Pagi itu, meskipun tubuhnya terasa berat dan lelah, Seungri memaksakan dirinya bangun. Setelah mencuci muka, ia mengenakan pakaian yang nyaman dan berjalan menuju ruang makan. Di sana, keluarganya sudah berkumpul, suasana hangat dari sarapan pagi memenuhi ruangan.
Min Jung tersenyum lembut ketika melihat putranya. "Morning, sweetheart. How are you feeling today?" tanyanya penuh perhatian.
Seungri mengangkat bahu, berusaha terlihat lebih baik dari yang sebenarnya ia rasakan. "Better, I guess. Still tired."
Byung Hun mengangguk, tetapi tatapan khawatir masih tampak jelas di wajahnya. "Just take it easy today. Jangan memaksakan dirimu, Seungri."
Seungri tersenyum tipis dan mengangguk setuju. "Yeah, I’ll take it slow." Tapi di dalam hati, dia tahu bahwa dia masih ingin melakukan lebih, meskipun tubuhnya seolah mengkhianati keinginan itu.
Setelah sarapan, Seungri berjalan kembali ke kamarnya, pikirannya masih dipenuhi bayangan Jiyong dan apa yang telah terjadi kemarin. Dia tahu betul bahwa kakaknya masih marah besar pada Jiyong, dan meskipun Seungri merasa sedikit bersalah, dia tak bisa menahan rasa khawatir tentang bagaimana Jiyong menghadapi konsekuensinya. Ia meraih ponselnya dan menulis pesan cepat kepada Jiyong.
"I hope you're alive. Minho hyung is still mad."
Tak butuh waktu lama bagi Jiyong untuk membalas. "Barely. Your brother is terrifying. I’m pretty sure he’s plotting my death."
Seungri tertawa kecil membaca balasan itu, meskipun dadanya terasa sedikit sesak. Hubungan dengan Jiyong memang selalu penuh resiko, terutama dengan keluarganya yang protektif. Namun, entah mengapa, Seungri tak bisa menjauh darinya.
.
.
.
Hari itu berjalan lambat, dan Seungri merasa lelah hanya dengan berdiam diri. Kepalanya mulai terasa berat lagi, dan rasa lelah di tubuhnya semakin terasa. Meski mencoba menutupi kondisinya agar tak membuat keluarganya khawatir, Min Jung, dengan naluri seorang ibu, segera menyadari ada yang salah.
"Seungri, kamu kelihatan pucat," kata Min Jung dengan pandangan khawatir, mendekati Seungri yang sedang duduk di ruang tamu. "Are you sure you're okay?"
Seungri mencoba tersenyum, tetapi senyumnya tampak lemah. "I’m fine, Mom. Just tired, that’s all."
Namun, Min Jung tidak mudah diyakinkan. Tatapan ibunya berubah serius, lalu dia segera memanggil Byung Hun. "Honey, bisa ke sini sebentar? Seungri kelihatan tidak baik-baik saja."
Byung Hun yang baru saja selesai dengan pekerjaannya di ruang kerja, segera datang. Saat melihat kondisi Seungri, kekhawatirannya langsung meningkat. Mereka tidak mau mengambil risiko, terutama mengingat kondisi jantung Seungri yang memang sering kambuh. Minho, yang mendengar keributan kecil ini, juga segera datang juga, dan meskipun masih ada sisa kemarahan dalam dirinya setelah pembicaraan kemarin, ia tak bisa mengabaikan kesehatan adiknya.
Tak lama kemudian, Eunji dipanggil untuk memeriksa kondisinya. Setelah beberapa saat memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Seungri, wajah Eunji berubah serius.
"His vitals are concerning," kata Eunji hati-hati sambil memeriksa ulang alat pengukur oksigen yang ia gunakan. "Saturasi oksigen di bawah normal, and his breathing is a bit shallow. I think we need to put him on oxygen for now."
Seungri mengerang lemah saat Eunji memasangkan masker oksigen padanya. "Eomma, I don’t need this..." protesnya pelan, suaranya teredam oleh masker, tetapi matanya menunjukkan ketidaknyamanan yang jelas. Namun, Min Jung segera mengelus lengannya dengan lembut, mencoba menenangkan.
"I know, sweetheart. Just for a while, until your breathing gets better." lalu Min Jung membelai rambut Seungri dengan lembut, mencoba memberikan kenyamanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rebellious
FanfictionStep into the world of the Lee family, where Seungri, the rebellious son with a heart condition, finds solace in art and freedom. Follow his journey as he balances family expectations with his own desires, leaving a trail of drama and breathtaking a...
