Sudah sebulan sejak malam makan malam itu—malam di mana aku dan Sam membicarakan pernikahan Meryl. Waktu berjalan cepat, dan kini Sam sedang berada di Boston menghadiri pernikahan Meryl.
Awalnya, dia bersikeras ingin membawaku ikut serta. Bahkan, dia hampir membatalkan keberangkatannya karena masalah visaku yang tak kunjung beres. Aku sampai harus mendorongnya pergi, meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja di Jakarta. Lagi pula, kantor sedang sibuk-sibuknya dengan proyek baru, dan aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja.
Awalnya, aku merasa akan kesulitan menjalani hari-hari tanpa Sam di dekatku. Kami sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama, bahkan hanya sekadar makan malam atau duduk di sofa membicarakan hal-hal random. Namun, ternyata kesibukanku di kantor membuatku hampir tidak punya waktu untuk merindukannya—hampir.
Hari-hari tanpa Sam terasa lebih sibuk dari yang kuduga. Aku tenggelam dalam pekerjaan, meeting tanpa henti, deadline yang menumpuk, dan revisi yang tiada habisnya. Aku bahkan jarang sempat mengecek ponselku, apalagi menelepon Sam. Sesekali, dia mengirim pesan atau menelepon, tapi seringnya aku hanya bisa membalas singkat atau bahkan melewatkannya begitu saja.
Selama hampir dua minggu Sam di Boston, aku begitu sibuk dengan pekerjaanku hingga rasanya sulit berkomunikasi dengannya. Proyek baru di kantor menyita hampir seluruh waktuku. Ditambah lagi, ada perubahan besar di divisi tempatku bekerja—ketua divisi baru.
Namanya Vincent. Umurnya sekitar 30-an, mungkin tidak jauh dari Niko. Dia pria yang cukup menarik dengan wajah yang selalu terlihat ramah. Sejak awal menjabat, dia sangat perhatian pada semua anggota timnya.
Hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Sibuk. Aku sedang mengetik laporan dengan kecepatan penuh ketika tiba-tiba secangkir kopi muncul di sampingku. Aku menoleh, sedikit terkejut melihat Vincent berdiri di sana dengan senyum santainya.
"Figured you could use this," katanya, meletakkan cangkir kopi di mejaku.
Aku mengerjap, butuh beberapa detik untuk mencerna apa yang terjadi. "Oh, uh... thank you, sir."
Vincent terkekeh. "Sir? Come on, just call me Vincent. No need to be so formal."
Aku mengangguk canggung. "Okay... Vincent. Thanks for the coffee."
Dia hanya mengangguk sebelum berbalik dan berjalan pergi, meninggalkanku yang masih sedikit bingung. Aku tidak terlalu memikirkan kejadian itu sampai Niko tiba-tiba muncul di sampingku, melipat tangan di dada dengan ekspresi menyelidik.
"Interesting."
Aku menghela napas dan meliriknya sekilas. "Apanya yang interesting?"
Niko mencondongkan tubuhnya ke meja kerjaku, berbisik dramatis, "Vincent. He likes you."
Aku tertawa kecil, menggeleng. "Oh, come on. That's just him being nice."
Niko mengangkat alis, lalu menunjuk cangkir kopi di mejaku. "Kamu sadar nggak, dia nggak pernah nganterin kopi ke meja siapa pun di kantor ini selain kamu?"
Aku mendecakkan lidah. "You're overthinking."
Niko memutar mata. "No, you are underthinking."
Aku mendesah, kembali fokus pada layar laptopku. "Vincent is just being friendly. Besides, I don't have time for this. Pekerjaan numpuk, Sam belum pulang, dan aku bahkan belum sempat istirahat dengan benar."
Begitu nama Sam keluar dari mulutku, Niko mendecak. "Aha! So you do miss him."
Aku menoleh tajam. "Of course i miss him Nik."
Niko menyeringai. "You didn't have to."
Aku hanya menggeleng sambil kembali bekerja, memilih untuk mengabaikan Niko yang masih menatapku dengan ekspresi jahilnya. Aku tidak bisa memikirkan hal-hal lain saat ini, apalagi tentang Vincent.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
