Burning toast

62 8 1
                                        

Pagi itu matahari baru saja mulai mengintip dari balik jendela ketika aku terbangun. Masih ada sisa kehangatan dari pelukan Sam yang terasa di kulitku, tapi tubuhku menolak untuk kembali tidur. Ada sesuatu dalam dadaku yang berdesir tak menentu. Hari ini... hari ini adalah hari besar.

Perlahan, aku bangkit dari ranjang agar tak membangunkan Sam. Kaki telanjangku menyentuh lantai dingin saat aku melangkah menuju dapur. Aku membuat dua cangkir kopi—satu untukku dan satu untuk Sam—lalu membuka lemari untuk mengambil roti dan mulai memanggangnya. Tanganku otomatis bergerak, tapi pikiranku jauh, terlalu jauh.

Bayangan wajah papa dan mama bermain dalam benakku. Aku membayangkan ekspresi mereka ketika melihat Sam untuk pertama kalinya. Apa mereka akan marah? Syok? Atau malah... kecewa? Aku menatap ke arah mesin pemanggang sambil menghela napas. Tolonglah, Pa, Ma... lihat seperti apa aku mencintai dia. Lihat seperti apa dia mencintaiku...

Aku tak sadar kalau aromanya berubah, dan bunyi klik kecil dari toaster pun tak menggugah lamunanku—sampai tiba-tiba...

"Something's burning," suara berat Sam terdengar dari belakangku.

Aku tersentak dan menoleh. Roti di dalam toaster sudah menghitam, asap tipis mengepul ke udara. "Oh my God!" seruku panik, buru-buru menarik roti keluar.

Sam dengan cepat mengambil alih, mematikan toaster dan membuka jendela dapur agar udara segar masuk. "Are you okay?" tanyanya sambil menoleh padaku dengan ekspresi khawatir.

Aku mencoba tersenyum, tapi senyumku kaku. "I'm fine. Really."

Tapi Sam bukan orang yang mudah tertipu. Dia menatapku sejenak, lalu menyempitkan matanya. "You're nervous about today, aren't you?"

Aku menggeleng dengan cepat. "No. It's not that."

"Come on, you can lie to your burnt toast but not to me," ucap Sam setengah bercanda sambil meletakkan roti gosong itu ke tempat sampah.

Aku terdiam, menggigit bibir. Sam mendekat, menyentuh lenganku dengan lembut.

"If you want, we can cancel. I'll talk to them another time. I don't want you feeling like this."

Aku menatapnya, terkejut. "What? Are you crazy?" suaraku meninggi sedikit.

Sam mengangkat tangan seolah menyerah. "I'm just saying, if this is stressing you out, then maybe we take a breath—"

"I want this, Sam," kataku cepat, penuh keyakinan. "I want you. I want them to meet you. I want them to know the man I love. I'm just... scared, okay? Scared they'll only see your age. Not your heart."

Sam mendesah pelan, lalu meraih wajahku dengan kedua tangannya. "Then let me show them. Let me show them how much I love their daughter. Let me show them why I'm the best damn thing that ever happened to you."

Aku menatap matanya, merasa perlahan kecemasanku mencair. Ada ketenangan dalam suaranya. Dalam tatapannya. Seolah ia berkata, kita bisa lalui ini bersama.

"I just don't want them to take you away from me," bisikku.

"No one's taking you from me," Sam membalas lembut, mencium keningku lama. "Not your parents. Not time. Not even burnt toast."

Aku tertawa kecil di pelukannya. "God, I love you."

"Good," katanya, tersenyum miring. "Because I plan to charm the hell out of your parents today."

Suasa langsung terasa berbeda. Setelah momen emosional dengan Sam, aku merasa bebanku sedikit terangkat. Kami mulai mempersiapkan sarapan bersama. Sam, dengan caranya yang tenang namun tegas, mengambil alih dapur seperti seorang chef profesional. Aku hanya berdiri di sampingnya, menatap punggungnya yang kokoh, dan sesekali membantunya mengambilkan bahan-bahan yang ia butuhkan.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang