weeks

69 5 0
                                        


The first few week of his grounded period membentang di hadapan Seungri yang seperti selamanya. Terkurung dalam penjara mewah di kamar tidurnya, energi yang biasanya penuh semangat telah meredup menjadi rasa bosan yang akan berkecamuk di hari-harinya.

Nasal cannula yang setia bertengger di hidungnya, pengingat akan keterbatasannya, tidak banyak membantu menenangkan jiwanya yang gelisah dan frustrasi. Seungri bukan lagi seorang anak laki-laki yang sabar yang menjalani perawatannya tanpa keluhan. Sekarang, sebagai seorang remaja (he practically still teen, right? he's nineteen) yang merindukan kebebasan, ia menggerutu dan mengeluh di setiap kesempatan.

Eunji, perawatnya yang selalu sabar, menjadi sasaran kekesalannya. Sikap Eunji yang ceria, mengingatkan Seungri dengan lembut untuk meminum obatnya dibalas dengan cemberut atau balasan sarkastik. Bahkan kelas kuliah online-nya, yang merupakan kelonggaran sementara selama masa hukuman, tidak dapat menarik perhatiannya untuk waktu yang lama.

Dia menghabiskan hari-harinya dengan merosot di kursi kebanggaannya dekat jendela, membolak-balik buku dengan ketidaktertarikan yang berbatasan dengan pembangkangan. Pemandangan taman mansion yang luas, yang dulunya merupakan sumber penghiburan dikala ia bosan, sekarang mengejeknya dengan kebebasan luas yang tidak dapat dia akses.

Film, yang dulunya merupakan pelarian yang menyenangkan, menjadi tontonan yang tidak fokus. Pilihan film dokumenter dan drama sejarah yang dipilih dengan cermat oleh orang tuanya hanya memicu kekesalannya. Dia mendambakan aksi, petualangan, apa pun yang mencerminkan kehidupan yang dia rindukan diluar sana.

Bahkan kegiatan menulis, pelampiasan yang baru ditemukannya, menjadi sumber frustrasi. Ledakan kreativitas awalnya dengan cepat memudar, digantikan oleh keraguan diri yang menggerogoti.

Upayanya untuk berkomunikasi dengan dunia luar sangat terbatas. Meskipun ponselnya tetap berada di tangannya, panggilan ke teman-temannya dipantau dengan ketat, percakapan mereka dipenuhi dengan keheningan yang canggung dan rasa iba yang terselubung.

Keheningan di ruangan itu sering kali hanya dipecahkan oleh desisan berirama dari mesin oksigen dan desahan gelisah Seungri. Dia menghabiskan hari-harinya dalam pengasingan yang dipaksakan sendiri, mengusir siapa pun yang berani memasuki benteng emosinya.

Namun, Eunji tetap hadir secara konstan. Dia mengantarkan makanan dengan senyuman, obat-obatan dan lainnya dengan pengingat yang lembut, dan mendengarkan setiap kali Seungri berkenan untuk berbicara. Terlepas dari sikap Seungri yang tidak ramah, Eunji menyadari rasa takut dan frustrasi yang membara di bawah permukaan.

.
.
.
.
.

Suatu sore, saat Seungri duduk merenung di dekat jendela, Eunji masuk ke dalam kamar sambil membawa setumpuk majalah.

"Ini untukmu, Seungri-ssi." katanya, meletakkannya di atas meja kopi di depannya. "Dari Minho-ssi."

Mata Seungri berkedip-kedip karena terkejut, ada celah di wajahnya yang tadinya tenang. Ia mengambil majalah bagian paling atas, sampulnya dihiasi dengan sebuah sepeda motor yang melaju di jalan raya pesisir. Gelombang kerinduan menyelimutinya, sebuah pengingat pahit akan dunia yang sepertinya tidak bisa ia jangkau.

Dia menatap Eunji, sebuah pertanyaan menggantung.

"Dia bilang belum bisa mengunjungimu," Eunji menjelaskan, suaranya lembut. "Tapi dia ingin mengirimkan sesuatu untuk menghiburmu."

Dia membuka majalah itu, halaman-halamannya yang mengkilap dipenuhi dengan gambar-gambar petualangan dan kebebasan. Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya, sekelebat penolakan digantikan oleh secercah penerimaan.

.
.
.
.
.

Sepotong kebebasan, meskipun sangat terkendali dan sedikit, akhirnya menembus betapa monotonnya masa kurungan Seungri. Nasal cannula yang selalu ada di hidungnya sudah tidak lepas, digantikan oleh rasa bebas saat kadar oksigennya stabil. Seungri akhirnya bisa keluar dari kamar tidurnya, langkah kakinya bergema di lorong megah, suara yang tidak lagi terasa seperti tahanan, tetapi sebuah eksplorasi tentatif.

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang