Sam act weird.

96 14 1
                                        

Pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaanku saja. Sam masih dengan kebiasaannya—mengendarai mobil dengan fokus, nyaris tanpa suara. Dia hanya sesekali melirik ke arahku, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya urung.

Aku bersandar di jok sambil menatap ke luar jendela. "You're quiet," kataku akhirnya, mencoba mencairkan suasana.

Sam hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis. "Just thinking."

Jawaban itu terdengar seperti alasan yang dibuat-buat, tapi aku memilih diam. Selama beberapa hari terakhir, Sam memang tampak lebih pendiam dan sering kali terlihat melamun. Sesekali, aku melihatnya menghela napas panjang, seperti menanggung beban berat yang enggan ia bagi.

Begitu kami tiba di kantor, aku turun lebih dulu. Sam, seperti biasa, hanya mengucapkan, "Have a good day, Anna."

Aku mengangguk, tapi tidak benar-benar percaya diri bahwa hariku akan baik-baik saja. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan Sam, dan aku bertekad untuk mencari tahu.

Di dalam kantor, aku tidak bisa fokus. Berkali-kali aku melirik ke arah ruangan Sam. Pintu tertutup, tapi aku bisa melihat bayangannya bergerak di balik kaca buram. Aku menekan tombol pena di tanganku berulang kali, merasa semakin tidak tenang.

"Alright, spill it. Why do you keep glancing at Sam's office? You look... weird," Ujar Niko dengan alis terangkat sambil bersandar di meja kerjaku dengan tangan terlipat di dada, menatapku dengan tatapan penuh selidik.

"What?" ujarku.

"Semuanya juga tau dari tadi kamu ngelirik ruangan Sam"

Aku menghela napas, menyandarkan diri ke kursi. "I don't know, Nik. Sam's been acting strange these past few days. He's quieter than usual, and this morning, he barely said anything while driving."

Niko mengangguk pelan, lalu menyipitkan mata. "You think he's hiding something?"

"Exactly!" Aku mencondongkan tubuh ke arahnya. "My gut tells me something's off. He said 'have a nice day' before we parted ways, but it felt... different. Like he's forcing it."

Niko menyandarkan tangan di meja, ekspresinya berubah lebih serius. "And you haven't asked him directly?"

Aku mendengus, menyilangkan tangan di dada. "You know Sam. He's not exactly the type to just spill his feelings. If I ask, he'll probably brush it off with some sarcastic remark."

Niko terkekeh. "True. Classic Sam move. So, what's your plan? Are you just gonna sit here staring at his office all day?"

Aku mendesah, lalu mengambil pulpen dan mulai mengetuk-ngetukkan ke meja. "I need to find a way to make him talk. But without making it obvious that I'm prying."

Niko mengangkat bahu. "Well, good luck with that. If anyone can make that stubborn old man talk, it's you."

Aku menyipitkan mata padanya. "Did you just call my boyfriend 'old'?"

Niko tertawa, mengangkat tangan seolah menyerah. "Hey, fifty-two is still young... kind of."

Aku memutar mataku, lalu kembali melirik ke arah ruangan Sam. "I swear, if he's hiding something from me, I'll make him regret it."

Niko terkekeh lagi. "Now that I believe."

Niko menepuk bahuku sambil tertawa kecil, lalu kembali ke mejanya. Aku masih menatap pintu ruangan Sam, berpikir keras. Aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan, tapi apa?

Beberapa menit berlalu sebelum aku akhirnya berdiri. Aku tidak bisa terus duduk di sini tanpa berbuat apa-apa. Dengan langkah santai—atau setidaknya aku mencoba terlihat santai—aku berjalan ke pantry untuk mengambil kopi, berharap bisa sekalian mengintip ke dalam ruangan Sam saat melewatinya.

Namun, saat aku baru saja mendekati pantry, pintu ruangannya terbuka.

Sam keluar dengan ekspresi serius, ponselnya masih di tangan. Matanya langsung bertemu dengan mataku, dan untuk sepersekian detik, aku melihat sesuatu di sana—keraguan? Kekhawatiran?

Sebelum aku sempat berkata apa-apa, dia memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan ke arahku. "Hey, you need something?" tanyanya dengan nada datar, tapi aku bisa menangkap sedikit kegelisahan dalam suaranya.

Aku menyilangkan tangan di dada, menatapnya curiga. "Bukannya seharusnya aku yang ngomong gitu?"

Dia mengangkat alis. "What do you mean?"

Aku mendesah. "Sam, you've been acting weird for days. You barely talk, you seem distracted, and don't think I didn't notice how forced your 'have a nice day' sounded this morning."

Dia menghela napas, mengusap tengkuknya. "You're overthinking, Anna."

Aku menyipitkan mata. "Am I? Then look me in the eye and tell me everything's fine."

Sam diam sesaat. Matanya menatapku seolah sedang menimbang sesuatu. Lalu, dengan nada lebih lembut, dia berkata, "Anna, trust me. I'm handling something, but it's nothing for you to worry about."

Aku mendecak, jelas tidak puas dengan jawabannya. "That's exactly what someone who's hiding something would say."

Dia tersenyum miring. "You really don't give up, do you?"

Aku mendekat, menatapnya tajam. "Not when it comes to you."

Sam mendesah pelan, lalu menatapku dengan tatapan lembut yang membuatku sedikit goyah. "Look, just give me a little time, okay? I promise, I'll tell you when I'm ready."

Aku masih ingin memaksa, tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku menahan diri. Akhirnya, aku hanya mendesah. "Fine. But don't take too long. You know I hate waiting."

Sam tersenyum kecil, seolah menghargai pengertianku. "Noted."

Aku memerhatikan ekspresinya saat dia berbalik kembali ke ruangannya.

Dan aku kembali ke mejaku dengan perasaan campur aduk. Sam jelas menyembunyikan sesuatu, tapi dia juga memintaku untuk percaya padanya. Dan aku ingin percaya. Masalahnya, rasa penasaranku lebih besar dari kesabaranku.

Niko melirikku begitu aku duduk. "Jadi, dapat sesuatu?" tanyanya sambil menggoyangkan cangkir kopinya.

Aku mendengus. "Typical Sam. He said he's handling something, but it's 'nothing for me to worry about.'"

Niko terkekeh. "And you bought that?"

Aku menatapnya tajam. "Of course not."

Dia tertawa kecil. "That's my girl. So, what's the plan?"

Aku menyandarkan diri ke kursi, berpikir sejenak. "I'm giving him time. Tapi kalau dia nggak buka mulut dalam dua hari, aku akan cari tahu sendiri."

Niko mengangkat alis, tertarik. "And how exactly are you gonna do that?"

Aku menyeringai. "You forget who I am? I have my ways."

Niko tertawa, lalu meneguk kopinya. "I like this version of you. Agak nakal, penuh intrik."

Aku memutar mataku. "Shut up, Niko."

Setelah beberapa waktu aku hanyut dalam pekerjaanku. Aku berjalan menuju ruang kerja Sam dengan beberapa file di tanganku. Pikiranku masih dipenuhi dengan rasa penasaran tentang sikap anehnya akhir-akhir ini. Dia bilang sedang menangani sesuatu, tapi tidak memberitahuku apa. Sekarang, aku ada di sini, mengantarkan dokumen yang harus dia tanda tangani.

Begitu aku membuka pintu, ruangan itu kosong. Aku melangkah masuk, meletakkan file di mejanya, dan tanpa sengaja mataku tertuju pada layar komputernya yang masih menyala. Aku bukan tipe orang yang suka mengintip urusan orang lain, tapi pesan yang terpampang di layar membuat langkahku terhenti.

"When are you coming home? Should I come there instead? I miss you so much, can't wait to see you. — Meryl Hennessy."

Aku terdiam. Jantungku berdebar kencang saat membaca nama itu. Hennessy. Seseorang yang memiliki nama belakang yang sama dengan Sam.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang