Empat Puluh

38.8K 1.4K 34
                                        

3.30 am. Tacenda 1

Baik keluarga Tacenda atau orang yang tinggal disana, dari sekpri dan ajudan melakukan sahur bersama. Tapi dimeja yang berbeda tentunya, Elea dibangunkan dengan susah payah oleh Andrew.

"Sayang, jadi sahur tidak? kamu hari ini kegiatannya padat." ucap Andrew pelan sembari mengelus pipi hingga telinga istrinya itu. Bukannya bangun malah makin nyenyak.

"Hmmm.."

"Ayo, ingat hari ini ada berkuda juga."

"Tapinyaa mager, ngantuk." balasnya dengan suara serak khas bangun tidur.

"Cuci muka biar segeran terus makan." ucap Andrew tentu dengan nada membujuknya yang konstan.

"Mau gendong."

Tanpa banyak pertanyaan Andrew menggendong Elea dan membawanya ke kamar mandi mereka. Mendudukkan Elea yang masih merem melek di wastafel besar dan menyalakan kran sebelum Andrew yang akhirnya bergerak untuk mengusap muka Elea menggunakan tangannya yang basah pelan.

"Sahurnya apa?" tanya Elea bak anak kecil. Semenjak mereka berbaikan Elea semacam kembali ke dirinya waktu anak anak. Yang dulu belum pernah ia dapatkan sekarang maunya didapetin sama Andrew.

"Nggak tahu, aku belum turun."

"Akunya nanti sakit perut enggak?"

"Tahun sebelumnya sayang gimana?" tanya Andrew. Dirinya memang kurang tau tentang kebiasaan sakit perut Elea ini.

"Aku hampir ga pernah sahur, paling makan roti sama kurma sama susu."

"Itu nggak sakit perutnya?"

"Enggak, tapinya kan dulu pas kuliah aku bisa ambil kelas online. Waktu SD sampai SMA ya kadang putus tengah jalan karena nggak kuat, endingnya ngeganti wajib pas libur sekolah. Ngeselin." adunya. Andrew dengan tenang mendengarkan cerita Elea, walau dirinya sadar ini jam semakin lama pasti akan bergerak terus. Untungnya di grup Tacenda Family harus kumpul di 3.45. Ada sekitar 15 menit menyadarkan Elea.

"Kita coba dulu ya tahun ini? makan nasi biar kuat dikit aja nanti dibantu sereal sama susu."

"Huum."

Setelah Elea kembali sadar mereka ke ruang makan bersama. Ruang makan sudah terisi sebagian dari Tacenda Family, kurang anak anak lain tentunya Ethan dan Noah.

"El mau makan apa sayang?" tanya Amalia langsung ketika Elea sudah duduk anteng didepannya.

"Mau nasi." Dan tanpa kata dirinya mengambil nasi lebih dulu dan hanya sekepal kecil.

"Nggak sakit perut?" tanyanya lagi.

"Mau dicoba."

"Jangan dicoba kalau sudah tau hasilnya, mama bikinkan sereal ya?" tawar Amalia lagi.

"Udah lah maa, aku bilang mau coba. Kegiatanku banyak, roti nggak menolong, aku mau makan nasi, bikin sereal biar bibi." ucap Elea terpancing.

Karena sahur itu mood pasti nggak bagus alias malas ngomong kalau sahur malah diajak debat.

"Serealnya Nona." baru selesai ngomong bibi sudah menyajikan semangkok kecil serealnya. Tentu hal itu bikin bingung.

"Aku sudah bilang bibi untuk siapkan." saut Andrew disampingnya. Lagi lagi Elea dibuat jatuh untuk kesekian kalinya dengan act of service suaminya.

"Terimakasih mas."

"Sama sama."

Sahur pertama berlangsung dengan tenang damai dan kekeluargaan. Selesai sahur dilanjutkan sholat subuh berjamaah di mushola rumah. Setelahnya semua kembali ke kegiatan masing masing, Adrian dan Adimas Tacenda sekeluarga pulang dipagi harinya karena masih menjadi TNI aktif. Kalau Aditama Tacenda tentu waktunya lebih fleksibel.

𝓗𝓪𝓻𝓶𝓸𝓷𝔂 𝓛𝓲𝓵𝓽  ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang