looping

101 12 6
                                        

Hari ini berlalu dengan cukup cepat. Aku sibuk dengan pekerjaan seperti biasa, tapi di sela-sela itu, aku menyadari satu hal—Sam masih belum menghubungiku.

Aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Mungkin dia benar-benar sibuk dengan keluarganya di Boston. Atau mungkin perbedaan waktu membuatnya sulit mencari waktu yang pas untuk berbicara denganku.

Aku menepis semua pikiran itu dan fokus pada pekerjaanku. Hari ini, aku bisa pulang lebih awal, sesuatu yang cukup langka mengingat betapa sibuknya aku belakangan ini.

Saat aku keluar dari gedung kantor, aku melihat Vincent berdiri di dekat mobilnya, tampaknya sedang menunggu seseorang. Begitu dia melihatku, dia tersenyum.

"Going home already?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Yeah, finally. Feels weird leaving the office before dark."

Vincent tertawa kecil. "Well, how about I give you a ride home again? I promise I won't kidnap you."

Aku menggeleng sambil tersenyum. "That joke is getting old, Vincent."

"Tapi berhasil kan? You're smiling," katanya, masih dengan nada bercanda.

Aku tertawa kecil dan akhirnya setuju untuk pulang bersama Vincent lagi.

Sepanjang perjalanan, kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari proyek yang sedang dikerjakan hingga hal-hal random seperti desain bangunan yang menurut kami aneh dan lucu. Vincent selalu tahu bagaimana membuat percakapan terasa menyenangkan.

Aku bahkan tidak menyadari betapa cepatnya waktu berlalu sampai mobilnya berhenti di depan apartemenku.

"That was fun," kataku sambil melepas seatbelt.

Vincent mengangguk. "Yeah, we should do this more often."

Aku tertawa kecil. "We'll see about that."

Saat aku membuka pintu mobil dan turun, aku masih tersenyum, mengingat salah satu lelucon Vincent tentang desain bangunan berbentuk seperti kue tart.

Tapi begitu aku menutup pintu mobil dan berbalik menuju lobby apartemen, langkahku terhenti.

Di depan lobby, berdiri seorang pria dengan coat hitam, posturnya tegap dan familiar.

Sam.

Matanya langsung tertuju padaku, atau lebih tepatnya, pada aku yang baru saja turun dari mobil Vincent sambil tertawa.

Ekspresinya sulit dibaca—bukan marah, bukan terkejut, tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku merasa seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.

Tiba-tiba, rasa canggung menyelimuti udara di sekitarku.

Aku menghela napas dan memberanikan diri melangkah mendekat ke arah Sam. Aku tidak mengerti kenapa aku merasa gugup, tapi tatapan matanya yang dingin membuat dadaku sedikit sesak.

Begitu aku cukup dekat, Sam langsung membuka suara, suaranya rendah namun tajam.

"Pantas saja kamu nggak ada waktu untukku."

Aku mengerutkan kening. "Maksud kamu?"

Sam menyilangkan tangannya di dada, ekspresinya datar tapi aku bisa melihat rahangnya mengeras. "Selama di Boston, aku hampir selalu yang menghubungi duluan, dan akhir-akhir ini kamu makin sulit dihubungi. Sekarang aku balik ke sini, dan aku lihat kamu tertawa-tawa dengan pria lain di mobilnya."

Aku mengerjap, mencoba mencerna kata-katanya. "Oh come on Sam, itu bukan seperti yang kamu pikirkan."

"Oh yeah?" Dia tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. "Then tell me, what exactly is it?"

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang