Hari ini, masa cutiku resmi berakhir. Aku bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan dan beberapa cemilan untuk Jojo, memastikan dia punya cukup makanan selama aku bekerja. Setelah semuanya siap, aku cepat-cepat bersiap. Sam sudah menunggu di dekat pintu, memegang tas kerjanya sambil melirik jam tangan.
Sebelum pergi, aku menghampiri Jojo yang sedang duduk di ruang tamu, masih terlihat mengantuk.
Aku berjongkok di depannya. "Jojo, Kak Anna mau pergi kerja sekarang. Ingat, ya, kamu nggak boleh buka pintu untuk orang asing, oke? Kalau butuh sesuatu, tunggu Kak Anna pulang."
"Oh ya, Dan kalau ada sesuatu mendesak kamu bisa hubungin Kak Anna dengan nomer ini ya, Kamu bisa minta tolong keamanan di bawah" tambahku.
Jojo mengangguk patuh. "Oke, Kak Anna."
Aku tersenyum. "Kamu boleh main game sepuasnya sampai Kak Anna pulang, tapi jangan lupa istirahat, ya. Oh, dan nanti pas jam makan siang, Kak Anna bakal pulang sebentar bawa makanan buat kamu."
Jojo tersenyum kecil. "Iya, Kak Anna."
Aku mengusap lembut rambutnya. "Good boy. See you later."
Sam hanya berdiri diam, tetap menunjukkan sikap dinginnya pada Jojo. Aku bisa merasakan suasana canggung di antara mereka, tapi memilih untuk tidak mempermasalahkannya sekarang.
Saat kami keluar dari apartemen dan masuk ke lift, Sam akhirnya berbicara. "Semoga anak itu nggak bikin masalah di apartemenmu."
Aku meliriknya, sedikit kesal dengan nada dinginnya. "Jojo is a good kid, Sam. Dia nggak akan bikin masalah. Dia tahu apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan."
Sam mendesah, menatap jalan di depannya. "I just think you're putting too much trust in a kid you barely know. Kalau sesuatu terjadi, kamu yang akan repot."
"I know, Sam. Tapi aku yakin Jojo bakalan baik-baik aja. Dia anak yang manis dan sopan."
Sam tidak menjawab, hanya mengangguk kecil sambil tetap berjalan.
Saat jam istirahat tiba, aku dan Sam memutuskan untuk pergi ke restoran favoritku. Aku memesan tiga porsi makan siang untuk dibawa pulang-dua untukku dan Jojo, serta satu lagi untuk Sam. Restoran itu tidak terlalu ramai, jadi kami mendapatkan pesanan dengan cukup cepat.
Saat aku hendak membayar di kasir, aku merogoh tas dan mencari dompetku, tetapi tak menemukannya. Aku mulai panik, mengaduk-aduk tas sambil mencoba mengingat di mana aku terakhir kali melihat dompetku.
Sam, yang berdiri di belakangku, bertanya dengan nada tenang namun sedikit menyindir, "What's wrong now, Anna?"
Aku menoleh, wajahku cemas. "I think I lost my wallet."
Sam menghela napas panjang dan melipat tangannya. "You're unbelievable. How could you lose something so important?"
Aku tidak menjawab, hanya mencoba mengingat-ingat sambil terus mencari di dalam tas. Sam akhirnya mengeluarkan dompetnya sendiri dan membayar makan siang kami.
Ketika kami berjalan keluar restoran, Sam kembali membuka pembicaraan. "Jadi, kapan terakhir kali kamu melihat dompetmu?"
Aku berpikir sejenak dan menjawab, "Di tasku. Tapi... aku ingat terakhir kali aku ngeluarin itu di meja makan untuk ngambil uang buat Jojo."
Sam langsung memutar matanya. "Typical you. Let's just hope it's at home."
Kami bergegas kembali ke apartemenku. Begitu tiba, aku langsung membuka pintu dan melangkah masuk. Sam, yang tampak lebih santai, duduk di sofa ruang tamu sambil menyiapkan makan siang kami di meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
