starman

98 11 1
                                        

Saat kami tiba di lapangan futsal, suasana langsung berubah menjadi riuh. Beberapa rekan kantor yang sudah bersiap di lapangan terlihat saling berbisik begitu menyadari siapa yang dibawa oleh Niko. 

Vincent, yang sedang melakukan pemanasan dengan beberapa rekan kerja, menoleh dan langsung terdiam melihat siapa yang datang bersama Niko. Begitu juga dengan yang lain—tidak ada yang menyangka bahwa Mister Samuel Hennessy, bos mereka yang biasanya berwibawa dan cenderung tidak terlibat dalam kegiatan kantor seperti ini, tiba-tiba muncul di lapangan mengenakan jersey dan celana olahraga.

“Wait… is that…?” 

“Holy—No way. Mister Hennessy?” 

“Damn, I thought he only played golf and sipped expensive whiskey,” seorang lainnya menimpali.

Vincent yang sedang melakukan peregangan langsung berdiri tegak, matanya membulat begitu melihat Sam berjalan masuk ke lapangan dengan ekspresi tenang. Dia, bersama beberapa pemain lain, segera mendekati Sam dengan ekspresi tak percaya. 

“Mister Hennessy?” Vincent mengulang, seolah masih tidak yakin dengan penglihatannya. “Are you really going to play with us?” 

Sam hanya mengangkat bahu santai. “Apparently.” 

Niko menepuk bahunya dengan bangga. “See? Told you I’d find someone.” 

Setelah basa-basi dengan beberapa pemain, Vincent akhirnya berjalan mendekatiku, memasang seringai khasnya. “I see. You got bored at your apartment and decided to tag along with Niko, huh?” 

Aku hanya tersenyum tipis. Semua orang di kantor memang tahu kalau aku dan Niko bersahabat dan kami juga dekat dengan Sam—mereka hanya mengira kami dekat tanpa tahu kenyataannya. “Yeah, something like that,” jawabku ringan, meski sebenarnya alasan utamaku datang adalah untuk melihat Sam bermain. 

Ketika pertandingan dimulai, aku duduk di bangku penonton, memperhatikan jalannya permainan. Seperti yang kuduga, Vincent langsung mencari kesempatan untuk menarik perhatianku. 

Setiap kali dia menggiring bola, dia sengaja melakukan gerakan yang mencolok, bahkan sampai melakukan trik-trik yang mungkin tidak perlu. Saat dia berhasil mencetak gol, dia melirik ke arahku dengan senyum penuh percaya diri. Beberapa rekan kantor lainnya ikut bersorak, semakin menyemangatinya. 

“Keren banget, Vincent! Anna pasti makin terpesona sama kamu!” seru salah satu karyawan dari pinggir lapangan, membuat beberapa orang lain tertawa dan bersorak mendukungnya.

Aku hanya menghela napas dan terkekeh kecil. Mereka semua tidak tahu apa-apa Mereka hanya menilai bahwa aku dan Vincent sedang pendekatan, padahal seseorang sudah menguasai hatiku. 

Namun, yang benar-benar mengejutkanku adalah Sam. 

Aku benar-benar tidak menyangka—pria yang biasanya lebih suka bermain golf dengan gaya elegannya pria yang lebih sering kutemui dalam setelan jas rapi, yang lebih dikenal sebagai eksekutif yang serius dan elegan, Kini berubah menjadi sosok yang mendominasi di lapangan futsal.

Awalnya mengira dia akan bermain biasa saja—mungkin sekadar lari-lari di lapangan atau memberi operan sederhana. Tapi ternyata, dia jauh lebih kompetitif dari yang kuduga.

Begitu dia mendapatkan bola, gerakannya lincah, tajam, dan penuh strategi. Dia menggiring bola dengan kecepatan yang tidak kusangka bisa dimiliki pria berusia 52 tahun, menghindari lawan dengan presisi yang mengesankan. Seolah-olah ini bukan pertama kalinya dia bermain futsal.

Aku ternganga. 

Aku menyaksikan dengan mulut sedikit terbuka saat Sam dengan mudah merebut bola dari lawan, menggiringnya dengan tenang melewati beberapa pemain, lalu memberikan umpan sempurna yang langsung berbuah gol untuk timnya.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang