🔞intimacy🔞

119 6 3
                                        

Setelah Seungri keluar dari mobil, Seungho memperhatikan sampai Seungri menghilang di balik pintu gedung sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Dia tahu pasti bahwa dia harus melaporkan semuanya kepada Minho nanti, tetapi untuk saat ini, dia hanya bisa berharap Seungri akan baik-baik saja.

Seungri menaiki lift menuju lantai apartemen Jiyong. Ketika dia akhirnya berdiri di depan pintu, dia merasa sedikit gugup, terutama karena dia belum memberi tahu Jiyong tentang kejadian kemarin. Seungri menarik napas dalam-dalam sebelum menekan bel.

Pintu terbuka beberapa detik kemudian, dan Jiyong, dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan, berdiri di sana dengan tatapan terkejut. "Seungri?" katanya, matanya melebar sebelum dia segera menarik Seungri ke dalam pelukan erat. "I missed you so much!" Jiyong berkata dengan suara penuh kerinduan, kemudian menghujani Seungri dengan ciuman di pipi, kening, dan bibirnya. "Maaf kemarin aku sibuk di kantor seharian, aku bahkan tidak sempat bales pesanmu."

Seungri tersenyum lemah, meski ada rasa bersalah di hatinya. "It's okay, hyung... but, uh..." dia ragu sejenak, tetapi sebelum dia bisa melanjutkan, Jiyong menarik tubuh Seungri lebih dekat lagi, mempererat pelukannya.

Jiyong tiba-tiba berhenti sejenak, merasakan ada yang aneh. "Tunggu... tapi kenapa kamu tidak cerita tentang harimu kemarin? Biasanya kamu selalu kirim full bubble of messages setelah kelas terakhirmu. Aku tidak lihat kau cerita apa-apa tentang harimu. Apa yang terjadi?" Nada suara Jiyong berubah dari lembut menjadi sedikit marah, penuh kekhawatiran.

Seungri tahu bahwa dia tak bisa menyembunyikan apapun lagi. Dia menunduk, merasa berat untuk memulai cerita, tapi Jiyong, yang kini menggenggam tangan Seungri, memimpin mereka berdua duduk di sofa.

"Come here," bisik Jiyong lembut, menarik Seungri ke dalam pelukannya lagi. Dia menekan tubuh Seungri ke dadanya, menghirup aroma manis yang familiar dari rambut putih Seungri, yang selalu mengingatkan Jiyong pada strawberry yang segar. Dia menenggelamkan wajahnya di antara helaian rambut Seungri, seakan menemukan ketenangan di sana, sebelum kembali menghujani wajah Seungri dengan ciuman lembut. "Aku kangen, Seungri-ah," bisiknya, kemudian ciuman itu berpindah ke leher Seungri, menyusuri kulit lembut yang membuat Jiyong semakin tenggelam dalam rasa rindu.

Seungri menutup mata sejenak, merasakan kenyamanan dari sentuhan Jiyong. Namun, dia tahu dia harus jujur. "Hyung... about yesterday," katanya dengan suara pelan, penuh kehati-hatian.

Jiyong langsung terdiam, menghentikan ciumannya, dan menatap Seungri dengan mata yang penuh perhatian. "What happened?" dia bertanya, nada suaranya berubah menjadi serius. Dia memiringkan kepalanya, menatap dalam-dalam ke mata Seungri, mencari jawaban.

Seungri menghela napas berat sebelum mulai berbicara. Dia menceritakan semua yang terjadi sejak pagi kemarin—bagaimana dia merasa sangat lelah dan tertekan, betapa kacau pikirannya, hingga akhirnya kejadian di jalan yang hampir merenggut nyawanya. Dia menceritakan ketakutan yang menghantuinya, dan bagaimana dia merasa semakin tertekan dengan beban yang dia tanggung.

Selama Seungri berbicara, Jiyong tidak berkata apa-apa. Dia hanya mendengarkan dengan tenang, meskipun wajahnya menunjukkan campuran antara khawatir, marah, dan terluka. Tangannya terus mengelus punggung Seungri, memberikan kenyamanan, sementara dia berusaha menenangkan dirinya.

Setelah Seungri selesai bercerita, dia menundukkan kepalanya lagi, tidak berani menatap Jiyong. "I’m sorry I didn’t tell you earlier, hyung. I didn’t want to worry you."

Jiyong mendesah panjang, dan dengan lembut mengangkat dagu Seungri, memaksanya menatapnya. "Seungri... You have to tell me these things. I can’t help you if you don’t let me in. You’re important to me, and if something happens to you, I don’t know what I’d do."

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang