a tempting morning

115 15 1
                                        

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar Sam, menyapaku dengan hangat.

Aku terbangun dengan tubuhku masih dalam pelukan Sam, dadanya yang bidang menjadi bantal paling nyaman yang pernah ada. Aku mengerjapkan mata pelan, menggerakkan kepalaku sedikit untuk melihatnya—dan ternyata, dia sudah bangun.

Matanya yang biru keabuan menatapku lembut, bibirnya melengkung dalam senyuman kecil.

Aku mengerutkan kening. "How long have you been awake?" tanyaku, suaraku masih serak karena baru bangun.

Sam tersenyum kecil, tangannya yang besar menyapu pelan rambutku lalu mengangkat sebelah alis, ekspresinya menggoda. "Long enough to admire you." jawabnya santai. 

Jawabannya membuat wajahku memanas, dan aku dengan cepat menyembunyikan wajahku di dadanya.

Aku bisa merasakan getaran tawa di tubuhnya saat dia menarikku lebih erat ke dalam pelukannya. Oh God... I missed this batinku bergumam pelan, menikmati aroma tubuhnya yang khas, perpaduan maskulin dengan wangi sabun yang samar yang begitu familiar.

"Oh, sweetheart," gumamnya, tangannya membelai punggungku perlahan. "Are you blushing?"

Aku mendengus, suaraku teredam di dadanya. "Shut up."

Sam tertawa kecil, suaranya rendah dan serak di pagi hari. "You're adorable."

Kami terdiam beberapa menit, hanya saling menatap. Aku menelusuri garis wajahnya, dari janggut yang mulai tumbuh tipis hingga mata tajamnya yang menatapku penuh kehangatan. Aku tidak bisa menahan diri untuk berbisik, "Your eyes are really something else, Sam..."

Sam mengangkat alis, tersenyum tipis. "I hope that's a compliment."

Aku mengangguk pelan, masih mengaguminya. Saat Sam akhirnya bergerak, ia menepuk punggungku pelan."Come on, sweetheart, let's get up."

Aku merengek pelan, menggeliat malas di tempat tidur. "Nooooo, Five more minutes..."

Sam menghela napas pura-pura kesal. "You drive a hard bargain, but how about this—I'll make breakfast?"

Mataku langsung berbinar, dan aku duduk tegak. "Now, that's an offer I can't refuse!"

Aku menyandarkan punggungku ke headboard, menatap Sam yang bangkit dari tempat tidur dan meregangkan tubuhnya. Otot-otot di lengannya menegang, dan aku tanpa sadar tersenyum sendiri, mengagumi pria berusia 52 tahun yang terlihat lebih fit dari kebanyakan pria 30-an. 

Sam menoleh ke arahku, menyadari tatapan yang kuberikan. "What?" tanyanya, menyipitkan mata curiga. 

Aku pura-pura menggeleng, tapi kemudian mengaku dengan nada jahil, "Just appreciating the view." 

Dia berjalan mendekat, lalu menjentik hidungku pelan. "You little pervert," gumamnya dengan nada menggoda. 

Aku tertawa dan mengangkat bahu. "I mean, are you sure you're 52? 'Cause honestly, you don't look a day over 40."

Sam terkekeh, lalu duduk di tepi tempat tidur, menatapku dengan tatapan menantang. "Well, if you don't believe me, I can always show you my documents. Passport, birth certificate, driver's license—take your pick."

Aku tertawa lebih keras. "No need, I'll take your word for it."

Sam mengusap pipiku sebentar sebelum berdiri lagi. "Alright, what do you want for breakfast?"

Aku memiringkan kepala, berpura-pura berpikir keras sebelum menjawab, "Anything, as long as it's your cooking. I miss your food."

Dia tersenyum penuh kemenangan. "I like the sound of that."

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang