Betapa Cemburunya

96 4 0
                                        

Sepekan kemudian, kami siap-siap karena tepat pukul sembilan malam kami akan meluncur ke bandara, dengan persiapan yang sudah di kemas ke dalam koper yang berukuran besar. Mas Angkasa sibuk mengabari teman dekatnya, yaitu ustaz Rizqy yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya.

Triling!

"Mas," panggilku, yang tengah sibuk memoles wajah di depan cermin rias.

"Apa, dek?" Sahutnya, dari arah luar, kemudian ia bergegas masuk ke dalam kamar.

"Ini ada telepon, mas," ucapku.

"Ouh, iya ustaz Rizqy," ujarnya, seraya mengangkat telepon yang sudah lama berdering.

"Assalamualaikum, ustaz?"

"Waalaikumussalam, Angka."

"Ustaz katanya mau ke rumahku? Jadi atau tidak?" Ini udah mau jam sembilan," tutur Mas Angkasa dibalik telepon.

"Iya jadi, ini saya bersama istri sudah ada di depan rumahmu," jawab Ustaz Rizqy.

"Ouh, baik ustaz aku ke sana."

"Dek, dek," panggil Mas Angkasa seraya menepuk-nepuk pundakku, dari arah belakang.

"Apa mas?" Tanyaku, yang tengah sibuk memoles wajah yang tak kunjung selesai-selesai, sudah satu jam lamanya.

"Ayo buru siap-siap nya, itu ustazah Marwah udah sampai, dia lagi nunggu di depan. Kamu udah cantik dek, ya Allah gak usah pakai bedak-bedak segala, ah," omel Mas Angkasa tanpa henti.

"Iya-iya ini mas, tinggal menyisir rambut doang, kok," ujarku memelas.

"Yasudah, mas mau menjamu tamu dulu, ya."

"Iya, silahkan suamiku."

Malam ini terasa berbeda dari malam sebelumnya, aku akan pergi ke luar bersama Mas Angkasa, dan Ustazah Marwah berikut suaminya, di mana keluarnya bukan keluar rumah lagi, melainkan hendak keluar negeri, Alhamdulillah aku sangat bahagia, pasti ustazah Marwah juga merasakan hal yang sama. Ah, sudah lama aku tidak ketemu ustazah, biasanya setiap jam kami nempel terus ke mana-mana.

Mas Angkasa masuk kembali ke dalam kamar, dan betapa kagetnya ia melihatku, tengah berjuang menyisir rambut yang kusut. Wajahnya langsung merah padam, tanda ia sangat kesal melihatku yang tak kunjung siap, ditambah waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam.

"Dek, kamu belum juga siap?" Tanyanya keheranan.

"Maafin mas, bukan mas aja yang kesal, aku juga sama kesal, dari tadi rambutku susah diaturnya. Tuh, kan susah, hiks hiks," rengekku seraya menangis saking kesalnya.

"Wanita-wanita, makhluk terlama di dunia. Sini mas bantu," ketusnya, seraya meraih sisir dari tanganku.

"Kamu siap-siap jam berapa, dek?" Tanyanya, seraya menyisir rambut panjangku.

"Jam setengah delapan," jawabku, seraya berjalan mengambil hijab dan cadar, dan tidak peduli Mas Angkasa keteteran karena diriku yang tidak bisa diam.

"Tuh, dek kamu di depan cermin hampir dua jam! Lihat dong mas, tanpa cermin pun sudah tampan, cukup lima menit, selesai!" Omelnya yang tiada henti.

"Ya beda, mas!"

"Iya beda, karena wanita itu makhluk paling ribet, titik! Sini mas pakaikan hijab sama cadarnya," pintanya, seraya membalikkan tubuhku, hingga berhadap-hadapan dengannya.

Namun, aku heran kenapa ia tak kunjung memakaikan hijab, malah ia fokus menatapku. Pandangan kami beradu, tangannya memegang ke dua bahu, wajahnya mendekat hingga nafasnya yang berburu terasa olehku, dengan penuh hati-hati ia mengecup dahi.

Ukhty BarbarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang