Keenan Beraksi Hingga Dapatlah Bintang

121 5 0
                                        

Bukan hanya hafalan yang hilang, melainkan aku mengulang kejadian yang sama yaitu balapan motor secara liar. Benar-benar aku sangat bahagia, ini sungguh diluar nalar, ketika yang lain sibuk mengaji, aku malah keluar menguji nyali.

Namun aku harus membuat alasan yang masuk akal, agar diizinkan oleh ustazah untuk pergi keluar. Sangat membosankan rasanya, selama setahun aku  berkecimpung di dunia ke pesantrenan, melihat santri, ustazah, Bu Nyai, bahkan bangunan bertingkat tinggi, ruangan mengaji, ah tidak ada pemandangan yang lain, tidak ada sosok lelaki tampan sekarang, karena Ustaz Rizqy menghilang menuntut ilmu di negeri orang.

"Angkasa?" Tanyaku dalam hati.

"Eh, iya Angkasa di mana ya sekarang, apa aku harus mengajaknya untuk menemaniku balapan?" Tanyaku lagi.

Sayang, Angkasa juga sudah pergi menghilang. Sekarang dia ntah ke mana, sudah beda dunia, dunia luar memang sangat menggoda. Namun dalam hati aku tetap memilih dunia pesantren, yang di mana didalamnya sangat terjaga, dan diajarkan ilmu Agama.

Tepat di depan ruangan pengurus, aku mengetuk pintu, hendak izin kepada ustazah dengan seribu alasan yang ku punya dan sudah direncanakan sebelumnya.

Tuk! Tuk!

"Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam, dengan siapa?" Tanya ustazah Sabil dari dalam.

"Ini dengan Keenandyra, ustazah," sahutku, diambang pintu.

"Ouh, Keenan? Mau apa kamu kemari?" Tanyanya, seraya menghampiriku yang tengah mematung.

"Anu ustazah, Ayah mau ke sini, mau menjemput Keenan pulang," kataku beralasan.

"Emang kamu kenapa?" Tanyanya heran, yang melihatku baik-baik saja.

"Euu-- ini ustazah, mata Keenan mau diperiksa, karena akhir-akhir ini kalau melihat yang jauh tuh suka buram, gak kelihatan. Itu juga gak tau tulisannya apa," ujarku, seraya menunjuk poster yang bertulisan 'Santri Harus Menaati Peraturan Yang Sudah Diterapkan'

"Masa! Coba ini berapa?" Tanyanya, seraya mengacungkan jari telunjuknya.

"Sepuluh," jawabku ngaco.

"Hah?! Kamu mah suka bohong ih, ini tuh dekat Keenan cuma 5 cm doang, masa gak kelihatan?!" Tegasnya yang mulai curiga.

"Aduh," keluhku seraya memejamkan mata.

"Maksud Keenan tuh, dihilangkan nol nya ustazah, jadi satu, gituh," bantahku yang tidak mau kalah.

"Bener nih, yaudah ustazah izinkan, tapi kamu harus balik lagi ke sini, ya seraya membawa surat dan kacamatanya! Jangan lama-lama!" Tegasnya, yang memperbolehkan aku keluar.

"Merdeka!" Batinku bahagia.

"Siap ustazah, jalankan!" Tegasku, menyunggingkan garis senyum, seraya langsung berlari keluar gerbang.

Aduh, aku sudah berapa kali membohongi ustazah, dan berapa kali ilmu tentang larangan berbohong, berdusta, aku langgar dengan seenaknya. Ilmuku ke mana? Apakah ilmuku hanya seperti pohon yang tidak berbuah? Yang tidak bisa mengamalkannya bahkan untuk diri sendiri apalagi untuk yang lainnya?

Akhirnya aku bisa lolos dari interogasi yang pertama, lanjut ke interogasi yang ke-dua, saat hendak membuka pintu gerbang, tiba-tiba tanganku gemetar. Ntah kenapa, ada sesuatu yang janggal di sana. Tanganku terasa berat, bergetar dengan hebat. Gerbang tidak bisa dibuka, ternyata gembok masih mengunci di sana. Aduh ada-ada saja, ku kira ada hal mistis ternyata hanya salah teknis.

"Mang Heruuu," panggilku dengan sebuah teriakan.

"Hm, kenapa? Mau ke mana?" Tanyanya datar, yang tiba-tiba posisinya sudah ada dibelakang.

Ukhty BarbarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang