Aku dan anak itu melangkah masuk ke apartemenku. Dengan gerakan refleks, aku menyalakan lampu dan menoleh ke arahnya. "Kamu bisa duduk di sofa," kataku sambil menunjuk sofa empuk di ruang tamu. "Buat dirimu nyaman, ya."
Dia memandangku sejenak sebelum berjalan pelan ke sofa. Tas kecilnya tetap dipeluk erat, seperti harta paling berharga. Aku tersenyum tipis, mencoba membuatnya merasa lebih tenang.
"Aku buatkan makan malam untuk kita dulu ya," ujarku sambil melepas blazer dan menggantungnya di gantungan dekat pintu. "Kamu pasti lapar, kan?"
Dia hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa. Aku pun melangkah ke dapur dengan niat memasak sesuatu yang cukup berat. Membuka lemari penyimpanan, aku mulai memeriksa bahan-bahan yang ada. Tapi setelah memeriksa rak demi rak, aku menyadari satu hal: persediaanku kosong!
Aku menghela napas panjang. Bagaimana bisa aku lupa berbelanja bahan makanan? Aku kembali ke ruang tamu dan mendapati dia masih duduk di sofa, menggoyangkan kakinya dengan gelisah. "Hei," panggilku lembut. "Sepertinya aku nggak punya bahan makanan untuk dimasak. Jadi aku akan pesan makanan saja, ya?"
Dia hanya mengangguk lagi. Aku memesan makanan melalui aplikasi di ponselku, memastikan memilih makanan yang cocok untuk anak-anak. Setelah selesai, aku menatapnya lagi. "Sambil nunggu makanannya datang, kamu mau ngemil dulu?"
Anak itu tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk pelan. Aku membuka lemari penyimpanan dan mengambil sekotak biskuit dan beberapa keripik. Aku membawa camilan itu ke meja kopi di ruang tamu dan meletakkannya di depannya. "Ini, ambil aja. Jangan sungkan."
Awalnya, dia terlihat malu-malu. Tapi setelah aku membuka bungkus biskuit dan memakannya lebih dulu, dia akhirnya mulai meraih satu dan menggigitnya. "Gimana? Enak?" tanyaku sambil tersenyum.
Dia mengangguk kecil, matanya tetap tertunduk.
Sambil menikmati biskuit, aku mencoba membuka percakapan. "Ngomong-ngomong, nama kamu siapa?"
Dia menatapku sejenak sebelum menjawab pelan, "Jonathan. Tapi Mama dan Papa biasanya manggil aku Nathan."
Aku tersenyum. "Kalau aku panggil kamu Jojo, boleh nggak?"
Dia mengangguk, senyuman kecil akhirnya muncul di wajahnya. "Boleh."
Aku merasa lega bisa membuatnya sedikit lebih nyaman. Tak lama setelah itu, bel apartemenku berbunyi—makanan pesananku tiba lebih cepat dari yang kuduga. Aku segera mengambilnya, membawanya ke meja makan, dan memanggil Jojo. "Ayo, Jojo. Kita makan di meja makan."
Dia bangkit dari sofa dan mengikuti langkahku ke meja makan. Aku menata makanan di piring-piring dan menyajikannya. Jojo mulai makan dengan lahap, dan aku memperhatikannya sejenak. Dia pasti benar-benar lapar.
Saat kami makan, aku mencoba bertanya dengan hati-hati. "Jojo, gimana ceritanya kamu bisa ada di depan apartemen itu tadi pagi?"
Dia berhenti sejenak, lalu menjawab dengan suara kecil. "Tadi pagi, Mama nganter aku ke sini. Dia bilang aku harus tinggal sama Papa sebentar, dan suruh aku tunggu sampai Papa bukain pintu."
Aku mengerutkan kening. "Papa kamu tinggal di apartemen itu?"
Jojo mengangguk. "Mama bilang iya. Tapi... Papa nggak bukain pintu. Tapi Mama bilang tunggu sampai Papa bukaiin, kalau urusan Mama udah selesai Mama bilang nanti Mama bakal jemput aku lagi."
Aku merasa ada yang tidak beres dengan situasi ini. "Jojo, kamu tahu nomor telepon Papa kamu? Aku bisa bantu kamu menghubunginya."
Dia menggeleng pelan, wajahnya terlihat murung. "Aku nggak tahu..."
"Kalau nomor Mama kamu? Kamu ingat?" tanyaku lagi.
Namun, dia kembali menggeleng. Raut wajahnya semakin sedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
