu dengan menunjukkan lebih banyak kelemahan.

“Kau tahu, anak manja seperti kau seharusnya tahu kapan untuk menyerah,” pria itu berkata sambil menepuk-nepuk pipi Seungri dengan cara yang merendahkan. “Tapi kelihatannya kau selalu ingin menantang takdir.”

Seungri menatapnya dengan tatapan yang penuh kebencian meskipun lemah. “Kau… tidak akan pernah… menang…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Pria itu menyeringai dan sekali lagi menarik Seungri, mendorongnya hingga terduduk kembali di lantai. Dia kemudian mengambil tali dari saku belakangnya, memborgol pergelangan tangan Seungri ke belakang. “Kita lihat saja. Tapi yang jelas, aku akan menikmati setiap menitnya.”

Seungri merasa pergelangan tangannya mulai sakit karena tali yang terlalu kencang. Setiap gerakan kecil saja menimbulkan rasa perih, seakan kulitnya tergores oleh serat tali yang kasar. Pria itu menatapnya dengan senyum puas, seolah-olah sudah yakin bahwa anak manja di depannya ini tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.

Ruangan itu kembali sunyi, hanya terdengar suara napas berat Seungri yang terdengar memelas.

tbc.

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang