Aku bangun lebih awal dari biasanya pagi ini. Entah kenapa, aku merasa perlu melakukan sesuatu yang bisa mengalihkan pikiranku.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian kerja, aku memutuskan untuk membuat sarapan sederhana—hanya roti panggang dengan sedikit selai, telur orak arik dan secangkir kopi hitam. Tidak ada suara musik atau podcast yang biasa kuputar di pagi hari, hanya kesunyian yang terasa sedikit menyedihkan.
Saat aku baru saja mengeluarkan roti dari pemanggang, dan aroma roti yang baru matang memenuhi apartemen, tiba-tiba bel pintuku berbunyi. Jantungku langsung berdegup kencang. Mungkinkah itu Sam? Apakah dia akhirnya datang untuk berdamai?
Dengan setengah berlari, aku menuju pintu dan segera membukanya. Namun, alih-alih Sam, yang berdiri di depan pintuku adalah Niko.
"Morning, sunshine!" katanya ceria sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Aku hanya bisa mendesah kecil. Rasa kecewa yang muncul membuatku sadar betapa aku masih berharap Sam akan datang.
Aku menghela napas panjang, sedikit kecewa, tapi berusaha menyembunyikannya. "Ngapain kamu pagi-pagi ke sini?"
Tanpa menjawab pertanyaanku dia melirik ke dalam apartemenku, "I smell something." dan tanpa malu-malu langsung masuk ke apartemenku tanpa ku persilahkan.
"Oh, You made breakfast! Good, aku lapar!" Seru Niko yang menemukan Roti yang baru saja matang di piringku.
Aku hanya bisa menggeleng pelan, menatapnya yang dengan santai mengambil sepotong roti panggang dari piringku dan mulai menyantapnya.
"Mmmm... Anna, you were destined to be a good wife, unfortunately Sam was too blind to realize that," katanya sambil mengunyah roti yang dia ambil tanpa izin.
" I thought you'd be too heartbroken to cook."
Aku memutar mata dan duduk di kursi seberangnya. "I'm not heartbroken."
Niko mengangkat alisnya skeptis. "Yeah, sure. That's why you look like a woman who hasn't had a proper sleep in days."
Aku mendelik, tapi tidak benar-benar marah. "Kalau kamu datang cuma buat makan, sama ngejek aku, mending aku suruh satpam usir kamu dari sini."
Niko tertawa. "Please, You need me. Kalau enggak, kamu bakal jadi cewek melankolis yang dengerin lagu galau seharian."
Aku mendengus, tapi diam-diam aku tahu dia ada benarnya. Setelah hubunganku dengan Sam mulai merenggang, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Niko—lebih tepatnya, Niko yang tidak memberiku pilihan dengan terus datang.
Menurutnya, aku adalah tanggung jawabnya. Dialah yang dulu meyakinkan orang tuaku agar aku pindah dari Medan ke Jakarta untuk meneruskan karierku. Dan sekarang, katanya, dia tidak akan membiarkanku "terpuruk" hanya karena satu pria.
"So," kata Niko sambil mengunyah roti, "Kamu sama Sam masih belum bicara?"
Aku mengangkat bahu. "Yah, mungkin antara kami emang sudah selesai."
Niko menatapku sejenak sebelum kembali makan. "Are you sure? Memangnya masalah kalian sebesar apa? sampai mutusin untuk udahan, Sampai-sampai Sam nggak masuk kantor. Padahal dia selalu rajin ke kantor, tapi sejak kalian ribut, dia malah milih kerja dari rumah."
Aku diam. Aku tidak menyangka Sam benar-benar tidak ke kantor sejak kami bertengkar yang ku tahu dia hanya melakukan business trip karna keperluan kantor.
Niko menghela napas. "Sayang sih, tapi ya, apa boleh buat."
***
Saat kami selesai sarapan dan bersiap berangkat ke kantor, kami berjalan melewati unit apartemen Sam. Aku tidak berniat berhenti, tapi Niko dengan usil menyikut lenganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
