Hari ini Maulana ditunjuk sebagai Imam Sholat, ia ingin menolak karena merasa tidak enak hati pada Yusuf dan Guru laki-laki yang lebih tua.
Saat Maulana sudah berdiri di tempat pengimaman, Fransis dan Sui berdiri di depan pintu gerbang menggantikan satpam, mereka terbiasa melakukan hal itu sejak 10 tahu yang lalu ketika mereka bertiga melarikan diri dari Carlos Santana.
Fransis dan Sui beragama Kristen sedangkan Maulana beragama Islam, ketika Fransis dan Sui melakukan ibadah mereka, Maulana menjaga mereka berdua, waspada bilamana anak buah Carlos Santana menyerang.
Begitu juga ketika Maulana mulai sholat, Fransis dan Sui tanpa diminta langsung ambil sikap posisi menjaga, agar tidak ada yang mengganggu pria itu sholat.
Sahir, seorang satpam memandang kedua pria itu tidak mengerti, setiap kali Maulana jadi Imam Sholat, mereka selalu berjaga di luar dengan waspada.
Sahir berjalan mendekati Fransis dan bertanya,"Pak Fransis, apakah Bapak tidak ikut sholat saja."
"Dia Kristen." Sui mewakili Fransis menjawab, pria rambut kuning itu tidak ada menjawab pertanyaan apapun ketika sudah berjaga.
Sahir mengangguk."Maaf, saya tidak tahu."
"Tidak apa-apa, tenang saja." Sui tersenyum ramah, sebenarnya Sui tidak kerja di SMA Dirgantara, namun dimanapun Maulana berada, mereka berdua ikut.
Sahir mengangguk, ia berdiri di dalam pagar memperhatikan para murid sholat, berjaga kalau ada yang ribut.
Setelah sholat dhuha selesai, para murid mengeluarkan buku tulis untuk mencatat ceramah agama.
Maulana berdiri di depan para murid, menghadap mereka dengan memegang mikrofon.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Serempak semua murid menjawab salam tersebut.
"Imam Muslim meriwayatkan hadits, isinya seperti ini.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى
Dari Abu Dzar, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: 'Setiap pagi, pada setiap ruas anggota badan kalian ada sedekah. Setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu akbar) adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma'ruf (baik) adalah sedekah, dan mencegah dari yang munkar (buruk) adalah sedekah. Semua itu dapat diganti dengan sholat Dhuha dua rakaat'.
Bayangkan jika 360 ruas atau persendian semuanya harus bersedekah." Maulana memperhatikan satu persatu murid SMA Dirgantara.
"Bersedekah apa saja, bukankah itu sangat berat?" Maulana kembali bicara.
"Tapi semua itu bisa diganti dengan sholat dhuha, baik bukan?" Maulana tersenyum.
"Masih banyak lagi manfaat sholat duha, karena itu, kalau bisa jangan pernah kalian meninggalkan sholat Dhuha. Kalau Bapak bahas di sini dengan lengkap, nanti tidak selesai -selesai." Maulana kembali tersenyum sambil memperhatikan para murid.
Rangga mengangguk dan Indri terpesona dengan Maulana, sedangkan Fransis dan Sui sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Maulana.
Setelah ceramah pagi selesai dan tanya jawab pun selesai, Maulana mengakhiri dengan salam dan memberi tugas untuk mengumpulkan hasil catatan ceramahnya.
Antonio dan Angga saling memandang, mereka sama sekali tidak mengerjakan dan tidak mencatat ceramah, biasanya juga tidak diberi tugas namun kalau Maulana yang jadi penceramah, selalu diberi tugas.
"Jangan berisik, pura-pura saja sudah ngumpulkan." Antonio bicara pelan, Angga mengangguk.
Tatapan Maulana tidak beralih dari Antonio dan Angga, kedua muridnya itu seperti pencuri, pergi dengan mengendap-endap meninggalkan halaman.
Maulana menyeringai tipis, kemudian kembali memperhatikan para murid mulai dari kelas 1 sampai kelas 3 setelah semua terkumpul, tanpa diminta, Fransis dan Sui datang dan mengambil buku di depan Maulana kemudian membawanya ke ruang kerja pria itu.
Maulana memperhatikan kedua sahabatnya tersebut, ia tersenyum sendiri melihat betapa pengertian mereka terhadap kondisinya saat ini.
Semua murid satu persatu meninggalkan halaman, ada juga yang membantu Sahir membereskan tikar untuk sholat.
Maulana berjalan ke ruang Guru, kemudian mendudukkan diri di mejanya dan menyandarkan punggung di kursi.
Fransis menatap sahabatnya itu prihatin, hanya seperti itu saja sudah kelelahan, padahal dulu sangat kuat."Jika tidak mampu, jangan dipaksa."
Sui mengerutkan kening, ia sama sekali tidak mengerti kenapa Maulana terlihat begitu lemah setelah malam itu, selain itu, dirinya juga tidak mengerti maksud ucapan Fransis.
Maulana menghela nafas, ia kembali menegakkan tubuhnya kemudian mengambil satu buku di antara tumpukan buku tugas siswa.
"Pak Ivan." Rangga melangkahkan kaki mendekati Maulana, di tangannya terdapat sebuah kotak nasi, ia meletakkan kotak nasi tersebut di atas meja Maulana.
Maulana menoleh pada kotak nasi itu, mengangkat pandangan menatap Rangga penasaran.
"Pak Ivan, ini tadi ada orang memberi pada para Guru. Saya ambilkan dua buat Bapak, Bapak terlihat lesu hari ini." Rangga memiringkan kepala memperhatikan wajah putih pucat Maulana.
Maulana tersenyum miris, bahkan Rangga pun tahu kalau dirinya kurang sehat, namun dirinya memiliki sebuah tanggung jawab untuk tetap mengajar para Siswa.
Rangga menarik salah satu kursi lalu duduk di kursi tersebut, tatapan matanya tidak sedikitpun beralih dari Maulana, orang mungkin akan mengira bahwa Rangga sedang jatuh cinta pada Maulana, namun kenyataannya ia hanya kagum dengan kulit putih bersih milik rekan Gurunya tersebut.
"Van, kamu yakin?" Fransis ingin meyakinkan bahwa sahabatnya itu masih sanggup untuk bekerja.
Maulana mengangguk."Ya, kalian kembali saja ke ruang kesehatan." Maulana bicara tanpa memandang kedua sahabatnya tersebut.
Fransis mengangguk, ia pun melangkah kaki keluar dari ruang Guru, diikuti oleh Sui di belakang Fransis.
Rangga memperhatikan Fransis dan Sui, mereka berdua juga tidak kalah tampan hanya saja Sui memiliki tubuh seperti orang Asia sedangkan Maulana dan Fransis seperti orang Eropa hanya saja Maulana memiliki kulit wajah putih bersih.
Rangga kembali memperhatikan Maulana."Pak, nanti kira-kira kumpul di lapangan pukul berapa?"
Maulana mengangkat pandangan ke arah Rangga, gerak jalan dimulai pukul 13:00, jika mereka diminta datang pukul 12:30, ada kemungkinan mereka akan terlambat.
"Saya rasa, lebih baik pukul 12, Pak Rangga. Karena ada beberapa regu mendapatkan nomer urut kecil, Pak."
Rangga mengangguk."Benar, hari ini adalah persiapan gerak jalan. Tapi saya belum tahu regu siapa saja yang bersama saya."
Maulana mengangguk, ia kembali mengambil buku ke dua lalu memeriksa hasil tugas murid."Ya, hari ini memang hanya persiapan gerak jalan saja, Pak. Itu Bu Indri dan Pak Ian sudah menyuruh anak-anak berkumpul."
Rangga menoleh keluar, ternyata apa yang dikatakan Maulana benar, ia kembali mengalihkan perhatian pada Maulana, pria itu terlihat masih sibuk memeriksa tugas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
