challenging normalcy

44 4 0
                                        

Setelah beberapa hari penuh pemulihan di rumah, akhirnya Seungri bisa kembali ke rutinitas biasanya—kuliah, bertemu dengan teman-temannya, dan yang paling dia tunggu-tunggu, bertemu dengan Jiyong lagi. Meskipun untuk hari ini mereka belum punya rencana bertemu karena Jiyong sibuk di kantornya, Seungri tetap merasa lega bisa kembali ke kampus, meski ada bayang-bayang ketertinggalan yang menghantui pikirannya.

Pagi itu, Minho memutuskan untuk mengantar Seungri ke kampus. Sebagai kakak yang semakin overprotective sejak kejadian terakhir, Minho merasa lebih nyaman jika dia yang mengawasi langsung Seungri. Saat mereka berdua berada di dalam mobil, Minho terus-menerus menanyakan apakah Seungri merasa baik-baik saja, dan apakah dia sudah meminum obat pagi tadi.

“Jangan sampai lupa minum obatnya, dan kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku,” kata Minho dengan nada serius, matanya menatap lurus ke depan, namun perhatian sepenuhnya tertuju pada Seungri.

Seungri, yang duduk di sebelahnya, hanya mengangguk sambil memainkan ponselnya. “Hyung, aku tahu. Aku sudah besar, bisa jaga diri,” balas Seungri dengan nada yang mencoba meyakinkan, meskipun dalam hatinya dia mengerti kekhawatiran kakaknya itu.

Minho melirik Seungri sejenak, “Aku tahu kau bisa jaga diri, tapi aku tetap khawatir. Kau baru saja keluar dari rumah sakit, Ri.”

“I know, but i need this, hyung. I need to feel normal again." jawab Seungri sambil menatap keluar jendela, melihat pemandangan kampus yang semakin dekat. “And don't worry, Sehun dan Daesung will be there to help me."

Begitu mereka tiba di kampus, Minho tidak segera pergi setelah Seungri turun dari mobil. Dia masih mengawasi adiknya dengan tatapan penuh perhatian. “Call me or Eunji if you feel off. I meant it, immediately. Don't push your luck."

Seungri tersenyum tipis, merasa sedikit terganggu tapi sekaligus tersentuh oleh perhatian kakaknya. “Aku janji, hyung. Sekarang pergilah, kau juga punya pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Minho akhirnya mengangguk, meski ragu, sebelum akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan kampus.

Setelah Minho pergi, Seungri menghela napas panjang, mencoba menenangkan perasaan gugup yang tiba-tiba muncul. Meski sudah biasa berada di kampus, hari ini terasa berbeda. Dia tahu ada banyak hal yang harus dia kejar.

Saat berjalan menuju kelas, Seungri bertemu dengan Sehun dan Daesung yang sudah menunggunya di depan gedung fakultas. Begitu melihat Seungri, mereka langsung menghampiri.

“Yah! Lihat siapa yang akhirnya kembali!” seru Sehun sambil memeluk Seungri dengan erat.

“Sudah sembuh beneran belum nih? Jangan sampai kau pingsan lagi di kelas prof. Kim,” tambah Daesung.

Seungri tertawa kecil, mencoba menepis kekhawatiran mereka. “Aku baik-baik saja, tenang aja. But I need your hands to catch up with my assignments and else."

.
.
.

Mereka bertiga kemudian masuk ke kelas masing-masing, dan saat Seungri duduk di mejanya, dia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa banyak hal yang sudah berubah selama dia tidak ada. Kertas-kertas tugas dan catatan dari teman sekelasnya menumpuk di meja, semua itu adalah materi yang harus dia kejar dalam waktu dekat. Ada proyek, esai, dan persiapan pameran yang semuanya terasa membanjirinya.

“Hei Seungri, udah ngomong sama dosen-dosen, mereka kasih kamu waktu tambahan buat selesaikan semuanya,” kata seorang classmate yang juga ketua kelas sambil menyerahkan beberapa catatan yang dia kumpulkan dari teman-teman sekelas mereka.

“Ah, iya. Thanks,” Seungri menghela napas, memandang tumpukan tugas di depannya. “Aku selalu ketinggalan, selalu harus mengejar. I'm so useless." lanjut Seungri bergumam pelan pada dirinya sendiri.

Rebellious Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang