Aku duduk di sofa apartemenku, masih mengenakan piyama sejak pagi, rambutku berantakan, dan di sebelahku tergeletak beberapa cangkir kopi yang sudah dingin. Sudah tiga hari sejak Sam pergi, dan aku masih belum mendapat kabar darinya. Aku mencoba menghubungi ponselnya berkali-kali, tetapi hasilnya selalu sama—tidak bisa dihubungi.
Ketukan di pintu mengganggu lamunanku. Aku menghela napas berat, menyeret kakiku ke pintu, dan membukanya. Di sana berdiri Niko, dengan ekspresi khawatir sekaligus kesal.
"Anna, what the hell is going on with you? Dua hari kamu nggak masuk kantor, nggak jawab telepon, nggak balas chat. Aku sampai khawatir kamu kenapa-kenapa," katanya sambil masuk tanpa menunggu undangan.
"Oh god! look at this disaster!" seru Niko yang melihat ruang tamuku berserakkan"
Aku hanya menjatuhkan diri kembali ke sofa. "I cant Nik. Aku lagi nggak sanggup kerja."
Niko duduk di sampingku, memandangku serius. "Oke, sekarang ceritain semuanya."
Aku menarik napas panjang, lalu mulai bercerita. Aku menceritakan tentang Sean yang datang tiba-tiba, tentang konfrontasi di apartemen, perkelahian mereka, dan bagaimana Sam pergi begitu saja setelah malam itu. Suaraku bergetar saat aku mengatakan bahwa aku tidak tahu di mana dia sekarang.
Niko mendengarkan dengan sabar, lalu menghela napas panjang. "Anna, aku ngerti kenapa kamu frustasi. Tapi dengar ya, Sam itu cuma salah sangka, biarin aja dulu dia sendiri, Dia butuh waktu. Dia butuh ruang untuk mencerna semuanya."
Aku menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi aku takut, Nik. gimana kalau dia nggak kembali? gimana kalau dia mikir aku masih peduli sama Sean?"
Niko meletakkan tangannya di bahuku. "Kamu harus percaya sama dia. Kalau dia benar-benar sayang sama kamu, dia pasti kembali, Dia pasti bakal usahaiin kamu. And you, Kamu juga nggak bisa terus-terusan kayak gini. Kamu nggak makan, nggak istirahat, dan kamu bahkan nggak ke kantor. Kamu nggak bisa begini, Anna."
Aku menggeleng pelan. "Aku nggak yakin bisa fokus kerja."
"Anna," kata Niko dengan nada lebih tegas, "menyikapi ini dengan dewasa berarti kamu tetap menjalani hidupmu. Kalau kamu terus-terusan seperti ini, Sam juga bakalan merasa bersalah. Kamu nggak mau itu, kan?"
Aku terdiam, mencoba mencerna kata-katanya. Aku tahu dia benar. Aku tidak bisa terus-terusan terpuruk seperti ini.
"Hmmm, ya" kataku akhirnya. "Aku ke kantor besok."
"Besok? No! Sekarang, Anna!" seru Niko, menarik tanganku ke kamarku menyuruhku untuk bersiap, dan lalu dia menungguku di ruang tamuku yang berantakan.
Aku menghela napas panjang, berdiri di depan cermin setelah dipaksa oleh Niko untuk bersiap. Aku mengenakan blazer abu-abu yang tidak kusetrika sempurna, sedikit bedak dan lip gloss seadanya—cukup untuk terlihat layak di kantor. Meski hatiku masih berat, aku memutuskan untuk melangkah maju.
Niko menungguku di pintu apartemen dengan senyum puas. "See? Itu baru Anna Wijaya yang aku kenal. Let's go."
Kami menuju kantor bersama. Di sepanjang perjalanan, aku hanya duduk diam, memandang jalanan yang seolah berlalu tanpa arti. Niko mencoba menghiburku dengan cerita-cerita konyolnya, tapi pikiranku terus kembali ke Sam. Apakah dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang?
Setibanya di gedung kantor, kami berjalan ke arah lift. Tepat sebelum aku masuk ke lift, Niko berhenti.
"Oh, aku lupa. Aku balik dulu ke mobil, Ada yang ketinggalan. Kamu duluan aja," katanya santai.
Aku mengangguk dan masuk ke dalam lift sendirian. Pintu lift menutup dengan bunyi "ding." Tapi beberapa detik kemudian, lift tiba-tiba berhenti dengan getaran kecil. Lampu berkedip-kedip sebelum akhirnya padam, menyisakan hanya cahaya darurat yang redup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
