PoV Penulis
Seorang anak yang berusia satu sampai lima tahun dia akan belajar bahasa pertama dari seorang ibu, kemudian setelah umur lima tahun ke atas dia akan belajar bahasa kedua dari keluarga dan lingkungan sekitar. Namun apa jadinya jika seorang anak yang bernama Bintang ketika lahir ke dunia ia tidak pernah diajari bahasa oleh ibunya, tidak diajak bicara, tidak dikenalkan nama benda-benda, ibunya terlalu sibuk dengan mencari harta banda, bahkan yang Bintang dapatkan hanya cacian, makian, dan kurang perhatian, hingga membuatnya diam dan terlantarkan.
Seorang anak akan berkembang dengan baik di masa pertumbuhannya. Namun Bintang tertinggal jauh oleh teman sebayanya, di mana yang lain sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, tapi tidak dengan Bintang, ia hanya diam membungkam, tidak bisa berbicara, terdiam seribu bahasa.
Dulu, sekitar enam tahun yang lalu. Bintang lahir dari keluarga yang kaya raya. Namun naasnya sebuah takdir tidak berpihak kepadanya, ia dibuang, karena orang tuanya menginginkan anak perempuan, menurut mereka anak laki-laki sudah ada, yang menjadi kakak pertamanya yaitu Angkasa.
Tidak berselang lama, datang seorang pemulung ke tempat pembuangan sampah, yang di mana Bintang kecil berada di sana, sedang menangis, menjerit, sendiri menahan sakit. Sontak pemulung itu kaget ketika mendengar tangisan bayi, lalu ia mencari, hingga akhirnya ketemulah sebuah peti, yang di dalamnya ada bayi kecil, mungil, di tempat yang sungil.
"Masya Allah, malaikat kecil, sungguh tampan sekali dirimu, orang tua mana yang tega, menelantarkan mu di tempat yang kotor ini," gumam pemulung, seraya mengambil bayi dari peti.
Bayi itu dirawat sepenuh hati oleh seorang pemulung, dari hasil jerih payahnya, memungut bekas Aqua, dikumpulkan, kemudian dijual hingga menghasilkan uang. Uang itu ia pakai untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari, seperti susu, beras, air, dan lainnya.
Suatu hari saat Bintang menginjak usia dua bulan, tiba-tiba ia sakit demam tinggi, tubuhnya menggigil, suhu badannya panas sekali, seorang pemulung yang menjadi Ibu angkatnya panik tak kepalang. Ia meminta bantuan ke sana kemari, tapi nihil tidak ada yang peduli. Ia berlari menuju bidan terdekat, seraya mengais Bintang, yang terus menangis, hingga badannya kejang-kejang.
Alhamdulillah, atas izin Allah Bintang bisa tertolong. Tatkala Bintang sembuh dari sakitnya, dan ia mulai bertambah usianya, sekitar empat tahun, ia sering ditinggal oleh Ibunya untuk bekerja sebagai pemungut sampah. Bahkan, Ibunya berubah, ia menganggap Bintang hanya sebatas beban dalam hidupnya.
"Ini bawa kalengnya! Kamu harus diam terus di rambu lalulintas, ketika lampu itu berubah warnanya menjadi merah, otomatis kendaraan pada berhenti, nah di sana kamu harus keliling untuk meminta-minta ke setiap pengendara, paham?" Petunjuk Ibu kepada Bintang.
Bintang hanya mengangguk.
"Paham, tidak?!" Sentaknya.
Bintang mengangguk kembali, tanpa berkata apa-apa.
"Ah dasar anak bisu! Dari dulu diam terus! Udah sana!" Usirnya, dengan ekspresi marah.
Lalu Bintang pergi dengan kaki yang tertatih-tatih karena letih, ia kelelahan tapi semua itu ia tahan dengan penuh kesabaran. Ia ikhlas diperlakukan seperti itu oleh Ibu angkatnya. Malah ia bersyukur, karena sudah diurus dan diberi makan, walau hanya sisa-sisa makanan.
Sekitar dua tahun lebih, ia diperlakukan dengan semena-mena oleh Ibu Angkatnya. Disuruh ke sana kemari tanpa belas kasih, disuruh memulung, meminta, mengemis, bahkan mencuri. Namun ia tetap nurut dan manut, karena ia tidak tahu pendidikan yang baik itu seperti apa, yang ia tahu hanyalah sebuah siksaan dari Ibu angkatnya.
Atas izin Allah ia bisa sekolah, tapi belum juga tiga bulan duduk di bangku sekolah dasar, ia dikeluarkan karena tidak pernah membayar SPP bulanan.
Namun, kini Bintang kecil telah berada di tangan seorang gadis cantik, baik, yang tingkahnya sangat unik. Ya, ditangan sahabat dari kakak kandungnya sendiri yaitu Keenandyra yang menjadi sahabatnya Angkasa.
Angkasa tidak tahu bahwa dia punya adik laki-laki yang dibuang oleh bundanya sendiri, Bintang pun tidak tahu bahwa Ibu yang mengurusinya bukanlah Ibu kandung, dan Keenan pun sama, ia juga tidak tahu bahwa Bintang adalah adik kandung dari sahabatnya, pas jaman SMA.
Namun kini Bintang sudah berada dilingkungan yang tepat, di sebuah pondok pesantren, yang dididik langsung oleh para ustaz ustazah di sana, diberi kasih sayang, dan tidak luput akan perhatian. Semuanya diberikan kepada Bintang, tanpa mengharapkan imbalan.
Bintang sering diajak bicara oleh Keenandyra, walau ia tahu bahwa Bintang tidak mampu untuk bicara, ia terus menerus mengenalkan apapun itu yang berada di sekitarnya. Nama-nama benda, hewan, tumbuhan, perabotan, dan lainnya. Bukan hanya itu, ia pun mengajari Bintang huruf latin, huruf Hijaiyah, bahkan angka-angka yang belum ia ketahui sebelumnya.
Atas ijin Allah karena ia tinggal dilingkungan pondok pesantren, sering mendengarkan Al-Qur'an, ikut pengajian, berteman dengan orang yang sholih sholihah, ke mana-mana bareng ustaz ustazah, para Hafidzah, para pendakwah, dan di doakan oleh para ulama. Bintang yang semula tidak bisa apa-apa, bahkan berbicara pun tidak bisa, kini ia lancar dalam membaca Al-Qur'an. Alhamdulillah.
"Bintang, karena kamu sekarang sudah berumur sembilan tahun, bukan tujuh tahun lagi, sudah dewasa, sudah hafal Al-Qur'an juga, bisa menjaga dan mengurus diri sendiri, pindah ya nak tinggalnya di asrama putra di sebrang sana. Di sini khusus buat santri putri, karena kamu laki-laki, jadi kakak akan mengantarmu untuk tinggal di sana ya, bareng teman-teman yang lainnya, emang kamu tidak malu tinggal bersama wanita?" Tanya Keenan seraya tertawa.
"Baiklah Kak, tapi Kakak juga harus tinggal di sana," jawabnya polos.
"Haha, nggak lah Bintang. Nggak gitu konsepnya, saya seorang wanita, masa mau tinggal bareng sama para buaya, haha," ujar Keenan ngakak.
Bintang tertawa.
"Sungguh kamu tampan Bintang, kenapa saya menyuruhmu untuk tinggal di asrama putra, karena selain peraturan, saya juga menyimpan perasaan. Saya takut rasa ini berubah menjadi dosa dan zina mata, sedangkan kamu masih kecil belum dewasa, masa mau nikah dengan saya yang sudah kepala dua. Kenapa saya suka? Karena raut wajahmu mengingatkanku kepada satu nama, yang di mana ia adalah sahabatku pas jaman SMA, sebut saja dia Angkasa," batin Keenan.
Keenan terus menatap Bintang, seraya tersenyum. Ia menatap matanya, hidungnya, bibirnya, lesung pipinya, ah ia merasa sedang menatap Angkasa.
"Kak," panggil Bintang.
Namun Keenan tidak meresponnya, ia terlalu hanyut dalam sebuah pandangan yang tidak biasa.
"Kakak!" Panggil Bintang dengan nada tinggi, hingga membuyarkan lamunannya.
"Apa Angkasa?" Tanyanya yang salah memanggil nama.
"Aku Bintang Kak, bukan Angkasa," eja Bintang kesal.
"Eh iya bintang maksudnya, soalnya hampir mirip si, sama-sama di atas. Kan ada nyanyiannya juga, Bintang kecil di langit yang biru, amat banyak menghiasi Angka--
"Tuh ngeselin banget dah emang, ngeledek aku terus dari dulu," oceh Bintang.
"Haha ya maaf Angkasa."
"Apa, Kak? Coba satu kali lagi!"
"Angkasa!"
"Kakaaak!!!" Teriak Bintang seraya berlari kejar-kejaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ukhty Barbar
RomanceBarbarku hanya sekedar hiasan, untuk mendapatkanmu ku hanya menunggu takdir Ilahi.
