PoV Ustaz Rizqy
Kubuka jendela kamar dengan sangat lebarnya, hingga udara bisa keluar masuk dengan sendirinya. Sangat segar hari ini, cuaca mendukung, awan cerah, matahari pagi tersorot langsung ke dalam kamar yang sederhana, sungguh aku menyukai kesederhanaan karena dengan itu aku akan selalu ingat kepada Tuhan.
"Terima kasih ya Rabb, aku di izinkan untuk pergi ke tempat ini lagi. Tempat yang penuh berkah, tempatnya para wali Allah yang shalih-shalihah," batinku.
Kota Tarim, kota kelahiranku, tapi hanya kota kelahiran. Saat berumur dua tahun, aku dibawa pindah karena Umi dan Abi hendak membangun rumah, sekaligus ada pondoknya di sebuah kota yang ada di Negara Indonesia. Qodarullah aku sekarang sudah menikah dengan seorang ustazah Alhamdulillah, di tambah setelah kami pulang dari kota ini, Abi akan memberikan sebuah amanah yang cukup besar, yaitu sebagai penerus, aku akan diangkat menjadi pimpinan pondok pesantren Miftahul Jannah.
Mau tidak mau aku harus menjalankan amanah itu. Padahal niatnya aku ingin berada di kota ini selamanya, tapi niat itu tidak jadi, karena ada sebuah amanah yang harus aku jalani. Namun aku bersyukur karena Allah telah mengirimkan seorang istri yang terus mendampingi ke mana aku pergi, selalu ada sebagai tempat cerita, selalu setia menemaniku tatkala suka maupun duka, dan selalu menjadi penyejuk mata ketika aku menatapnya.
Aku menatapnya, menatap bidadari yang sudah Allah ciptakan ke dunia. Sungguh benar-benar istimewa gadis itu, ya dia masih seorang gadis yang belum ku jamah tubuhnya. Masih perawan yang suci, aku belum berani mengutarakan isi hati. Namun ada apa dengan hari ini? Seolah-olah aku tidak kuat menahan birahi.
Saat ku dekati dirinya, yang tengah bercermin di depan kaca. Sungguh hatiku berdesir, berkali-kali mengucap takbir. Elok tubuhnya, cantik rupanya, kenapa baru sekarang aku tersadar, bahwa ia benar-benar cantik rupawan. Ku tatap wajahnya tepat di pantulan cermin, wajahnya memerah karena ia sadar sedang di tatap oleh suaminya. Tersenyum malu, membuatku ingin segera bercumbu mesra dengan istriku.
"Kang," panggilnya, seraya menatapku sehingga kami saling beradu pandangan.
Aku tersenyum, "Cantik."
Jujur baru pertama kali aku mengucap kata itu langsung di depannya, aku baru sadar bahwa definisi cantik itu bukan ia yang punya kulit putih, bulu mata lentik, badan langsing, penampilan menarik. Namun, bagiku cantik bukanlah itu semua, definisi cantik menurutku yaitu ia yang enak ketika dipandang, bukan karena rupanya, melainkan karena kepribadian akhlaknya.
Halnya seperti istriku ini, mungkin dia kalah dalam soal fisik di banding si Keenandyra istrinya si Angkasa. Namun soal kepribadian dan akhlak istriku lah pemenangnya. Hingga ia berhasil membuatku bukan hanya sekedar menatap, melainkan ia juga berhasil membuatku memilih untuk menetap. Ya aku memilih menetap dihatinya, hati yang baik, yang selalu memperlakukanku dengan baik.
"Kang," panggilnya kembali, seraya memegang tanganku.
"Euu-- iya dek?" Sahutku kikuk.
"Kenapa? Tidak seperti biasanya, tiba-tiba bilang aku cantik?" Tanyanya heran.
Aku balas dengan memegang tangannya, "Serius, dek. Kamu cantik."
Ia tersipu malu, terlihat dari senyumnya yang mencuat memberikan rasa hangat.
"Dek, kitab Fathul qorib, sudah tamat ya?" Tanyaku
"Sudah, Kang. Mau ngulang lagi ngajinya? Atau ganti dengan kitab yang baru, Kang?" Tanyanya.
"Ganti, dong dek. Sekarang kitab yang dulu pernah kau ajarkan ke para santri. Harusnya tinggal praktek aja, si sekarangmah," kataku memberi kode.
"Boleh, boleh, Kang. Malah aku senang bisa praktek langsung." Ucapnya girang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ukhty Barbar
RomanceBarbarku hanya sekedar hiasan, untuk mendapatkanmu ku hanya menunggu takdir Ilahi.
