lover

265 21 3
                                        

Pagi itu terasa hangat, bukan hanya karena sinar matahari yang menyelinap melalui tirai jendela, tetapi juga karena pelukan Sam yang erat.

Aku terbangun dalam posisinya, wajahku menempel di dadanya yang kokoh, napasnya teratur menyapu rambutku.

Sesaat aku tidak bergerak, mencoba menikmati momen ini, takut jika aku bergerak, semua ini hanya akan menjadi mimpi.

Tapi tidak. Sentuhan kulitnya terasa nyata, detak jantungnya yang lembut di telingaku juga nyata.

Aku mengangkat sedikit wajahku, menatap Sam yang masih terlelap. Ada garis-garis halus di wajahnya, bukti dari semua tahun yang telah ia lewati, tapi itu tidak mengurangi pesonanya.

Justru, semua itu membuatnya terlihat lebih menarik. Pria ini telah mencuri hatiku sepenuhnya, dan sekarang, ia akhirnya mengakui perasaannya.

"Morning, love," gumam Sam dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Aku terkikik pelan. "Morning. Did I wake you up?"

Sam menggeleng sambil memejamkan mata lagi. "No. I just don't want to miss looking at you first thing in the morning."

Aku memutar mataku, meskipun hatiku meleleh. "Gombal pagi-pagi. Tapi aku suka."

Dia membuka matanya, menatapku penuh arti. "How are you feeling? After everything yesterday?"

Aku menghela napas, teringat percakapan emosional kami semalam. "I feel... good. Actually, better than I thought I would. How about you?"

Dia tersenyum kecil, tapi aku bisa melihat sorot lembut di matanya. "I feel like the luckiest man alive."

Setelah mengobrol beberapa menit di tempat tidur, kami beranjak dari tempat tidur bersiap untuk keluar, menikmati suasana Phuket sebagai pasangan kekasih.

Setelah mandi dan berganti pakaian, kami memutuskan untuk keluar hotel tanpa memberi tahu Tata dan Niko tentang kegiatanku hari ini.

Mereka pasti akan curiga jika tahu aku dan Sam memutuskan untuk memperpanjang waktu di Malaysia tanpa alasan pekerjaan.

"Kemana kita hari ini?" tanyaku sambil melirik Sam yang sedang memesan taksi.

"Somewhere quiet," jawabnya sambil tersenyum penuh misteri. "You'll see."

Dia membawaku ke taman yang asri di tengah kota, tempat di mana kami bisa berjalan santai tanpa khawatir bertemu orang yang kami kenal. Kami duduk di bangku kayu di bawah pohon besar, menikmati semilir angin pagi.

"You know," katanya sambil melirikku, "I never thought I'd do something like this again. Being in a relationship, going on dates... It feels surreal."

Aku tertawa kecil. "Well, you better get used to it, mister. Karena aku nggak akan membiarkanmu kabur begitu saja."

Sam tertawa, suara bass-nya menggema lembut di telingaku. "Noted. I'll stay right here."

Kami menaiki Taksi Sam mengajakku ke restoran lokal yang menyajikan makanan khas Malaysia. Aku antusias mencoba berbagai hidangan, sementara Sam hanya menatapku dengan senyum hangat.

"You're enjoying this too much," katanya sambil menyuapkan nasi lemak ke mulutnya.

"Of course! Aku selalu suka cobain makanan baru," jawabku sambil menyantap roti canai. "Kamu harus coba ini. It's so good!"

Dia menatapku skeptis. "If you say so."

Aku menyuapkan potongan kecil ke mulutnya, dan dia mengangguk pelan. "Okay, you're right. It's good."

"See? Trust me more often," ujarku sambil tertawa.

Sam menggeleng sambil tersenyum. "I already trust you with my heart. Isn't that enough?"

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang