Garis Barbar

752 10 2
                                        

Aku adalah Keenan. Gadis keturunan Inggris yang terkenal dengan sikap barbarku. Kata temanku fisikku menarik, bertubuh lenjang, kulit putih, ditambah keelokan bola mataku yang berwarna biru.

"Tebak ya, Keen!" ujar Angkasa.

Aku sedikit mengangguk.

"Wanita tercantik di sekolah siapa?"

"Bu Asia, kan kata lu dulu," ucapku datar.

"Namun, setelah ada siswi baru. Bu Asia terkalahkan kecantikannya, Keen."

"Emangnya siswi baru itu siapa namanya?" tanyaku penasaran.

"Mau tau? Nih, gue ada fotonya," tutur Angkasa seraya nunjukin kamera depan. Sontak kaget, melihat diriku sendiri yang tengah mengunyah permen karet, hingga premen itu jatuh mendarat, tidak selamat.

"Angkaaa! Dasar lu!"

"Serius! Wanita tercantik di sekolah," ucapnya lagi seraya tertawa melihatku yang tengah kesal, karena premen karetku terjatuh ke permukaan.

Plak!

Tangan kananku mendarat di bahunya seraya berkata manja, "Angkasa gak mau tahu pokoknya! Beliin gue permen karet!"

"Haha, di toko banyak Keen," guyonnya.

"Beliin Angk--"

"Angkasa! Keenandyra!"

Deug!

Bu Asia memanggil kami, yang tengah asik nongkrong di perempatan jalan, tempat yang selalu kami sebut basecampe.

"Gak masuk sekolah?"

"Nggak," jawab kami serempak.

"Mau sampai kapan kalian, bikin kegaduhan di sekolah ini!" sentak Bu Asia yang berparas cantik di depan kami.

"Sampai ... Ibu mau menikah dengan saya," ucap Angkasa polos, sedangkan Bu Asia tampak kaget seraya membawa buku kasus bersampul warna biru tua.

"Angkasa, serius!" sentak Bu Asia tegas.

"Ya, ini juga serius kali, Bu. Apalagi serius ngajak kamu ke penghulu," gombal Angkasa.

Ketika Angkasa dekat dengan guru BP, sementara aku menjadi orang ke tiga diantara mereka, sebenarnya aku yang tidak kuat. Melihat betapa romantisnya Angkasa tiap hari ngegombalin guru muda, itu. Memang, secara fisik aku dekat dengan Angkasa. Namun, berbeda dengan masalah hati, akunya ada rasa, malah Angkasa yang menganggap aku teman biasa.

"Berisik Angkasa! Tuh, lihat namamu sudah tertulis banyak! Bahkan berspidol warna merah. Apa mau kamu di keluarkan dari sekolah?" ucap Bu Asia lantang.

"Gak papa, namaku tercatat di buku kasus. Mau spidolnya warna merah, kuning, hijau, di langit yang biru! Bahkan tertulis di lauhful mahfudz bersamamu juga aku mau, kok," gombal Angkasa yang kesekian kalinya seraya tersenyum ke arah Bu Asia.

Menyaksikan pemandangan yang menurutku sempurna untuk menggores luka. Benar-benar sempurna rasa sakit ini ya Allah, sehingga aku langsung pergi dari basecamp, dan Angkasa berhasil menarik tanganku.

"Mau apa, Angka?!" tanyaku sedikit nyentak.

"Dieum disini!"

"Males!"

Angkasa langsung berbisik di telingaku, "Lu jangan cemburu! Kan, gue sebelumnya pernah bilang, Keen. Ngegombalin guru BP itu semata-mata buat ngeluluhin hatinya saja. Kalau sudah luluh, dia pasti akan tega ngehukum kita--"

"Kita lu bilang? Lu aja! Guemah nggak!"

Aku langsung berlari meninggalkan Angkasa, dan Bu Asia yang masih betah ngeladenin cowok humoris itu.

Ukhty BarbarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang