brother's concern

74 4 0
                                        

Di sore yang jarang terjadi di rumah keluarga Lee, suasana begitu tenang. Lee Byung Hun dan Lee Min Jung duduk di perpustakaan yang luas, masing-masing tenggelam dalam buku, sesekali menyeruput teh mereka. Biasanya, Seungri akan bergabung bersama mereka, meringkuk di antara orang tuanya, mendengarkan salah satu dari mereka membacakan sebuah buku untuknya. Dia selalu menyukai saat-saat seperti ini—ada rasa aman dan nyaman saat bersama mereka. Namun, kali ini, dia tidak terlihat di ruangan.

Tak lama kemudian, Minho yang baru saja kembali dari bermain golf dengan teman-temannya. Dia masuk ke perpustakaan, melepas topi golf-nya, dan tersenyum melihat orang tuanya. "Looks like you’re having a quiet afternoon," katanya sambil mengusap tengkuknya yang sedikit berkeringat.

Byung Hun menurunkan bukunya, menatap Minho dengan senyum tipis. "It’s peaceful for once. No chaos today," jawabnya santai.

Min Jung tersenyum kecil, mengangguk setuju. "Yes, it's rare."

Minho tertawa pelan. "Where’s Seungri? He’s not in his room, right? I doubt he’s staying still there."

Min Jung menghela napas kecil, seakan tahu bahwa anak bungsunya tak akan pernah bisa duduk diam. "He’s been playing with Cherry in the garden, think he’s having a nap out there."

Minho mengangguk. "I’ll check on him. Can’t leave him out for too long, knowing how restless he can get."

Meski Seungri sudah tidak lagi harus terikat pada peralatan medis di kamarnya, keluarganya masih sangat hati-hati. insiden beberapa bulan lalu ketika Seungri pingsan di taman karena tidak ada yang mengawasinya saat kondisinya belum sepenuhnya pulih masih menghantui mereka. Kini, meski Seungri sering menggerutu, beberapa pengawal tetap diminta untuk memantau dari kejauhan setiap kali dia di luar ruangan.

Minho berjalan menuju taman, mengingat betapa keras kepala adiknya bisa menjadi, tapi dia tahu itu hanya bagian dari cara Seungri mengungkapkan rasa frustrasinya dengan semua batasan yang ada padanya.

Saat Minho sampai di taman, dia melihat Seungri terbaring di atas rumput hijau, ditemani Cherry yang berlarian ke sana kemari di sekitar. Dari kejauhan, Seungri terlihat sedang tidur, wajahnya tampak damai. Minho mendekat, dan begitu dia lebih dekat, dia melihat beberapa bunga daisy tersebar di rambut putih Seungri. Seungri dan Cherry memang menyukai bunga-bunga itu.

Minho berjongkok di samping Seungri yang mulai bergerak perlahan, matanya setengah terbuka. "Kau mengganggu tidur siangku, hyung," gumam Seungri dengan suara serak khas bangun tidur, matanya mengerjap mencoba fokus.

Minho tersenyum, mengulurkan tangan untuk mengusap rambut Seungri, membersihkan kelopak bunga yang menempel. "Kalau tidur di sini terus, nanti kamu bisa masuk angin. Come on, let’s get you inside."

Seungri duduk perlahan, lalu tanpa banyak berkata-kata, ia menyandarkan tubuhnya ke Minho, melingkarkan lengannya di pinggang kakaknya. "Carry me," Seungri berkata manja, seperti anak kecil yang minta digendong.

Minho mendesah, tapi tidak bisa menahan senyumnya. "Untuk ukuran anak se-rebel ini kau manja sekali ya." gumam Minho sambil mengangkat Seungri dalam gendongan bridal-style. Meskipun adiknya sudah 20 tahun, ada saat-saat di mana Seungri masih bertingkah seperti anak kecil, manja dan bergantung pada keluarganya, terutama Minho.

Seungri memejamkan mata lagi, menyandarkan kepalanya ke bahu Minho. "I’m tired, hyung. You don't understand how exhausting my life is."

Minho terkekeh sambil berjalan kembali ke mansion. "Right, because lying in the garden all day is so exhausting."

"You don’t get it. My brain is tired," Seungri membalas dengan nada menggoda, meski ada sedikit keletihan di balik kata-katanya. Ia tahu kakaknya selalu protektif, kadang terlalu protektif, tapi ia juga tahu bagaimana memanfaatkan kelembutan Minho untuk mendapatkan perhatian yang diinginkannya.

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang