Diam seribu bahasa, itulah ekspresinya sekarang. Ntah kenapa ia tiba-tiba terdiam seperti ini, apakah karena wajahku yang terlihat tadi? Ah memang sungguh menggemaskan sekali suamiku yang satu ini. Kucoba untuk menghibur hatinya, dengan menatapnya lama, seraya mendongakkan kepala.
"Hmm!" Gumamnya singkat, seraya tangannya langsung mengusap wajahku, yang masih ertutup selembar kain selama berjam-jam.
"Bi, sayang gak si sama adek?" Tanyaku memelas.
"Sayang."
"Singkat banget dah, yang bener ah sayang atau nggak, Abi," rengekku manja, seraya memegang tangannya.
"Abi-abi! Belum juga punya anak, dah dipanggil Abi aja!" Ketusnya tidak terima.
"Haha, tidak apa-apa, Insya Allah jadi doa."
"Aamiin."
"Katanya mas sayang, tapi kenapa gak kesian sama adek, buka cadar aja gak boleh ih, gerah mas," rengekku kembali.
"Justru mas nyuruh kamu pakai cadar, karena mas sayang sama kamu, dek. Yaudah, sini lepas cadarnya, kebetulan sekarang malam, jadi Insya Allah aman," ucapnya seraya melepaskan cadarku.
"Alhamdulillah."
"Masya Allah, cantik banget kamu, dek!" Pujinya yang kesekian kali, seraya menatapku lama sekali.
"Udah ah bosan, bilang itu mulu!" Ketusku, seraya bersandar di bahunya.
"Aslinya, kamu cantik. Siapa saja yang melihatmu pasti akan tertarik, dan pantas saja tadi pas kamu buka cadar, banyak yang melirik, dek."
"Terus, mas cemburu gituh? Kan adeknya juga biasa aja--
"Tetap saja! Laki-laki mana yang tidak cemburu, ketika melihat istrinya ditatap oleh lelaki lain? Sudah! Cukup hanya aku, ayahmu, yang semahrom denganmu, yang bisa memandang wajahmu, yang lain? Jangan sampai!"
"Secemburu itu ya," ledekku.
"Gak tau ah!" Ketusnya, seraya duduknya langsung bergeser menjauhiku.
Aku yang semula menyender ke bahunya, hingga terjatuh, dengan sigap tangannya langsung menangkap tubuhku, hingga aku berada dalam pangkuannya. Tepat jam setengah sebelas malam, pandangan kami beradu. Ada apa dengan cinta? Kenapa ia tumbuh hanya dengan tatapan mata?
Aku tersenyum, ia pun membalas senyumku. Padam sudah amarahnya, dengan hal yang sederhana, hanya dengan tatapan mata, kami telah kembali jatuh cinta.
"Jangan nakal ya, dek," bisik Mas Angkasa lembut.
Aku mengangguk, seraya melingkarkan tanganku di pinggangnya, hingga wajahku terbenam. Tangannya bergerak perlahan menyentuh kepalaku, mengusapnya dengan pelan.
"Tidur dek, sudah malam."
"Mas juga, tidur."
"Iya ini mas mau tidur."
Pesawat Indonesia-Yaman meluncur di keheningan malam. Aku sesekali membuka mata untuk merasakan betapa indahnya dunia. Terbang tinggi, jauh sekali. Rasanya beban pikiranku ikut terbang melayang, bersama awan hitam di tengah-tengah pekatnya malam.
Namun angin sangat kencang, udara malam membuatku menggigil kedinginan, hingga aku tak kuasa, kakiku kaku beku, bibirku pucat pasi, tanganku gemetar, dan mataku terus terpejam. Allahuakbar, aku kedinginan bergerak saja sudah tidak bisa, apalagi untuk berkata-kata, rasanya memanggil Mas Angkasa pun aku sudah tak kuasa.
Remang-remang kulihat Mas Angkasa membuka mata, ia sedikit heran melihatku terdiam seribu bahasa.
"Dek," panggilnya, seraya menepuk-nepuk pipiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ukhty Barbar
RomanceBarbarku hanya sekedar hiasan, untuk mendapatkanmu ku hanya menunggu takdir Ilahi.
