finish line?

64 4 2
                                        

Hari itu tampaknya berjalan dengan damai di ruang ICU. Seungri masih terbaring tak sadarkan diri, tetapi napasnya berangsur stabil dan detak jantungnya menunjukkan ritme yang teratur. Lee Min Jung duduk di sisi ranjangnya, dengan lembut menyisir rambut putih putranya dengan jari-jarinya, seolah berusaha menenangkan Seungri meski dia belum bisa merespons. Sementara itu, Byung Hun duduk di sisi lain, menggenggam tangan Seungri erat-erat, seperti tak ingin melepasnya walau hanya sesaat.

“Ayo, bangunlah, Nak,” bisik Min Jung lembut, suaranya penuh kasih sayang. "Eomma dan Appa di sini, menunggumu, sayang.”

Namun tiba-tiba, ketenangan yang melingkupi ruangan itu terpecah oleh suara nyaring dan mendadak dari monitor jantung. Alarm darurat berbunyi, menunjukkan irama yang tidak teratur. Seungri mengalami fibrilasi ventrikel, detak jantungnya menjadi kacau dan tidak dapat memompa darah secara efektif.

Wajah Min Jung langsung pucat saat suara alarm itu memenuhi ruangan. "What is going on?" tanyanya dengan suara panik, matanya melebar saat melihat monitor yang menampilkan gelombang yang tidak beraturan, "Byung Hun, lakukan sesuatu!" pintanya hampir berteriak.

Byung Hun segera bangkit dari kursinya, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Seungri yang tetap tidak bergerak. "Panggil dokter!" serunya kepada salah satu perawat yang berlari keluar untuk memanggil Dr. Kim dan tim medis.

Beberapa detik kemudian, Dr. Kim dan tim medis bergegas masuk ke dalam kamar ICU. Mereka bergerak cepat, mengatur peralatan dan memeriksa monitor dengan cermat. Dr. Kim mengambil alih situasi, suaranya tegas dan penuh kewaspadaan. "Dia mengalami fibrilasi ventrikel. Siapkan defibrillator! Mulai CPR, sekarang!"

Salah satu perawat segera beranjak ke atas ranjang untuk memulai kompresi dada, menekan kuat di tengah dada Seungri. “Satu, dua, tiga, empat...,” hitungan terus berlanjut, sementara seorang perawat lainnya menyiapkan defibrillator. Alat itu diaktifkan dan elektroda ditempelkan di dada Seungri.

“Charge ke 200 joule,” kata Dr. Kim, matanya fokus pada layar monitor yang masih menunjukkan irama kacau. “Clear!” serunya sebelum memberikan kejutan listrik pertama. Tubuh Seungri terangkat sedikit dari ranjang, namun monitor tetap tidak menunjukkan perubahan yang diharapkan.

“Masih belum ada respons, teruskan kompresi!” Dr. Kim memerintahkan, suaranya terdengar semakin tegang. Kompresi dada dilanjutkan, kali ini dengan lebih intens, dan hitungan terus mengiringi setiap tekanan di dada Seungri. “Satu, dua, tiga, empat...”

Min Jung dan Byung Hun berdiri di sudut ruangan, tubuh mereka gemetar saat menyaksikan apa yang terjadi. Air mata mulai mengalir di pipi Min Jung, tangannya bergetar saat menutupi mulutnya untuk menahan isak tangis. “Jangan biarkan dia pergi, tolong...” bisiknya, hampir tidak terdengar.

Byung Hun menatap putranya dengan pandangan kosong. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Seungri berjuang untuk hidupnya, tetapi kali ini terasa lebih menakutkan, seolah-olah mereka semakin dekat untuk kehilangan Seungri. Dia merasakan tangan Min Jung menggenggam erat lengannya, memaksanya untuk tetap kuat.

“Kita ke 300 joule, clear!” kata Dr. Kim sebelum memberikan kejutan listrik kedua. Tubuh Seungri kembali terangkat dari ranjang, tetapi monitor tetap menunjukkan irama yang tidak teratur. “Masih tidak ada perubahan. Lanjutkan kompresi! Kita tidak bisa berhenti sekarang.”

Kompresi dada terus dilakukan dengan ritme yang cepat dan kuat. Keringat mulai membasahi dahi para staf medis, tetapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Dr. Kim merasa waktu seakan berlarian cepat, dan detik-detik berlalu seperti mimpi buruk yang tiada akhir. Dia menatap monitor yang mulai menunjukkan garis lurus selama beberapa detik, tanda bahwa jantung Seungri berhenti sepenuhnya.

"Kita kehilangan detak jantungnya," seorang perawat berkata dengan suara lirih, nyaris patah. Namun Dr. Kim tidak menyerah. “Ambil alih kompresi!” katanya, mengambil posisi di sisi tempat tidur. Dengan segera, dia sendiri mulai menekan dada Seungri, menghitung setiap kompresi dengan suara tegas. “Satu, dua, tiga, empat, lima...”

“Charge ke 360 joule,” Dr. Kim memerintahkan, hampir putus asa. “Kita akan coba sekali lagi. Clear!”

Jelas bahwa setiap anggota tim merasakan tekanan yang sama. Tubuh Seungri kembali terangkat sedikit saat menerima kejutan listrik ketiga, tetapi monitor tetap menunjukkan garis lurus yang mengerikan.

Byung Hun menahan napas saat melihat garis itu tetap datar, suaranya bergetar ketika berbicara, “Dokter...”

Dr. Kim menatap mereka sekilas, lalu kembali fokus pada Seungri. “Kita belum selesai. Lanjutkan kompresi!” Dia kembali memberikan kompresi dada dengan kekuatan yang lebih besar, bahkan saat rasa lelah mulai terasa di lengannya. “Seungri, bangunlah! Don't you dare to give up now!"

Monitor masih menunjukkan garis lurus, dan suara-suara di ruangan seakan mulai memudar, seiring rasa putus asa yang perlahan-lahan muncul. Waktu terus berjalan, dan tim medis mulai mempertimbangkan bahwa mereka mungkin harus menyerah.

Namun, Dr. Kim tidak bisa membiarkan itu terjadi. “Charge ke 360 joule,” katanya dengan suara rendah, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. "Kali ini, kita harus dapatkan dia kembali."

Saat elektroda kembali diisi dengan energi, Dr. Kim menarik napas panjang. “Clear!” serunya. Tubuh Seungri kembali terangkat, dan untuk sesaat yang terasa seperti keabadian, monitor tetap menunjukkan garis datar.

Dr. Kim menolak untuk menyerah. “One more time, charge to 360 joule,” katanya dengan suara rendah namun penuh keteguhan. "This time, we need to get him back." Ada harapan yang tersisa di dalam dirinya, meskipun sedikit.

Elektroda kembali diisi dengan energi, Dr. Kim menarik napas panjang, mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk sekaligus terbaik. “Clear!” serunya, dan memberikan another shock. Kali ini, dada Seungri terangkat dengan lebih tinggi, dan untuk sesaat yang terasa seperti keabadian, monitor tetap menunjukkan garis datar.

Hening melanda ruangan, semua orang menahan napas, takut untuk bergerak, seolah-olah suara sekecil apapun bisa menghancurkan apa yang sedang terjadi.

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang