weird

181 15 5
                                        

Pagi itu, aku terbangun lebih siang dari biasanya. Sinar matahari yang menyelinap masuk melalui tirai kamarku sudah cukup terang, membuatku segera meraih ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Ada pesan dari Sam, dikirim sekitar 30 menit yang lalu:

"I'm out shopping. In case you stop by and don't find me in the apartment."

Aku tersenyum kecil membaca pesannya. Sam benar-benar perhatian, bahkan hal kecil seperti ini pun ia pikirkan. Aku beranjak dari tempat tidur, membersihkan diri, lalu mengganti pakaian dengan kaus dan celana pendek santai.

Rencanaku hari ini sederhana: pergi ke apartemen Sam untuk menghabiskan waktu bermalas-malasan seharian.

Namun, saat aku keluar dari apartemenku dan berjalan menuju lift, aku berhenti di tengah langkah. Pintu lift terbuka, dan di sana berdiri Sam bersama Alexa, tetangga kami yang juga tinggal di lantai ini. Mereka sedang mengobrol akrab, bahkan terdengar tawa kecil dari Alexa.

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat, dan tanpa berpikir panjang, aku buru-buru berbalik masuk kembali ke apartemenku. Pintu kututup perlahan agar tidak mengeluarkan suara keras.

Aku menunggu beberapa menit, mencoba mengintip melalui lubang pintu untuk memastikan Alexa sudah pergi. Setelah yakin aman, aku keluar lagi dan berjalan cepat menuju apartemen Sam. Saat membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia berikan padaku, aku menghela napas lega.

Sam sudah kembali, terlihat sedang membereskan beberapa kantong belanjaan di dapur. Dia menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka.

"Good morning," sapanya santai sambil tersenyum.

"Morning," balasku sambil melepas sandal dan berjalan ke arahnya.

"Have you had breakfast?" tanyanya, memandangku sambil melipat kantong belanjaan.

Aku menggeleng. "Belum. Aku langsung ke sini."

Sam membuka kulkas dan mengeluarkan piring berisi pancake. "I made these this morning. Mau coba?"

"Pancake buatan Bapak Samuel Hennessy? Of course. Siapa yang bisa nolak?" Aku duduk di meja makan, menerima piring itu darinya. Pancakenya terlihat sempurna, dilapisi sirup maple dengan taburan blueberry di atasnya.

Saat aku mulai makan, Sam duduk di seberangku, menatapku dengan ekspresi lembut. "How's your sleep last night?"

Aku tersenyum kecil, memainkan garpuku di pancake. "Cukup nyenyak, tapi rasanya kurang lengkap."

Sam mengangkat alis, terlihat penasaran. "Oh ya? Why?"

Aku menatapnya dengan mata berbinar, mencoba menahan senyum nakal. "Karena nggak ada kamu di sampingku."

Sam menghela napas pendek, meskipun aku bisa melihat sudut bibirnya terangkat sedikit. "Anna, You really like to tease."

Aku terkikik, merasa puas melihat reaksinya. "Aku serius, Sam. Maybe I should just move in here? Biar aku nggak perlu bolak-balik ke apartemenku lagi."

Sam menatapku, berpura-pura memikirkan ucapanku dengan serius. "Hmm, kalau kamu pindah, artinya aku harus menyesuaikan semuanya. You like to make a little mess in the kitchen."

Aku memutar bola mata, tertawa kecil. "Please. Kamu sendiri yang selalu bikin dapurmu berantakan kalau masak."

Sam tertawa pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Tapi kalau kamu benar-benar pindah... mungkin aku nggak keberatan."

Jantungku sedikit berdebar mendengar ucapannya. Meskipun ia berkata santai, ada sesuatu dalam tatapannya yang terasa serius. Aku hanya tersenyum kecil, melanjutkan makan pancakenya yang ternyata sangat enak.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang