PoV Ustaz Rizqy
Pesawat Indonesia-Yaman telah mendarat di bandara. Semua penumpang bergiliran untuk turun dari tangga. Aku yang masih anteng menikmati sebuah pemandangan dibalik kaca bening. Sungguh indah pesona Negeri timur tengah ini, walau panas, banyak gurun pasir. Namun tetap terasa indah, karena inilah kota yang penuh dengan berkah dan karomah.
Banyak orang dari berbagai panca negara yang berbondong-bondong untuk pergi ziarah ke kota ini, termasuk negara Indonesia, karena banyak sekali maqom para wali, mungkin dengan banyaknya para wali, maka pantas saja kota ini dijuluki dengan kota seribu wali. Aku berkali-kali terpesona dengan akhlak dan budi pekerti penduduknya, ini baru di lingkungan bandara, belum ke kota tarimnya.
"Assalamualaikum ya Akhy. Min Aina anta?" Tanya seorang pemuda yang tiba-tiba menghampiriku, seraya menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.
"Waalaikumussalam, ana min Indonisiyya," jawabku memakai bahasa arab untuk menyesuaikan.
Bahasa arab adalah bahasa sehari-hari di sana. Alhamdulillah aku sedikit bisa, karena sudah diajarkan oleh Abi di rumah, dan bahkan aku menjadi guru bahasa arab di sekolah.
"Ya khoir, kebetulan saya juga dari Indonesia," jawabnya seraya tersenyum memperlihatkan gingsul manisnya.
"Alhamdulillah, man ismuka?" Tanyaku menanyakan namanya.
"Ana Angkasa, wa anta?" Tanyanya kembali.
"Saya Muhammad Rizqy Hasbillah, panggil saja Rizqy, nama lengkapnya siapa kak?" Tanyaku yang ke sekian kalinya.
"Angkasaaaaa," candanya seraya tertawa.
Aku refleks melihat ke atas.
"Yaelah, jangan liat ke langit juga kali, Kak."
"Haha, iya maaf-maaf."
Aku dipertemukan dengan seorang pemuda yang bernama Angkasa, kebetulan dia hendak menuntut ilmu juga, di universitas yang sama, yaitu Universitas Al-Ahgaff Yaman, dan bukan hanya satu universitas, melainkan kita juga satu fakultas bahkan satu apartemen. Sungguh diluar rencana, kenapa tujuan kita sama, tanpa ada perjanjian sebelumnya.
Terik mentari tepat berada di atas kepala kami. Kota Tarim yang terbilang gersang, tapi anehnya kami selalu dibuat tenang, oleh jalanan nya, penduduknya, dan yang paling berkesan yaitu, kami tidak melihat seorang perempuan yang jalan-jalan, apalagi keluyuran. Mereka benar-benar terjaga di dalam rumahnya.
"Aku heran sama perempuan yang ada di kota, ini Rizqy," ujarnya keheranan, seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Memangnya kenapa Angka? Toh dia sama seperti wanita di Indonesia, sama-sama wanita, hehe," jelas ku.
"Gak gitu, maksudnya kenapa dia selalu berada di rumahnya? Emang tidak bosen ya?" Tanyanya polos.
"Tidak, mereka sudah dididik seperti itu sejak dini. Justru itu bagus, dia meneladani akhlak Ibunda Sayyidah Fatimah Az-Zahra, yang punya rasa malu tinggi, tidak ingin melihat dan dilihat oleh lelaki yang bukan mahram," ucapku menjelaskan kronologis yang sebenarnya.
"Wah, ternyata aku salah besar ya, kenapa aku memilih tinggal di sini, tidak ada yang dilihat, tidak ada cewek cantik, cewek bening, dan--
"Istighfar Angkaaa! Kita ke sini untuk apa tujuannya? Untuk tholabul ilmi, kan, bukan tholabul jodoh ma'a imro'ah Jamilah?" Sindirku memakai bahasa arab yang dipadukan dengan bahasa Indonesia.
"Haha, iya-iya ustaz."
Sunguh, tingkah Angkasa 99,9% mirip dengan tingkahnya si Keenandyra. Ya, selain dari parasnya yang sama-sama rupawan, tapi sikapnya juga yang barbar gak ketulungan. Dikira aku tidak akan ketemu dengan makhluk yang seperti ini lagi ya Rabb, eh malah dipertemukan kembali di negerinya para wali, tapi Alhamdulillah, ini semua rencana-Nya, dan Insya Allah yang terbaik untuk ke depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ukhty Barbar
RomanceBarbarku hanya sekedar hiasan, untuk mendapatkanmu ku hanya menunggu takdir Ilahi.
