“Anna, please calm down,” katanya. “Let me explain.”
Aku menatapnya tajam. “Explain what? That you—”
“She is Mary,” Sam memotong sebelum aku bisa melanjutkan tuduhanku. “Or Meryl, as I call her. She’s my sister.”
Aku mengerutkan kening, masih belum bisa memproses informasinya. “Your sister?”
Sam mengangguk. “Yeah. She got married a few months ago, remember? She’s here for a vacation with her husband, but apparently, her husband is arriving late. That’s why I picked her up."
Aku berkedip beberapa kali, mencoba mencerna kata-katanya. “So… she’s really your sister?”
Meryl—atau Mary—mendecak kesal sambil melipat tangan di depan dada. “Yes! I’m his sister! And who the hell are you to slap my brother?”
Aku langsung merasa malu.
Sementara itu, Niko di belakangku malah tertawa pelan dan berbisik, “Damn, Anna. that was dramatic. You just slapped your boyfriend for hugging his sister. You really went full-on telenovela mode there.”
Aku melirik Niko dengan tajam. "I hate you, Kamu nggak membantu sama sekali, tahu nggak?” gerutuku kesal.
Niko mengangkat bahunya dengan ekspresi puas. “I love you too, bestie.”
Aku menggigit bibir bawahku. Oh, aku benar-benar ingin menghilang sekarang.
Aku merasa darah di wajahku turun drastis, meninggalkan sensasi panas karena malu. Aku baru saja menampar pacarku sendiri di depan adiknya. Aku melirik Meryl yang masih menatapku dengan ekspresi terkejut dan kesal.
Sam menghela napas panjang, menatapku dengan tatapan campuran antara kebingungan dan ketidakpercayaan. “Anna, what the hell was that?”
Aku menggigit bibir, mencari alasan yang masuk akal. Tapi bagaimana bisa aku menjelaskan kalau aku baru saja terbakar cemburu karena salah paham? Aku mengalihkan pandangan, menolak menatapnya langsung.
“Well… I just…” Aku terdiam. Tidak ada alasan yang bisa membuatku tidak terlihat seperti orang gila.
Mary mendengus, masih menyilangkan tangan di dadanya. “I can’t believe this. I just landed, and this is the welcome I get?”
Sam memijat pelipisnya seolah mencoba menahan kesabarannya. “Anna, aku tahu kamu temperamental, but really? You didn’t even ask first?”
Niko, yang sedari tadi menikmati drama ini, akhirnya bersuara. “To be fair, it did look suspicious,” katanya santai, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “And also, you kind of deserved that slap for not telling her beforehand.”
Sam melotot ke arah Niko. “Whose side are you on?”
Dia hanya mengangkat bahu, tetap dengan senyum menyebalkannya.
Sam menghembuskan napas panjang, lalu menatapku. Kali ini nadanya lebih lembut. “Anna, you know I would never—”
Aku buru-buru mengangkat tangan, menginterupsi. “I know, I know. I overreacted.”
Sam menatapku sejenak, lalu mengangguk. “Ya, you did.”
Aku meringis, lalu melirik Mary yang masih menatapku seperti aku ini alien. “I’m sorry,” kataku cepat.
Mary memutar matanya. “Well, at least you have the guts to apologize. But seriously, how do you even know my brother?”
Sam terkekeh kecil, meskipun bekas tamparanku masih jelas di pipinya. “She’s Anna, my girlfriend.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
