dramatic

120 4 0
                                        

Mansion keluarga Lee diselimuti keheningan yang mendalam, hanya suara detak jam dinding yang pecah dari kesunyian. Tuan dan Nyonya Lee sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, sementara Minho, sang kakak, juga terbang ke negara lain untuk menghadiri acara penting. Dalam studio seninya yang luas, Seungri mengurung diri, tenggelam dalam dunianya sendiri.

Di luar ruangan, angin berhembus lembut, membawa aroma bunga yang tumbuh di kebun mansion. Namun, di dalam studio, suasana terasa berat. Seungri berdiri di depan kanvas, kuas di tangan, namun pikirannya melayang jauh. Ia merasa terjebak dalam kesepian yang dalam.

Eunji, perawat yang sudah seperti kakak baginya, mengetuk pintu studio dengan hati-hati. "Seungri-ah, ini sudah lewat waktu makan siang," ujarnya, berusaha membujuk.

"Dari mana kamu tahu?!" jawab Seungri, suaranya sedikit meninggi, meski hatinya terasa berat. "Aku sedang sibuk, noona."

Eunji menghela napas, merasakan kekhawatiran yang menggerogoti. "Tapi, nanti sakit lagi, lho. Ini obatnya belum diminum juga. Ayo, makan dan minum obat dulu, ya?"

Seungri menggeleng, frustrasi terukir di wajahnya. "Tidak mau! Aku tidak mau diganggu!"

Eunji terdiam sejenak, mengingat betapa emosionalnya Seungri saat terjun ke dalam dunia seni. "Arraseo," katanya lembut, "Noona akan menyiapkan makanan dan menaruhnya di depan pintu. Kalau sudah lapar, dimakan, ya?"

Seungri tidak menjawab, hanya terdiam di dalam. Eunji pun melangkah pergi, meninggalkan Seungri dengan pikirannya yang berkecamuk.

Di dalam studionya, Seungri mulai melukis dengan penuh semangat. Emosinya dituangkan ke atas kanvas: kemarahan, kesedihan, dan keinginan untuk bebas. Namun, semakin dia melukis, semakin gelap warnanya. Dia merasa seperti terasing, dikelilingi oleh ekspektasi yang membelenggu.

Setelah beberapa jam berkutat dengan kanvas, kelelahan mulai menyergap. Dia terjatuh di lantai, menahan rasa lapar yang mulai menggerogoti perutnya. Memandang ke arah pintu, dia berharap Eunji muncul dengan makanan. Namun, pintu itu tetap tertutup rapat.

Marah, Seungri bangkit dan mendekati pintu, membukanya dengan keras. "Eunji!" teriaknya, suaranya menggema di dalam studio.

Tak ada jawaban. Kemarahan Seungri memuncak, dan dia menutup kembali pintu dengan sangat keras. Rasa frustrasi meluap, dia mulai menendang pintu sambil berteriak, "Kalian semua jahat! Tinggalkan aku sendirian!"

Setiap tendangan membuat kakinya semakin sakit, hingga dia terjatuh ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Dalam keputusasaan, Seungri merasa seluruh dunianya runtuh.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Eunji berdiri di sana, wajahnya tampak khawatir. "Seungri-ah, kenapa marah-marah?" tanyanya dengan nada lembut, berusaha menjangkau perasaannya.

Seungri terdiam, menatap Eunji dengan mata berkaca-kaca. "Aku lapar," ucapnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Eunji tersenyum lembut, merasakan hati Seungri yang hancur. "Noona sudah menyiapkan makanan. Ayo, makan dulu."

Dengan hati-hati, Eunji membantu Seungri berdiri dan membawanya ke meja makan. Makanan favorit Seungri tersaji di sana, aroma yang menggugah selera membuatnya merasa sedikit lebih baik. Dia mulai makan dengan lahap, seolah-olah belum makan selama berhari-hari.

Setelah makan, rasa tenang mulai meresap ke dalam diri Seungri. Dia memandang Eunji dengan rasa bersalah. "Maafkan aku, Noona. Aku hanya merasa kesepian."

Eunji memeluk Seungri erat-erat, merasakan beban yang dipikulnya. "Gwenchana, Seungri-ah. Noona di sini," katanya lembut. "Kapan pun kamu merasa kesepian, kamu bisa cerita kepada Noona."

Seungri tersenyum, dan meskipun hati kecilnya masih penuh kesedihan, dia merasa sedikit lebih ringan. "Tapi, aku ingin menyelesaikan lukisanku. Jangan ganggu aku lagi,"

Eunji mengangguk, memahami kebutuhan Seungri untuk menemukan kembali jati dirinya. "Baiklah, tapi jangan terlalu lama ya. Noona akan kembali mengecek setelah beberapa waktu."

Seungri melanjutkan melukis, kali ini memulai di kanvas polos. Warna-warna cerah mulai muncul, penuh dengan kasih sayang yang dia rasakan untuk Eunji. Dia menciptakan potret wajah Eunji, menyalurkan semua cinta dan rasa syukur ke dalam setiap sapuan kuas.

Beberapa jam berlalu, dan Seungri akhirnya menyelesaikan lukisannya. Dia tersenyum bangga, melihat bagaimana suasana hati dan emosinya terwujud di atas kanvas. Namun, tiba-tiba, telepon genggamnya bergetar, memecahkan keheningan studionya.

"Hei, Seungri-ah!" suara ceria Sehun menyapa dari ujung telepon. "What's up, my man?"

"Hey, Sehun-ah. I'm pretty good. Ada apa?" Seungri menjawab dengan semangat baru.

"Aku mau ngajak kamu keluar malam ini. Ada pesta di klub baru yang keren!" Sehun terdengar antusias, seolah bisa merasakan kegembiraan Seungri.

Seungri tersenyum lebar. "Alright! Sounds fun!"

"Oke, aku jemput kamu jam 8 ya?" tanya Sehun, nada suaranya bersemangat.

"Oke, aku tunggu," jawab Seungri, penuh harapan.

Dia menutup telepon dan mulai bersiap-siap. Dia ingin tampil keren malam ini, seolah-olah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia bisa bersenang-senang. Mandi, memakai baju favoritnya, dan menata rambutnya dengan rapi. Semangatnya mulai membara.

Beberapa menit kemudian, bel pintu berbunyi. Seungri bergegas ke ruang tamu dan membuka pintu. Sehun berdiri di sana, tersenyum lebar, wajahnya bersinar penuh semangat.

"Wah, kau terlihat keren malam ini," puji Sehun, menatap Seungri dengan kekaguman.

Seungri tersipu, merasa bangga. "Terima kasih. Kamu juga terlihat oke."

"Let's go!" Sehun bersemangat, melangkah maju.

Namun, tepat saat Seungri hendak melangkah keluar, Eunji tiba-tiba menghalangi jalannya. Wajahnya tampak khawatir. "Seungri-ah," katanya, "Ingat ya, jangan beraktivitas terlalu banyak. Dan jangan pulang terlalu malam."

Seungri menghela nafas, frustrasi dengan kekhawatiran yang selalu menghantui. "Noona, aku sudah besar. Aku bisa jaga diri sendiri," jawabnya, mencoba menyuarakan kematangan yang dirasakannya.

"Tapi..."

"Noona, don't treat me like a baby," Seungri berkata, sedikit kesal. "Aku mau bersenang-senang malam ini."

Eunji terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata Seungri. Dia tahu betul bahwa Seungri tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil, namun kekhawatirannya tetap ada. "Arraseo," akhirnya dia berkata, "Tapi hati-hati ya. Dan hubungi Noona kalau kamu butuh apa-apa."

Seungri tersenyum, merasa lebih lega. "Okay! Bye, Noona." Dia mencium pipi Eunji dengan lembut, kemudian berlari ke luar bersama Sehun, semangatnya memuncak.

Mereka menuju klub baru yang terkenal itu, suasana di dalamnya penuh dengan musik yang mengguncang dan lampu berwarna-warni yang berputar. Seungri merasakan kegembiraan mengalir dalam darahnya, menyingkirkan semua kekhawatiran yang pernah membelenggunya.

tbc.

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang