Semenjak Niko pergi ke luar negeri untuk mengecek proyek perusahaan, hari-hariku semakin padat. Aku tidak hanya harus menangani pekerjaanku sendiri, tapi juga beberapa tugas yang biasa ditangani Niko. Aku jarang punya waktu untuk mengobrol dengan siapa pun, termasuk Sam.
Awalnya, kami masih sering menghubungi satu sama lain. Tapi seiring berjalannya waktu, intensitas komunikasi kami semakin berkurang. Aku tahu dia sibuk dengan keluarganya di Boston, dan aku juga tidak ingin mengganggunya. Lagipula, aku juga tenggelam dalam pekerjaanku sendiri.
Dan di tengah kesibukan itu, aku tanpa sadar semakin sering berinteraksi dengan Vincent.
Vincent adalah tipe atasan yang berbeda dari Sam. Kalau Sam selalu penuh wibawa dan terkadang sarkastik dalam berbicara, Vincent lebih hangat dan ramah.
Dia tipe orang yang mudah diajak bicara, tidak pernah segan membantu jika ada kesulitan, dan selalu memperlakukan orang-orang di timnya dengan baik.
Aku rasa semua orang pasti merasa nyaman bekerja dengan Vincent.
Hari ini adalah hari yang melelahkan. Aku mengikat rambutku dan merapikan meja sebelum akhirnya mengambil ponsel untuk memesan taksi online sambil berjalan keluar gedung kantor.
Saking melelahkannya hari ini rasanya aku hanya ingin cepat sampai di apartemen, mandi, lalu tidur. Tapi sebelum sempat menekan tombol "pesan" pada aplikasi taksi online, sebuah mobil berhenti di depanku.
Jendela mobil terbuka, dan aku melihat Vincent tersenyum ke arahku. "Need a ride?"
Aku ragu sejenak. "Oh, it's okay, Vincent. I can take a cab."
Dia menggelengkan kepala. "No need. I’m heading the same way. Hop in."
Aku tahu aku bisa saja menolaknya, tapi mengingat bagaimana Vincent selalu memperlakukan semua orang dengan baik, aku tidak merasa ada alasan untuk menolak tawarannya. Lagipula, kami hanyalah rekan kerja.
"Alright," kataku akhirnya, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Selama perjalanan, kami mengobrol santai tentang pekerjaan, proyek yang sedang kami kerjakan, dan betapa sibuknya kantor akhir-akhir ini. Vincent juga sempat bercanda tentang bagaimana aku terlihat lebih sering bekerja lembur dibanding yang lain.
"You're really dedicated, huh?" katanya sambil melirik ke arahku.
Aku tertawa kecil. "I just want to get things done. Besides, it's not like I have anything better to do."
Vincent mengangguk pelan, lalu tiba-tiba berkata, "Want to grab dinner before I drop you off?"
Aku menoleh, sedikit terkejut. "Dinner?"
"Yeah. Nothing fancy. Just a quick meal before we call it a day."
Aku berpikir sejenak. Aku memang belum makan malam, dan perutku mulai terasa lapar. Lagipula, tidak ada salahnya makan bersama teman, kan?
"Oke, sounds good," jawabku akhirnya.
Kami akhirnya berhenti di sebuah restoran kecil yang tidak terlalu ramai. Vincent memilih meja di sudut, dan kami pun mulai memesan makanan.
Selama makan malam, Vincent terus menunjukkan perhatian kecil yang membuatku sedikit canggung. Dia memastikan aku mendapatkan apa yang aku mau, bertanya apakah makanannya sesuai seleraku, dan bahkan mengingat hal-hal kecil tentangku—seperti bagaimana aku tidak terlalu suka makanan yang terlalu manis.
Aku mengabaikan semua itu dan menganggapnya sebagai bentuk keramahan.
Namun, ada satu momen yang membuatku terdiam sejenak.
Saat aku sedang asyik makan, Vincent tiba-tiba menatapku dengan ekspresi sedikit geli.
"What's wrong?" tanyaku heran.
Dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya dan menyentuh sudut bibirku dengan ibu jarinya.
Aku membeku.
"There was something on your lips," katanya pelan.
Aku langsung merasakan wajahku memanas. "Oh. Uh… thanks."
Dia tertawa kecil. "No problem."
Aku buru-buru menundukkan kepala, berusaha fokus pada makananku. Tapi dalam hati, aku mulai bertanya-tanya… apakah aku terlalu naif selama ini? Apa mungkin Vincent melihat hubungan kami dengan cara yang berbeda?
Aku mencoba mengabaikan pikiran itu.
Setelah momen canggung itu, aku mencoba mengalihkan perhatian dengan kembali fokus pada makananku. Vincent, di sisi lain, tetap terlihat santai seperti biasa. Dia melanjutkan obrolan tentang pekerjaan, sesekali menyelipkan candaan yang membuatku tertawa kecil.
Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa tidak ada yang aneh dengan semua ini. Vincent hanya bersikap baik—seperti yang selalu dia lakukan pada semua orang. Aku tidak boleh terlalu memikirkan hal kecil seperti tadi.
Setelah selesai makan, Vincent membayar tagihan sebelum aku sempat menolak.
"Consider it my treat for a hardworking team member," katanya sambil tersenyum.
Aku mendengus kecil. "Fine. Next time, my treat."
Dia mengangkat alis. "Next time? So you're saying you'll have dinner with me again?"
Aku terdiam sesaat, lalu menyadari bahwa aku baru saja menjebak diri sendiri. "Maksudku, kalau kebetulan kita makan bareng lagi…"
Vincent hanya tertawa kecil, tidak menanggapi lebih jauh.
Di perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Aku tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu di dalam hatiku yang terasa sedikit tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang salah, tapi aku tidak bisa menjelaskan apa.
Saat Vincent berhenti di depan apartemenku, aku membuka pintu mobil dan tersenyum tipis padanya.
"Thanks for the ride and dinner."
"Anytime," jawabnya ringan.
Aku turun dari mobil dan melangkah masuk ke gedung apartemen. Begitu pintu lift tertutup, aku menghela napas panjang, Karna hari ini sangat panjang.
Saat sampai di apartemen, aku melempar tas ke sofa dan langsung menuju kamar. Aku terlalu lelah untuk mengecek ponsel atau melakukan hal lain. Yang ada di pikiranku hanyalah mandi dan tidur.
Setelah membersihkan diri, aku berbaring di tempat tidur dengan rambut masih sedikit basah. Udara kamar yang sejuk membuat tubuhku rileks, tapi pikiranku justru masih berputar.
Aku mengingat kembali apa yang terjadi di restoran tadi.
Cara Vincent memperlakukanku… bagaimana dia memastikan aku nyaman, bagaimana dia begitu perhatian, bahkan sampai membersihkan sesuatu di sudut bibirku dengan begitu alami.
Aku menghela napas.
Bukan berarti aku tidak menyadari semua itu. Aku hanya… tidak pernah benar-benar memikirkannya lebih dalam. Aku selalu menganggap Vincent sebagai atasan yang baik, seorang teman kerja yang ramah. Tidak lebih dari itu.
Tapi, apa dia melihatku dengan cara yang berbeda?
Aku menutup mata, mencoba mengabaikan pikiran itu.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya sejak Sam pergi ke Boston, aku tidak memikirkan Sam sama sekali sebelum tidur...
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomansaAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
