rekindle

128 14 2
                                        

Aku mencoba menarik tanganku lagi, tapi Sam tetap tidak melepaskannya.

"Let me go, Sam," bisikku, suaraku sedikit bergetar.

Sam tidak bergeming. Matanya menatapku tajam, ekspresi wajahnya penuh emosi yang sulit kuartikan.

"Not until you answer me," desaknya sekali lagi.

"Sam, please... This is pointless."

"Not for me," potongnya cepat.

Aku mendesah frustrasi. "I already did! Why can't you just accept it and move on?"

"Because I can't!" teriak Sam furstasi.

Sam mengatupkan rahangnya, seolah sedang menahan sesuatu yang ingin dia katakan. Lalu, setelah beberapa detik keheningan, dia berbisik, "Because I can't Anna..."

Aku mengerutkan kening, mencoba memahami maksudnya. "What do you mean you can't?"

Sam menutup matanya sejenak, seolah mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menatapku lagi. "I can't stand it anymore, Anna. I can't breathe watching you drift further away from me. I can't see you with another man. It's driving me insane." katanya pelan, nyaris tak terdengar, tapi kata-katanya menghantamku lebih keras dari teriakannya barusan.

Aku membeku.

Jantungku berdebar begitu kencang hingga aku hampir bisa mendengarnya.

Sam menghela napas panjang, ekspresinya berubah menjadi lebih lembut, lebih rentan. "I can't breathe, Anna. I can't breathe knowing that I might lose you completely,"

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Sam melangkah lebih dekat, kali ini genggamannya berubah menjadi sentuhan yang lebih lembut di pergelangan tanganku.

"Aku yang salah, Anna," suaranya bergetar sedikit. "I thought I was doing the right thing by letting you go. But I was a fucking idiot."

Aku bisa merasakan dadaku sesak.

Aku ingin marah. Aku ingin meneriakinya bahwa dia memang idiot, bahwa dia sudah menyakitiku, bahwa dia tidak boleh semudah ini kembali setelah semua yang dia lakukan.

Tapi Tuhan, bagaimana bisa aku marah ketika aku melihatnya seperti ini?

Matanya... penuh dengan sesuatu yang jujur.

Sesuatu yang sama seperti yang selalu kurasakan padanya.

Sesuatu yang, terlepas dari semua sakit hati, masih membuat hatiku berdebar kencang.

Aku menggeleng pelan, berusaha menahan emosi yang memuncak di dadaku.

Ini bukan sesuatu yang aku harapkan. Selama ini aku mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa hubungan kami telah berakhir. Aku mencoba menerima bahwa Sam tidak menginginkanku. Tapi sekarang... dia justru mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpaku?

Aku menatapnya, mencari kepastian di matanya. "You're saying this now? After everything?"

Sam menutup matanya sebentar sebelum menatapku lagi. "Karena aku bodoh." Sam mengusap wajahnya dengan tangan satunya, frustrasi.  "Aku takut Anna... I'm scared to lose you, but even more scared to let myself have you."

Aku mengernyit. "Takut? Why?"

"Because I'm too old for you, too broken, too scared," katanya pahit. "Because I know one day you'll realize that you can have it all—a life, a family, a future—with someone else who has the same energy as you... not me."

Aku menggeleng pelan, bibirku mulai bergetar. "How many times have I told you I don't care about that Sam! And guess what? You broke my heart, Sam..."

"I know," desahnya, penuh sesal. "Aku tahu, dan itu menghantuiku setiap hari. You think I didn't suffer? You think I didn't cry after you left that night?"

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang