Perahu terus berlayar di samudra, ia kuat walau diterpa ombak, terus berjalan walau sering terombang-ambing tanpa tujuan. Kini perahu itu telah tiba di pelabuhan, sebagaimana perahu cintaku telah berlabuh di pelabuhan yang menurutku itu benar.
"Cantik sekali kamu, dek," puji Mas Angkasa lagi-lagi terdengar ke telingaku.
Aku mengernyit heran. Ntah yang ke berapa ratus kali, ia mengucapkan kalimat yang sama.
"Suka meledek seperti itu, ah mas tuh," ucapku seraya tersipu malu.
"Hari ini mas izin libur ya gak ngajar," tuturnya, dengan suara agak parau.
"Kenapa, mas? Sakit kah?" Tanyaku heran, seraya dengan cepat aku langsung menempelkan punggung tanganku ke dahinya.
Aku lagi-lagi mengernyit heran, karena badannya biasa saja, suhunya normal. Aku buang pikiran negatifku, mungkin dia sedang kelelahan.
"Aku gak sakit," timpalnya.
"Lah, terus?"
"Hanya saja, mas gak mau jauh-jauh dari kamu, dek," ucapnya, seraya memelukku dari arah belakang, kebetulan aku sedang mempersiapkan bekal untuknya.
"Ih aneh, 24 jam toh mas nempel terus, emang gak bosan ya? Luangin waktunya mas 1 jam aja buat ngajar," ucapku.
"Tidak bisa, karena kamu terlalu cantik untuk ditinggalkan, walau itu hanya sebentar," ujarnya yang membuatku kurang setuju.
"Kalau seperti itu alasannya, lah terus mas kapan dong ngajarnya?" Tanyaku.
"Mau di rumah terus, jagain kamu, Dek," ucapnya manja, seraya memelukku kembali dengan eratnya.
"Mas, aku gak selamanya cantik, usiaku nanti bertambah, wajahku keriput, dan rambutku tidak selamanya hitam legam, ada kalanya nanti aku beruban. Tolonglah mas, jangan memujiku berlebihan, apalagi sampai membuatmu mogok gak mau ngajar, gara-gara gak mau jauh dariku walau hanya sebentar," bujukku dengan perasaan kesal.
"Sehari saja, ya," bujuknya.
"Yaudah terserah mas, jika itu yang terbaik maka silahkan lakukan," ucapku, seraya langsung melangkah menghindari mas Angkasa.
"Kenapa dek? Marah?" Tanyanya.
Aku hanya menggeleng.
"Kenapa?!" Tegasnya, seraya berhasil meraih tanganku.
Aku langsung melepaskan genggaman tangannya, seraya berkata, "Kecantikan rupa itu hanya urusan dunia, mas. Masa kegiatan yang diniatkan untuk akhirat kalah oleh urusan dunia yang sifatnya sementara? Ketahuilah cantikku sementara."
Mas Angkasa terdiam seribu bahasa.
"Maafkan aku, bukan berarti aku tidak setuju. Hanya saja aku sayang sama kamu, mas, makanya aku gak mau semangat ngajarmu yang selama ini kamu tanam, kini padam gara-gara tergoda oleh kecantikan yang selama ini aku tunjukkan," ucapku seraya memegang ke-dua tangannya.
Mas Angkasa mengangguk-anggukan kepala, seraya berkata, "Ucapanmu benar, dek. Namun bolehkah kau dampingi aku?"
"Iya adek siap dampingi mas ke mana pun mas pergi, selagi masih dalam koridor kebaikan, adek bakal dukung," tuturku mensupport nya.
"Terima kasih ya, dek. Maafin mas," ucapnya, seraya memelukku yang ntah ke berapa kalinya.
Ombak kini hadir, mengombang-ambingkan perahu cintaku yang sedang berjalan mulus-mulusnya. Namun tanpa sebuah ombak, maka laut tidak akan indah, begitupun dengan sebuah hubungan pun tidak lengkap rasanya kalau tidak ada konflik di dalamnya.
Aku menemani Mas Angkasa. Makhluk tampan yang manjanya luar biasa, dia tidak mau jauh-jauh dari istrinya, ah sungguh dia sangat manja, seperti anak kecil yang ingin terus dekat dengan Ibunya. Ke mana-mana ingin ditemani, tapi tidak apa-apa selagi dalam kebaikan, aku akan selalu ada untuknya wahai kekasih hati, ya Jauzi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ukhty Barbar
RomanceBarbarku hanya sekedar hiasan, untuk mendapatkanmu ku hanya menunggu takdir Ilahi.
