Pagi ini, aku terbangun lebih awal dari biasanya. Aku masih bisa merasakan kehangatan semalam, saat Sam mengantarku pulang dan mencium keningku sebelum berpisah di depan apartemenku.
Aku tersenyum kecil saat mengingat janjinya untuk pergi sarapan bersama hari ini. Jujur saja, dari semua kebiasaanku bersama Sam aku sangat merindukan masakannya daripada makanan di luar, tapi aku tidak keberatan jika itu berarti bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.
Setelah mandi dan berpakaian, aku berdiri di depan cermin, memastikan penampilanku cukup rapi. Aku memilih blouse putih yang simpel dan celana jeans favoritku. Rambutku ku ikat dengan gaya ponytail santai. Tidak terlalu formal, tapi juga tidak terlalu kasual.
Baru saja aku selesai merapikan tas, bel apartemenku berbunyi. Aku langsung tersenyum. Itu pasti Sam.
Dengan langkah ringan, aku berjalan ke pintu dan membukanya dengan semangat—
Hanya untuk menemukan Niko berdiri di sana.
Aku terkejut sesaat, tapi langsung berusaha menyesuaikan ekspresiku. "Niko?"
Niko menatapku dari atas ke bawah, matanya menyipit curiga. "Tumben udah rapi pagi-pagi gini?" tanyanya, nada suaranya penuh keheranan.
Aku tersenyum tipis. "Kenapa emangnya?"
Niko menyandarkan satu tangannya ke kusen pintu, masih menatapku penuh selidik. "Kamu nggak bikin sarapan hari ini?"
Aku menggeleng.
Matanya semakin menyipit. "Weird. Ada yang aneh."
Aku hanya tertawa kecil, tidak berniat menjelaskan lebih lanjut.
Namun, sebelum Niko bisa menginterogasiku lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari lorong apartemen.
Aku menoleh dan melihat sosok yang sudah kutunggu—Sam.
Dia berjalan santai ke arahku, mengenakan sweater biru tua dan celana panjang, terlihat begitu effortless seperti biasanya. Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah saat dia tiba di sampingku langsung menggandeng tanganku tanpa ragu dan memberikan ciuman di pipiku.
Aku bisa merasakan kehangatan genggamannya, dan wajahku langsung terasa memanas.
"Morning, sweetheart" ujar Sam hangat padaku tanpa memperdulikan Niko yang nampak sedikit terjekut.
Niko mengangkat alisnya melihat interaksi ini.
Sam menatapnya sebentar sebelum berkata dengan tenang, "Oh, hi Nik, Today she's coming with me."
Nada suaranya begitu pasti, seperti sebuah deklarasi.
Aku bisa melihat bagaimana mata Niko sedikit membesar sebelum akhirnya bibirnya membentuk seringai kecil. Dia menatapku, lalu Sam, sebelum akhirnya tertawa pelan.
"Interesting," gumamnya, masih tersenyum penuh arti.
Aku berdeham, merasa sedikit canggung dengan situasi ini. "Umm... aku pergi dulu ya, Nik."
Niko mengangguk, masih tersenyum misterius. "Sure. Have fun, lovebirds."
Aku mendelik ke arahnya, sementara Sam hanya tersenyum tipis sebelum menarikku lebih dekat dan membawaku pergi.
Dan pagi itu, aku tidak hanya pergi untuk sarapan bersama Sam. Aku pergi dengan perasaan bahwa segalanya akan berubah mulai sekarang.
Saat sarapan pagi itu, aku benar-benar tidak bisa menahan senyumku. Rasanya seperti dunia di sekitarku berubah menjadi lebih cerah hanya karena satu hal sederhana—aku kembali bersama
Kami duduk berhadapan di sebuah kafe kecil yang nyaman di dekat kantor kami, menikmati makanan kami dalam keheningan yang nyaman. Tapi setelah beberapa menit, aku mulai menyadari sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
