PoV Angkasa
Sudah dua bulan kami tinggal di kota ini, kota seribu wali yang pasti akan kami rindukan kembali. Bagaimana tidak rindu? Sementara sedetik saja memejamkan mata, rasanya tidak sanggup karena rindu ini kian berdegup. Bagaimana nanti? Saat kami pulang ke tanah Indonesia? Mungkin kota Tarim hanya akan menjadi cerita. Sungguh kami belum siap dengan itu semua.
Akhir-akhir ini istriku sangat berbeda. Kenapa ia kelihatannya lemas tak berdaya? Yang biasanya rajin mengerjakan semua aktivitas rumah tangga, tapi kini sedikit-sedikit ia langsung merebahkan badannya. Oh, Tuhan, apakah ini hanya sebatas ujian? Yang dikirim oleh-Mu lewat istriku yang pemalasan? Sungguh aku benar-benar kesal, ketika melihat sebuah ruangan berantakan, apalagi kamar yang tidak dibereskan, buku-buku yang ada di rak tidak dirapihkan, baju kotor numpuk belum dicuci, hingga hatiku makin kesal sekali.
Alhamdulilah usai dari pasar, aku masuk ke kamar. Tidak ada yang berubah, masih berantakan seperti kapal pecah. Ku lihat istriku sedang telungkup dengan santainya, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Satu hari, dua hari, tiga hari, bahkan seminggu aku masih sabar menghadapi tingkahnya. Namun hari ini? Tidak, tidak akan kubiarkan ia bermalas-malasan sementara banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Dek!" Panggilku dengan nada tinggi.
"Apa, mas?" Sahutnya, seraya terlungkup di atas kasur yang empuk.
"Kenapa mas lihat, akhir-akhir ini kamu sering banget rebahan, kenapa emang?" Tanyaku baik-baik, seraya duduk dipinggir kasur.
"Nggak papa," jawabnya singkat.
"Hah? Kenapa aku nanya, dek! Jawab yang benar!" Tegasku.
"Nggak papa, mas," jawabnya datar.
"Kenapa? Sakit?" Tanyaku kembali, seraya menempelkan punggung tanganku di dahinya.
Tidak sakit, suhu badannya normal, tidak demam. Ia langsung mengibaskan tanganku seolah-olah tidak mau disentuh. Ada apa dengannya? Aku tidak tahu. Kelemahan seorang lelaki yaitu ia sulit memahami wanitanya, emang seorang wanita itu ribet, inginnya dimengerti, tapi kali ini aku sulit memahami.
"Dek, kalau ada masalah, bilang! Jangan dipendam!" Tegurku, masih dengan nada santai.
"Hmm," gumamnya, seraya langsung menutup wajah masamnya dengan bantal.
"Yaudah, mas beresin ya kamarnya. Tidur aja sana, gak papa!" Ketusku, seraya langsung bangkit membereskan semuanya.
Aku mulai membereskan seprai, bantal-bantal yang berantakan. Tak ku hiraukan ia yang masih merebah, terlelap dalam tidurnya. Selama kurang lebih satu tahun kami menjalani hidup bersama, baru kali ini ia seperti itu, tidak biasanya. Apakah ia sedang menunjukkan sifat aslinya? Ah, aku tidak tahu, kenapa benar-benar ia berubah seperti itu?
Syut! Jangan berpikiran negatif, karena itu tidak baik, tetap dia adalah istriku, yang harus ku jaga, ku lindungi keberadaannya. Saat ku menyelimuti tubuhnya, ia tiba-tiba memegang tanganku, seraya memanggil dengan lemasnya, "Mas."
"Iya kenapa, dek?" Tanyaku khawatir.
Wah, gak beres, dia sedang tidak baik-baik saja, terlihat dari tubuhnya, lemas, tapi tidak panas, bibirnya pucat pasi, matanya terlihat lelah sekali, tidak ada senyuman yang terukir dari bibir mungilnya, ia hanya terpejam memegang tangan dengan sangat seratnya.
"Akhir-akhir ini--
"Kenapa dek kenapa?" Potongku, karena ia lambat bicaranya.
"Euu-- nggak deh mas"
"Kenapa, dek? Sebelah mana yang sakitnya?" Tanyaku khawatir, seraya menepuk pelan pipinya.
"Ntah kenapa, akhir-akhir ini aku selalu pening, mas," rengeknya, seraya memegang kepala.
"Allahu, kenapa kamu baru bilang sekarang? Ayo kita ke rumah sakit," ajakku, seraya langsung memangku tubuhnya.
"Nggak usah, mas."
"Tidak, dek kamu harus periksa!"
