Aku menatap layar komputer dengan fokus, mencoba menyelesaikan desain yang baru saja dilemparkan kepadaku. Salah satu anggota tim kami tiba-tiba mengundurkan diri, dan aku mendapat tugas tambahan untuk menyelesaikan proyeknya. Ini bukan pertama kalinya aku harus menangani pekerjaan mendadak, tapi tetap saja, rasanya sedikit melelahkan.
Vincent dan Niko pulang lebih awal hari ini karena ada jadwal futsal kantor. Biasanya, kalau aku lembur, salah satu dari mereka pasti menemani, entah hanya sekadar ngobrol atau membawakanku camilan. Tapi kali ini, aku sendirian.
Awalnya, aku mengerjakan desain ini bersama Sylvia dan Bambang. Kami bertiga cukup kompak dalam membagi tugas. Namun, sekitar pukul sembilan malam, mereka berpamitan pulang lebih dulu.
"Maaf ya, aku harus buru-buru. Kalau ketinggalan kereta terakhir, aku bisa mati gaya di stasiun," kata Sylvia sambil mengemasi barangnya.
Bambang mengangguk setuju. "Sama, aku juga harus pulang. Udah cukup kena marah istri gara-gara pulang telat terus, hahaha."
Aku hanya tersenyum memahami. "It's okay, guys. Thanks for the help. Aku juga nggak bakal lama lagi."
Setelah mereka pergi, aku kembali fokus pada desainku. Aku tahu aku bisa saja melanjutkan ini besok pagi, tapi entah kenapa, aku lebih suka menyelesaikannya sekarang. Lagipula, apartemenku tidak jauh dari kantor, jadi aku tidak perlu khawatir soal transportasi. Jadi daripada pulang dan hanya berbaring di kasur menatap langit-langit, lebih baik aku menyelesaikan proyek ini. Hitung-hitung membunuh waktu.
Aku kembali fokus, jari-jariku bergerak di atas keyboard, mengedit beberapa elemen desain. Musik instrumental yang mengalun dari earphone sedikit membantuku untuk tetap terjaga dan fokus.
Tanpa kusadari, waktu berlalu begitu cepat. Saat aku melirik jam di sudut layar, aku terkejut melihat angka yang tertera di sana. Hampir jam sepuluh malam. Kantor sudah sangat sepi, hanya tersisa beberapa lampu yang menyala di beberapa sudut ruangan. Aku meregangkan tubuh, merasa sedikit pegal setelah duduk terlalu lama. Aku butuh kopi sebelum menyelesaikan finishing terakhir.
Aku bangkit dan berjalan ke pantry. Saat aku sampai di sana, aku langsung menuju mesin kopi dan mulai membuat segelas kopi hitam. Setelah itu, aku duduk di salah satu meja, mengaduk kopiku perlahan sambil menatap kosong ke cangkir.
Baru saja aku akan menyeruput kopiku, suara langkah seseorang terdengar mendekat. Aku mendongak, dan mataku langsung bertemu dengan sosok yang sama sekali tidak aku duga.
Sam.
Aku hampir tidak pernah melihatnya di kantor pada jam segini, bahkan pada jam normal. Dia lebih sering pulang lebih awal atau bahkan tidak ada di kantor sama sekali karena perjalanan bisnisnya yang sibuk. Tapi sekarang, dia ada di sini, berdiri di depan pantry dengan ekspresi datarnya yang sulit ditebak.
"You're still here?" tanyanya santai sambil membuka lemari untuk mengambil gelas.
Aku mengangguk kecil. "Yeah, got some extra work to finish. What about you, Mister Hennessy?"
Sam yang sedang menuangkan kopi ke dalam gelasnya tiba-tiba menoleh padaku dengan ekspresi sedikit menyebalkan. "You can drop the 'Mister Hennessy' thing. You never called me that before."
Aku sedikit terdiam sebelum menghela napas. "It's just... a habit. Lagipula kita lagi di kantor, And you're my boss."
Sam mengangkat alisnya sambil menyandarkan tubuhnya ke meja, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "That never stopped you before."
Aku memilih mengabaikan ucapannya dan kembali menyesap kopiku. Suasana di pantry terasa sedikit aneh—bukan tegang, tapi juga bukan santai.
Beberapa saat berlalu tanpa ada yang berbicara, sampai akhirnya Sam membuka suara. "So... dated Vincent, huh?"
Aku langsung menoleh ke arahnya dengan dahi berkerut. "What? dated Vincent?"
Sam mengangkat bahunya, pura-pura santai. "You seem... close."
Aku mendesah pelan. "We work together, of course we're close."
Sam tersenyum miring. "Oh? So, inviting him to your apartment is part of 'working together' now?"
Aku membeku sejenak sebelum akhirnya sadar apa yang dia maksud. Tentu saja. Karna dia melihatku dan Vincent kemarin.
Aku menegakkan bahu, mencoba tetap tenang. "I don't see how that concerns you, Mister Hennessy."
Sam mendecak pelan. "Really? We ran into each other right in front of your apartment, and you expect me not to notice?"
Aku menatapnya tajam. "What are you trying to say?"
Sam menyilangkan tangan di dadanya, ekspresinya masih sulit ditebak. "Nothing. Just wondering how quickly you moved on."
Darahku langsung naik ke kepala. "Excuse me?"
Sam tetap tenang, tapi aku bisa melihat sorot matanya yang penuh sindiran. "It's just funny, that's all."
Aku tertawa sinis. "Oh, it's funny? What, you think I should be crying over you forever?"
Sam terdiam, tapi aku bisa melihat rahangnya mengencang.
Aku menggeleng, berusaha menahan emosiku. "You have no right to say anything about my personal life, Sam. You made your choice, remember?"
Aku berbalik, ingin segera pergi sebelum perdebatan ini semakin panjang. Tapi sebelum aku bisa melangkah lebih jauh, tiba-tiba aku merasakan tangan Sam menahan pergelangan tanganku.
Aku membeku.
Tangannya terasa hangat di kulitku, dan untuk beberapa detik, aku tidak bisa bergerak.
Aku menatap Sam tajam, mencoba menarik tanganku, tetapi genggamannya semakin erat.
"What exactly is your relationship with Vincent?" suaranya terdengar lebih dalam, lebih menekan.
Aku menghela napas, mencoba tetap tenang. "I already answered that, Sam. There's nothing between us."
Sam mendecak, ekspresinya seolah tidak percaya. "Really? Because it sure didn't look like nothing when I saw him at your apartment."
Aku menggeleng pelan, merasa lelah dengan pembicaraan ini. "He came for dinner, that's it. Why are you making a big deal out of this?"
Sam tertawa sinis, tapi tatapannya tetap tajam. "You expect me to believe that?"
Aku mulai kehilangan kesabaran. "What the hell is your problem, Sam?"
Sam mendekat, suaranya semakin rendah, penuh dengan tuduhan. "Did you sleep with him?"
Aku membelalakkan mata, jantungku seketika berdebar kencang.
"What?" suaraku hampir bergetar, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
Sam tetap menatapku tanpa berkedip. "Did. You. Sleep. With. Him?"
Tanpa berpikir panjang, tanganku terangkat, siap menamparnya.
Namun sebelum tanganku bisa mendarat di wajahnya, Sam dengan cepat menangkap pergelangan tanganku, menghentikan gerakanku.
Aku terkejut, bukan hanya karena refleksnya yang cepat, tetapi juga karena betapa dekatnya kami sekarang.
Aku bisa melihat rahangnya mengeras, napasnya sedikit memburu. Matanya yang tajam menatapku dalam-dalam, seolah menantangku untuk mengatakan sesuatu.
Jarak di antara kami begitu dekat, aku bahkan bisa merasakan hangatnya tubuhnya.
Dadaku naik turun, masih dipenuhi amarah. "Let me go, Sam," bisikku.
Tapi Sam tidak langsung melepaskanku. Dia hanya menatapku, ekspresinya sulit diartikan—antara marah, frustrasi, atau mungkin... sesuatu yang lain.
Aku bisa merasakan panas dari tubuhnya, aroma parfumnya yang maskulin dan familiar menguar di udara di antara kami.
"Answer me first," desaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomansAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
