Annas

80 6 1
                                        

Makan malam yang terasa seperti drama telenovela penuh tensi itu akhirnya berakhir dengan penuh tawa, basa-basi, dan tekanan yang tak kasat mata. Papa tampak puas, Mama tersenyum hangat sepanjang waktu, dan aku? Aku hanya bisa berharap wajahku tidak terlalu terlihat tegang.

Setelah kami berdiri dari meja makan, aku dan Niko mengantar Papa dan Mama ke hotel yang sudah jauh-jauh hari aku pesan. Sepanjang perjalanan menuju hotel, aku duduk di kursi belakang bersama Mama, sedangkan Niko menyetir dengan Papa di kursi depan. Obrolan di dalam mobil lebih banyak diisi suara Mama dan Papa yang berceloteh tentang Jakarta, tentang bagaimana tak menyang Papa bisa bertemu dengan Sam lagi setelah selama ini hanya bisa berhubungan via ponsel, tentang segala hal... terutama tentang aku dan Niko.

Dan saat kami akhirnya menurunkan Mama dan Papa di lobby hotel, aku memeluk mereka satu per satu. Papa sempat berpesan pelan, "Jangan lupa kabari soal pertemuan dengan orang tua Niko ya."

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kaku.

Setelah memastikan Mama dan Papa nyaman di kamar hotel yang sudah kupesan sebelumnya, kami pamit. Begitu kembali masuk ke mobil, suasana hening itu kembali menyeruak seperti kabut. Niko menyetir tanpa suara, dan aku hanya menatap keluar jendela. Jalanan malam Jakarta yang penuh lampu dan kehidupan terasa begitu kontras dengan perasaan kami.

Aku bisa merasakan kepalanya penuh. Dan jujur, begitu juga denganku.

Sesampainya di gedung apartemen, kami langsung masuk ke unitku tanpa banyak bicara.

Begitu pintu terbuka, kami mendapati Sam dan Tata sudah duduk di ruang tengah. Sam berdiri begitu melihat kami masuk, wajahnya langsung berubah serius saat melihat ekspresi Niko yang sangat tidak santai.

Niko langsung menutup pintu, lalu berdiri memandangi Sam dengan rahang mengeras. Suasana tegang terasa menekan udara di dalam ruangan.

"Okay," Niko akhirnya bicara, nada suaranya datar tapi tegas. "I think it's time. You need to explain what the hell is going on, Sam."

Tata langsung bangkit dari sofa, berdiri di antara kami seperti akan menenangkan situasi, tapi Sam mengangkat tangan, menyuruhnya tenang.

"I'm sorry, Nicholas" Sam memulai. Suaranya rendah dan berat. "I didn't see this coming. I didn't know Richard... I mean, Anna's father... is that Richard. My old friend."

Sam mengusap wajahnya, lalu menatapku sebentar, sebelum kembali menatap Niko.

"When I realized it... back at the restaurant, when he greeted me like that—'Tom? Long time no see'—my brain just froze. I couldn't say anything. I couldn't even look at him and tell the truth. What was I supposed to say? That I'm dating his daughter?"

Niko menyilangkan tangan, masih menatap Sam dengan dingin. "So your solution was to just drag me into your mess and say I'm the fiancé?"

Sam mengangguk perlahan, wajahnya menegang. "It wasn't planned. I panicked. I just... couldn't face him. I didn't have the courage to see his reaction. Not when I realized that the woman I love is his daughter."

Aku melangkah maju, menatap Sam tajam. "Tapi Sam... Waktu Papa minta tolong kamu carikan aku apartemen, harusnya kamu tau dong aku anaknya. Masa kamu nggak sadar?"

Sam menarik napas dalam. "I swear, Anna. I didn't know. I thought... I thought it was Anna, That girl living at the end of the hall. We met the same day you moved in. I asked her if her name was Anna and she said yes. Then I told her I was a friend of her father's, and she didn't seem surprised, so I figured she must be Richard's daughter.

Mataku membelalak. "Wait... what? You thought Alexa was me?"

Sam mengangguk. "Yes. I assumed she was Richard daughter. She mentioned moving here from new job too. The timing matched. She was polite, smart, and... I figured, oh, this is the girl Richard told me about. I didn't think there could be two Annas moving into the same building that day."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang