the daughter and best friend

127 11 2
                                        

Kami menikmati makan malam kami, Tata menatap Sam dengan senyum geli sambil memotong steak yang dia pesan lalu menoleh ke arahku. "Since when did you start dating my dad?"

Aku menelan ludah. "Uh... sekitar setahun ini?"

Tata mengerjap. "And you never told me?"

Aku mengangkat bahu, merasa sedikit bersalah. "Aku sudah bilang pacarku namanya Sam, kan?"

Tata melotot. "Anna! Kamu tahu berapa banyak orang yang namanya Sam di dunia ini?!"

Aku mendesah. "I didn't know that the Sam I was dating was your Dad, Tata. I swear."

Tata mendengus, Niko masih menatap kami bergantian, mencoba mencari logika dalam situasi ini. "Wait... How did I never know this? Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau ayah kandungmu adalah Samuel Hennessy?"

Tata mengangkat bahu. "Because I never considered him as part of my life? Aku tumbuh besar dengan paman dan bibiku di Batam, sementara dia, setelah Mama meinggal sibuk merana."

Aku bisa merasakan Sam menghela napas di sebelahku. Ada ketegangan tipis di wajahnya, tapi dia tidak langsung bereaksi.

"That's fair," kata Sam akhirnya. "I'm not in your life like I should be."

Tata memutar matanya. "Please don't go all sentimental on me, Dad. Its okay. Aku sudah tau alasannya dari Mami dan Papi so, I'm not bothered at all. Besides, you've tried to get me to live with you several times."

"But forget about that" tambah Tata, lalu mencondongkan tubuhnya ke meja, menatapku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. "So, spill. How the hell did this happen?"

Aku menghela napas, bersiap menceritakan semuanya. "Well... it all started when I moved into the apartment..."

Tata menopang dagunya dengan kedua tangan, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Niko hanya bersandar di kursinya, terlihat siap menikmati drama yang sedang berlangsung. Sementara itu, Sam tetap diam di sampingku, sesekali melirik ke arah Tata dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Aku mulai menjelaskan, tidak secara mendetail, tapi cukup untuk Tata memahami bagaimana aku dan Sam bisa sampai ke titik ini. Aku menceritakan bagaimana awalnya aku hanya menganggapnya sebagai tetangga yang misterius, lalu bagaimana kehadirannya mulai mengganggu pikiranku.

Aku bercerita tentang pertemuan-pertemuan tak terduga, obrolan sarkastis, pertengkaran kecil yang justru membuat kami semakin dekat. Tentang bagaimana aku akhirnya menyadari perasaanku, bagaimana aku mengungkapkannya, dan bagaimana Sam sempat menolakku-karena alasan yang sama yang sekarang membuatnya terlihat sedikit gelisah.

"Sam was so damn insecure about our age gap," aku berkata sambil menoleh ke Tata, mataku sekilas melirik Sam yang hanya bisa menghela napas.

Tata menaikkan alis. "Really, Dad?"

Sam hanya mengangkat bahu. "What? It's a reasonable concern."

Aku mendecak. "Yeah, sure. Tapi itu tetap nggak menghentikan dia untuk cemburu setengah mati waktu aku dekat dengan pria lain."

Tata terkikik, jelas menikmati cerita ini. "Oh my God, Dad, seriously?"

Sam menatapku seolah meminta belas kasihan, tapi aku hanya menyeringai kecil.

"Lalu, setelah drama panjang, dia akhirnya sadar kalau dia nggak bisa terus lari dari perasaannya sendiri," lanjutku, suaraku melembut saat mengingat momen di mana Sam akhirnya menyerah pada penyangkalannya. "And then, here we are. And then he asked me to spend the rest of my life with him"

Tata menghela napas pelan, menatap ayahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "I still can't believe this," gumamnya. "I mean... you, Dad? Falling in love again after all these years? Dan yang lebih mengejutkan with my best friend?"

Dear SamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang