Pesona kota Tarim

74 3 0
                                        

Pagi yang cerah, sebuah awan menaungi kota yang penuh berkah, matahari muncul dengan teriknya, burung-burung berkicau dengan sangat merdunya, gurun pasir seolah-olah terus bertakbir, memuji Sang penciptanya, yang menciptakan alam beserta isinya. Hatiku ikut berdesir, seraya terus berdzikir.

Pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya, bangunan dari tanah liat yang kering tersusun dengan sangat sederhana, ditambah jalanan kota Tarim yang berhasil membuatku terpesona, para masjid tersebar disetiap penjuru kota, sekitar 360 masjid semuanya makmur dipenuhi oleh para penduduk kota, dari yang muda hingga lansia.

Oh, betapa indahnya negeri para wali, negeri yang selalu mengingatkan kita ke Sang Ilahi. Baru pertama kali aku menginjakan kaki di kota yang mulia ini, rasanya sangat tenang sekali. Lantunkan ayat suci Al-Qur'an, salawatan, dzikir yang memenangkan hati dan perasaan, semuanya saling bersahutan. Ah, rasanya aku tidak ingin pulang.

"Mas, katanya para wanita di kota ini sangat terjaga. Apa betul?" Tanyaku yang tengah dibonceng, seraya tanganku melingkar ke perut sixpack nya.

"Betul sekali, mereka sangat terjaga. Betul-betul sangat terjaga, karena meneladani akhlak daripada ummi Sayyidah Fatimah Az-Zahra, dan istri mulia lainnya, seperti Ibunda Khadijah, Siti Asiyah, Siti Maryam, Siti Aisyah, seperti itu dek. Mereka selalu berada di rumahnya, karena rasa malunya sangat tinggi, hingga mereka tidak ingin melihat dan dilihat oleh para lelaki. Bahkan mereka keluar rumah hanya bisa dihitung oleh jari, sekalinya keluar rumah pasti kalau ada berkepentingan mendesak saja, atau di waktu-waktu tertentu, seperti bada magrib sampai isha. Kenapa waktu tersebut diperbolehkan untuk keluar? Karena itu waktu yang pas, di mana para lelakinya tidak ada yang keluar, semua lelaki berada di masjid-masjid, berdzikir, salawatan, dan melantunkan ayat suci Al-Qur'an, jadi mereka aman. Bahkan nih dek, ketika wanita Tarim sedang berjalan, kemudian dibelakangnya ada seorang lelaki yang sedang berjalan juga, mereka tidak meneruskan langkahnya, melainkan berhenti terlebih dahulu ke samping, lalu mempersilahkan seorang lelaki itu untuk berjalan duluan. Mereka tidak mau menjadi bahan tontonan, makanya mereka terjaga di dalam rumahnya. Oh iya tahu tidak, dek? Wanita Tarim saking malunya ia tidak mau dikenali namanya oleh para lelaki di luar sana. Makanya, mereka suka dipanggil dengan rujukan (kunyah) ke si anak. Misal 'Ummu Ghofafir' berarti Ibunya Ghofafir, seperti itu dek," tuturnya panjang lebar, seraya fokus mengendarai sepeda motor milik temannya.

Aku mengangguk-anggukan kepala.

"Masya Allah Tabarakallah, sungguh aku dibuat takjub mas oleh pesona kota Tarim. Para penduduknya, dan begitupun dengan para wanitanya, mereka benar-benar sangat terjaga. Terus pas adek perhatikan juga, anak kecil di sini rata-rata pada hafal Qur'an semuanya? Apa betul, mas?" Tanyaku kembali.

"Rata-rata seperti itu, ia dari sejak dini dididik dengan sebaik-baiknya pendidikan. Dari mulai kandungan mereka sering mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an dari Ibunya. Makanya jadi seorang Ibu itu harus cerdas, paham ilmu Agama, kelak ia akan menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya. Wanita di sini lisannya selalu basah oleh lantunan salawat kepada Baginda. Bukan hanya puluhan, ratusan, melainkan puluhan ribu mereka tak henti-hentinya salawat dan berdzikir mengingat Sang Pencipta dan kekasih-Nya. Memasak sambil dzikir, mengerjakan pekerjaan rumah sambil dzikir, bahkan beraktivitas pun mereka tak henti-hentinya sambilan berdzikir," ucapnya, lalu ia menunjuk ke suatu tempat.

"Masya Allah, tempat apa itu mas?" Tanyaku penasaran, seraya tatapanku terus tertuju pada tempat itu.

"Nah itu namanya masjid Al-Muhdor, salah satu masjid bersejarah di Tarim, yang dibangun oleh seorang wali besar yaitu Al-imam Umar Al-Muhdor bin Abdurrahman Assegaf, konon menara masjid Al-Muhdor merupakan menara dari tanah liat tertinggi yang ada di dunia," ucapnya, seraya bernostalgia.

"Tabarakallah, sungguh sangat menakjubkan," tuturnya, seraya tidak berhenti-hentinya dibuat kagum.

Setelah beberapa saat.

"Itu ada masjid lagi, dek," ucapnya seraya menunjuk.

"Itu masjid apa, Mas?" Tanyaku yang berkali-kali dibuatnya penasaran.

"Nah. Kalau itu namanya masjid Ba'alawy. Masjid yang paling disakralkan di kota Tarim, bahkan kata habib Ahmadi bin Hasan Al-Athos bahwa masjid Ba'alawy menjadi jantungnya kota Tarim," jelasnya, yang serba tahu.

"Ouh, Masya Allah. Banyak masjid ya Mas di kota ini."

"Banyak, dek. Sekitar ada 360 Masjid. Penuh semua jamaahnya. Para pedagang yang ketika berjualan, kemudian mendengar suara adzan, mereka langsung meninggalkan barang dagangannya, lalu memenuhi panggilan-Nya. Tidak peduli dengan dagangan, karena mereka sudah menyerahkan dan menitipkannya kepada Tuhan. Masya Allah bukan?"

"Wah, Masya Allah banget, mas."

"Semoga anak kita nanti tumbuh menjadi anak yang shalih-shalihah sebagaimana anak-anak yang ada di kota ini ya, mas," ucapku, yang masih anteng memeluknya dari arah belakang.

"Iya dek, Aamiin, dan yang jadi pertanyaannya, kita mau kapan nih bikinnya?" Tanyanya yang mulai ngelantur.

"Euu-- maksudnya?" Tanyaku pura-pura tidak tahu.

"Pulang dari sini ya?" Tanyanya yang seraya ngode.

"Iya nanti kita bikin kopi ya, mas!"

"Lah?"

"Terus? Gak mau?"

"Iya deh iya!" Ketusnya.

Hampir tiga jam kami berkeliling di kota yang penuh akan hikmahnya. Kota Tarim yang jalanannya seolah-olah menjadi guru bagi yang tidak punya guru. Sehingga yang menginjakan kaki di kota ini, seakan-akan ia sedang belajar, bagaimana rasanya dekat kepada Tuhan, dengan hanya menelusuri jalananya, memperhatikan penduduknya, dan meneladani akhlak dan budi pekertinya.

Tidak terasa waktu cepat berputar, rasanya ingin berlama-lama menikmati pemandangan yang tidak ada di Indonesia. Dulu kota Tarim itu hanya sebatas nama yang aku dengar, eh kini ia menjelma hadir, mungkin ini sebuah takdir yang membawaku ke negeri para wali ini. Terima kasih ya Rabbi, aku sangat bersyukur sekali, bisa menginjakan kaki di tempat yang mulia ini.

Tibalah kami di apartemen, Mas Angkasa merebahkan badan tanda ia kelelahan, aku langsung pergi ke dapur, menyeduhkan kopi, lalu menyuguhkan kepadanya yang sudah menanti. Ah ini bukan hanya satu kali, melainkan sudah menjadi kewajibanku sebagai istri, yang harus melayani dengan senang hati.

"Monggo, mas di minum kopinya," ucapku, seraya menyodorkan segelas kopi hitam yang masih panas.

"Makasih toh, dek. Sepakat ya, kita bikin sekarang," ucapnya tiba-tiba.

"Ndak capek emang mas?" Tanyaku heran.

"Tuh, berarti udah paham. Alhamdulillah, gak usah di kode lagi ya. Malam ini pokoknya," tuturnya sumringah.

"Apa maksudnya?"

"Ah pura-pura ndak tahu aja! Mari Istirahat dek, kan malam kita begadang," ucapnya, seraya menarik badanku, hingga jatuh merebah didekapnya.

"Mmm, mas!"

"Abis kena terik matahari juga tetap cantik kamu, dek," pujinya, ntah yang ke berapa kalinya.

"Ah, bisa aja! Gini nih kalau ada maunya!"

"Haha."

"Ketawa!"

"Cantik."

"Udah ah diem!"

"Cantik aslinyaaa," teriaknya, seraya memeluk erat tubuhku.

"Ah, mas! Sakit!"

"Haha."

"Jail banget dah, suamiku!"

"Gak papa, asal kamu cinta wahai istriku."


Ukhty BarbarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang