i love you old man

134 12 7
                                        

"Okay, spill it. I'm so done with this," Kataku akhirnya di dalam mobil, Sambil duduk melipat tangan di dada, menatap Sam yang fokus menyetir.

Sam melirikku sekilas. "What are you talking about?"

Aku mendesah kesal. "You talking to yourself, Sam! It's been days, and I keep catching you doing it. If you're going crazy, at least let me in on it."

Sam tetap menatap lurus ke depan. "It's nothing, love. Just work stress."

Aku memelototinya. "That's bullshit and you know it. You're not the type to talk to yourself because of work stress."

Sam menghela napas, tapi tetap tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Aku mulai kehilangan kesabaran, namun sebelum aku bisa membahas lebih jauh, Sam malah membelokkan mobilnya ke sebuah restoran.

Aku mengerutkan dahi, bingung. "Wait—what are we doing here? I thought we're having dinner at my place tonight?"

Sam menoleh padaku dengan senyum tenang. "I'm starving, and I thought we could eat here instead."

Aku menatapnya curiga. "Sam, you don't even like spontaneous plans. What's going on?"

Tapi bukannya menjawab, Sam malah turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. "Come on, love. Aku lapar."

Aku masih ingin mendebatnya, tapi sesuatu di matanya membuatku menahan diri. Jadi, aku menurut dan masuk ke dalam restoran bersamanya.

Begitu masuk, suasana restoran terasa lebih berbeda dari biasanya. Lilin-lilin kecil menyala di meja, dengan bunga-bunga mawar putih menghiasi sekelilingnya. Musik lembut mengalun di latar belakang.

Aku mulai merasa ada yang aneh. "Sam... What is this? Kok kayaknya nggak seperti biasanya"

Sam hanya mengangkat bahunya, dan menarik kursiku, membantuku duduk sebelum duduk di hadapanku.

Selama beberapa menit pertama, kami makan seperti biasa, berbicara ringan tentang pekerjaan kami hari ini, dan tentang Mary yang tampaknya sangat menikmati liburannya di Indonesia.

Namun, aku bisa merasakan Sam gelisah. Dia memainkan garpunya lebih dari yang diperlukan, sesekali menarik napas panjang seolah sedang menenangkan dirinya sendiri.

Aku memegang tangan Sam. "Kalau ada sesuatu yang kamu pikirin, kamu bisa bagiin ke aku"

Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia menaruh peralatan makannya dan menatapku dengan intens. "Anna..."

Nada suaranya rendah dan bergetar, membuat jantungku berdebar.

"I thought I was done with love. For years, I was just existing, surviving with the memories of my late wife—the only woman I ever truly loved."

Suaranya sedikit pecah, dan aku bisa melihat rasa sakit yang masih tersisa di matanya.

"But then... you came into my life," lanjutnya. "With your energy, your kindness, your stubbornness—hell, even your temper. You made me feel alive again."

Aku tersenyum mendengar ucapannya, "Sam you-"

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Sam menutup mulutku dengan jari telunjuknya sambil menggeleng mengisyaratkan dia belum selesai.

Sam tersenyum kecil, tetapi ada keraguan di matanya. "I know, I'm 52. You're 27. I know people will talk. They'll say I'm too old, that you deserve someone younger,someone who can give you more time. But Anna... love isn't about age. It's about finding someone who makes life worth living. And for me, that's you."

Aku menutup mulutku, terisak pelan.

"I have spent so much time doubting myself, pushing you away, and being a complete idiot because of my own insecurities. I thought our age difference was a problem, that I wasn't good enough for you. But the truth is, I was just scared. I almost lost you once and I don't want to make the same mistake again."

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang