Anna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
Hari-hari setelah kembali ke Jakarta setelah perjalanan kami di Malaysia terasa seperti realitas yang kembali menamparku. Semua rutinitas kembali berjalan seperti biasa—pekerjaan, rapat, dan interaksi profesional di kantor.
Namun, ada sesuatu yang berbeda sekarang. Hubungan antara aku dan Sam telah berubah, meskipun di depan semua orang kami tetap menjaga jarak dan berperan sebagai atasan dan bawahan yang biasa saja.
Hari ini, suasana kantor cukup sibuk. Semua orang fokus menyelesaikan proyek yang tertunda. Aku tenggelam dalam pekerjaanku, sesekali melirik ke ruangan Sam melalui kaca jendelanya. Dia tampak serius, membolak-balik dokumen dengan ekspresi penuh konsentrasi.
Lalu saat aku sedang merapikan meja kerjaku ketika Niko, yang baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya, menghampiriku. Wajahnya tampak ceria seperti biasanya, meskipun aku tahu beberapa hari lalu hubungan kami sempat memanas karena kesalahpahaman.
"Anna, ada waktu malam ini?" tanyanya sambil menyandarkan diri di dinding dekat mejaku.
Aku mendongak dan mengerutkan kening. "Malam ini? Aku nggak tahu, Niko. Aku biasanya pulang Sam"
"Kenapa?" tambahku.
Niko tersenyum kecil. "Aku mau ngajak kamu makan malam. Consider it my apology karena kita sempat... ya, tahu sendiri, suasana nggak enak waktu kamu di Malaysia."
Aku menghela napas, merasa canggung. "Niko, aku nggak apa-apa kok. Beneran. Kamu nggak perlu merasa bersalah."
"Tapi aku mau, Anna," desaknya. "Kalau cuma masalah anterin pulang, Kan aku juga bisa nganterin kamu pulang."
Aku menggeleng pelan. "Makasih, Nik. Tapi aku udah janji mau pulang bareng Sam hari ini."
Dia tampak kecewa, tapi kemudian matanya berbinar seolah menemukan ide. "Kalau gitu, aku ajak Sam juga. Biar kita bertiga aja. Gimana?"
Aku menahan napas, berusaha mencari alasan lain, tapi sebelum aku sempat menjawab, Niko sudah berjalan menuju ruangan Sam.
Aku menyusul Niko dengan cepat, masuk ke ruangan Sam. Dia sedang duduk di meja, tampak sedikit bingung melihat kedatangan Niko yang tiba-tiba.
"Ada apa, Nic?" tanya Sam, suaranya tenang tapi tegas seperti biasa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Niko tersenyum santai. "Aku mau ajak Anna makan malam. Tapi dia bilang dia udah janji pulang bareng kamu. Jadi, aku pikir kenapa nggak kita bertiga aja?"
Sam mengerutkan kening, nampak tidak tertarik dengan ide itu. "Terima kasih, atas undangannya Niko, tapi sepertinya aku harus nolak. Ada urusan di rumah yang harus aku selesaikan." ujarnya sambil berdiri mengenakan jasnya bersiap untuk pulang
"Ah, ayolah, Sam," bujuk Niko. "Sekali ini aja. Anggap aja refreshing after perjalanan kemarin."
Sam masih tetap kukuh dengan keputusannya, tapi aku yang berdiri di belakang Niko memutuskan untuk turun tangan. Aku berjalan ke samping Sam dan menarik pergelangan jasnya dengan lembut.