Aku menengok ke kanan dan ke kiri, tak kunjung ada transportasi. Kurang lebih setengah jam aku menunggu, akhirnya ada angkutan umum yang kebetulan lewat ke arahku. Belum juga aku menghentikan, tiba-tiba mobil itu berhenti tepat di depan, ia langsung mempersilahkan aku masuk.
Alhamdulillah, sampailah kami di mustasyfa (rumah sakit) hingga akhirnya ia merebah, dipanggil lah sang dokter oleh susternya. Beberapa menit kami menunggu, dokter itu akhirnya datang juga, tapi sayang dokternya laki-laki bukan wanita. Tidak! Tidak! Jangan sampai istriku diperiksa oleh seorang dokter pria, nanti dia terpesona melihat istriku yang cantiknya tiada tara, aku tak rela, sungguh aku tidak rela!
"Dek, pindah yuk! Jangan ke rumah sakit ini!" Ajakku seraya pamit tanpa permisi.
"Ke rumah sakit mana lagi, mas?" Tanyanya memelas.
"Nanti kita cari."
Saking buru-buru nya, aku sampai lupa memasangkan cadar di wajahnya, ah ini memang salahku. Namun tidak apa-apa, semoga aku menemukan seorang dokter yang akan memeriksa tubuhnya. Setelah berusaha mencari ke sana kemari, hingga akhirnya bertemulah kami dengan dokter wanita ternyata ia guru BP ku pas jaman SMA, ia sama-sama asli Indonesia, tapi nasib kami saja yang berbeda. Aku menjadi ustaz muda, sementara ia menjadi dokter di salah satu mustasyfa. Eh, bentar, bukankah nama guru BP itu Bu Asia? Yang nge DO Keenandyra dari SMA?
"Angkasa?" Tanya Bu Asia, seraya menunjuk ke arahku yang tengah memangku istriku.
"Bu Asia?" Tanyaku kembali.
"Pindah! Aku gak mau periksa di sini, mas!" Pinta istriku dengan kekehnya.
"Hah? Pindah?"
"Iya, pindah! Titik!"
"Iya, iya."
Sebenarnya, aku ragu untuk pindah tempat, karena harus ke mana lagi mencari mustasyfa terdekat? Sementara aku sudah tidak kuat, memangku tubuhnya yang cukup berat.
"Dek, ke mana lagi?" Tanyaku, yang hampir menyerah dan pasrah.
"Pulang saja, mas. Aku tidak apa-apa, kok."
"Tidak apa-apa, bagaimana?! Tubuhmu lemas, dek!"
"Tidak, mas aku hanya--
"Sudah diam! Kita cari lagi rumah sakit terdekat. Semoga kamu kuat."
"Ada juga, semoga mas yang kuat, kan menggendong tubuhku yang berat."
"Iya, Aamiin banyakin doa ya dek."
"Siap suamiku, love you."
"Hmm."
"Tuh."
"Iya, iya, Love you to istriku."
Setelah sekian lama kami terus mencari, hingga yang ke tiga kalinya, kami menemukan seorang dokter yang tepat. Tak berselang lama istriku langsung ku bawa ke sebuah ruangan, untuk diperiksa tubuhnya apakah baik-baik saja atau tidak. Sungguh aku sangat khawatir, karena akhir-akhir ini katanya ia sering pening.
"Bagaimana dengan kondisi istri saya, dok?" Tanyaku khawatir.
"Pusing?" Tanyanya, seraya matanya tertuju pada istriku, yang tengah merebah badannya dengan sangat lemasnya.
Istriku mengangguk.
"Mual-mual, ingin muntah?" Tanyanya kembali.
Istriku mengangguk lagi.
"Lemas badannya?" Tanya dokter yang kesekian kali.
Istriku mengangguk kepalanya yang ke tiga kali.
"Selamat, istri bapak dinyatakan positif, ia sedang mengandung."
Aku terdiam seribu bahasa, sungguh aku tidak percaya, aku akan punya gelar seorang Abi untuk anakku nanti, dan istriku sembilan bulan lagi akan ku panggil ummi. Alhamdulillah, aku sangat senang sekali, terima kasih ya Rabb.
"Serius, dok?" Tanyaku yang masih tidak menyangka.
"Iya, serius."
"Alhamdulillah, terima kasih cantik. Kau sudah memberikanku kebahagiaan berupa seorang anak yang akan menjadi pelengkap kehidupan," bisikku di dekat telinganya.
Much!
"Terima kasih, ummi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ukhty Barbar
RomanceBarbarku hanya sekedar hiasan, untuk mendapatkanmu ku hanya menunggu takdir Ilahi.
